Jakarta: Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menegaskan bahwa menginisiasi pengiriman tiga pengukir asal Jepara untuk merestorasi ornamen kayu Masjid Istiklal di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, bukan sekadar untuk melakukan pekerjaan teknis.
Langkah itu merupakan diplomasi budaya yang bekerja dari akar keterampilan masyarakat dan merawat warisan bangsa yang telah hadir di luar negeri sejak puluhan tahun lalu.
Sulaiman Ćatić (50), warga Sarajevo yang telah tujuh tahun bekerja di bagian pengadaan kebutuhan Masjid Istiklal Sarajevo mengapresiasi upaya yang dilakukan Lestari.
Dia mengungkapkan bahwa masyarakat di Sarajevo, sudah lama mengetahui peran Indonesia dalam pembangunan masjid di kawasan Otoka, Sarajevo ini.
Dalam khutbah Jumat, ujar Sulaiman, sudah berkali-kali disampaikan bahwa Masjid Istiklal dan ornamen ukir di dalamnya merupakan bantuan masyarakat Indonesia.
“Diplomasi budaya bukan sekadar kerja sama antarpemerintah. Ketika mendatangkan pengukir Jepara untuk merestorasi karya bersejarah Indonesia di Sarajevo, kita sedang menunjukkan bahwa warisan bangsa memiliki nilai yang diakui lintas negara,” ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, dalam keterangan tertulis, Senin (19/10).
Tiga pengukir dari Jepara Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo saat ini tengah melakukan perbaikan ornamen ukir di Masjid Istiklal Sarajevo yang merupakan bagian dari jejak budaya Indonesia di Bosnia.
Ornamen yang direstorasi merupakan karya pengukir Jepara pada puluhan tahun silam, bagian dari hadiah Presiden ke-3 RI BJ Habibie untuk Bosnia dan Herzegovina.
Kerusakan yang ditangani cukup berat. Enam pilar berukir berbahan kayu jati memerlukan penggantian menyeluruh karena kondisinya tidak memungkinkan diperbaiki dengan metode penambalan. Restorasi juga mencakup bagian tangga dan hiasan dinding masjid.
Baca Juga :
Dorong Pelestarian Kesenian Emprak, Rerie: Restorasi Indonesia Harus Berakar pada Kebudayaan
Misi ini berawal dari kunjungan Lestari ke Bosnia pada Februari 2026. Dalam rangkaian diplomasi untuk memperkuat pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, ia menemukan sejumlah ornamen Masjid Istiklal mengalami kerusakan.
Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu kemudian menawarkan bantuan restorasi yang disambut baik pengelola masjid. Delapan bulan setelah kunjungan itu, komitmen tersebut diwujudkan melalui keberangkatan para pengukir.
Bagi Rerie, keberadaan ukiran Jepara di Sarajevo membuktikan bahwa keterampilan tradisional Indonesia memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering disadari.
Hal ini juga menunjukkan bahwa warisan budaya bukan benda mati yang hanya dipajang, melainkan jejak peradaban yang harus terus dirawat agar generasi berikutnya mengenali akar identitasnya.
“Fakta bahwa ukiran Jepara telah hadir di Sarajevo sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa keterampilan tradisional kita memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering kita sadari. Ini adalah warisan bangsa yang harus kita rawat bersama,” ujar Rerie.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menilai, restorasi tersebut memperlihatkan bagaimana diplomasi budaya dapat berlangsung melalui tindakan konkret: memperbaiki peninggalan sejarah dengan melibatkan keterampilan masyarakat yang mewarisinya.
Pendekatan itu sejalan dengan prinsip pembangunan manusia yang tidak hanya dibangun dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kemampuan merawat jejak peradaban.
Keberhasilan pengukir Jepara di Sarajevo, menurut Lestari, membuka jalan bagi upaya memperkenalkan warisan budaya Indonesia lainnya ke dunia
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI,
Lestari Moerdijat menegaskan bahwa menginisiasi pengiriman tiga pengukir asal Jepara untuk merestorasi ornamen kayu Masjid Istiklal di Sarajevo,
Bosnia dan Herzegovina, bukan sekadar untuk melakukan pekerjaan teknis.
Langkah itu merupakan diplomasi budaya yang bekerja dari akar keterampilan masyarakat dan merawat warisan bangsa yang telah hadir di luar negeri sejak puluhan tahun lalu.
Sulaiman Ćatić (50), warga Sarajevo yang telah tujuh tahun bekerja di bagian pengadaan kebutuhan Masjid Istiklal Sarajevo mengapresiasi upaya yang dilakukan Lestari.
Dia mengungkapkan bahwa masyarakat di Sarajevo, sudah lama mengetahui peran Indonesia dalam pembangunan masjid di kawasan Otoka, Sarajevo ini.
Dalam khutbah Jumat, ujar Sulaiman, sudah berkali-kali disampaikan bahwa Masjid Istiklal dan ornamen ukir di dalamnya merupakan bantuan masyarakat Indonesia.
“Diplomasi budaya bukan sekadar kerja sama antarpemerintah. Ketika mendatangkan pengukir Jepara untuk merestorasi karya bersejarah Indonesia di Sarajevo, kita sedang menunjukkan bahwa warisan bangsa memiliki nilai yang diakui lintas negara,” ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, dalam keterangan tertulis, Senin (19/10).
Tiga pengukir dari Jepara Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo saat ini tengah melakukan perbaikan ornamen ukir di Masjid Istiklal Sarajevo yang merupakan bagian dari jejak budaya Indonesia di Bosnia.
Ornamen yang direstorasi merupakan karya pengukir Jepara pada puluhan tahun silam, bagian dari hadiah Presiden ke-3 RI BJ Habibie untuk Bosnia dan Herzegovina.
Kerusakan yang ditangani cukup berat. Enam pilar berukir berbahan kayu jati memerlukan penggantian menyeluruh karena kondisinya tidak memungkinkan diperbaiki dengan metode penambalan. Restorasi juga mencakup bagian tangga dan hiasan dinding masjid.
Misi ini berawal dari kunjungan Lestari ke Bosnia pada Februari 2026. Dalam rangkaian diplomasi untuk memperkuat pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, ia menemukan sejumlah ornamen Masjid Istiklal mengalami kerusakan.
Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu kemudian menawarkan bantuan restorasi yang disambut baik pengelola masjid. Delapan bulan setelah kunjungan itu, komitmen tersebut diwujudkan melalui keberangkatan para pengukir.
Bagi Rerie, keberadaan ukiran Jepara di Sarajevo membuktikan bahwa keterampilan tradisional Indonesia memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering disadari.
Hal ini juga menunjukkan bahwa warisan budaya bukan benda mati yang hanya dipajang, melainkan jejak peradaban yang harus terus dirawat agar generasi berikutnya mengenali akar identitasnya.
“Fakta bahwa ukiran Jepara telah hadir di Sarajevo sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa keterampilan tradisional kita memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering kita sadari. Ini adalah warisan bangsa yang harus kita rawat bersama,” ujar Rerie.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menilai, restorasi tersebut memperlihatkan bagaimana diplomasi budaya dapat berlangsung melalui tindakan konkret: memperbaiki peninggalan sejarah dengan melibatkan keterampilan masyarakat yang mewarisinya.
Pendekatan itu sejalan dengan prinsip pembangunan manusia yang tidak hanya dibangun dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kemampuan merawat jejak peradaban.
Keberhasilan pengukir Jepara di Sarajevo, menurut Lestari, membuka jalan bagi upaya memperkenalkan warisan budaya Indonesia lainnya ke dunia
(PRI)