Jakarta: Asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla mulai menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Kalimantan, bukan cuma karena titik api yang bermunculan, tetapi juga dampaknya terhadap kualitas udara yang dihirup masyarakat. Kondisi ini makin perlu diperhatikan ketika sebagian wilayah Kalimantan sedang menghadapi periode cuaca yang relatif kering.
Berdasarkan pantauan IQAir pada Sabtu, 22 Agustus 2026, kualitas udara di Pontianak, Kalimantan Barat, mencapai AQI 255 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 180 µg/m³, yang masuk kategori Sangat Tidak Sehat. Posisi tersebut menjadi yang paling tinggi dibandingkan sejumlah kota Kalimantan lain yang tercatat dalam pemantauan pada periode yang sama.
Angka tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi partikulat halus di udara, sementara IQAir menggunakan indeks AQI⁺ US untuk menggambarkan tingkat pencemaran berdasarkan sejumlah polutan, termasuk PM2.5.
Kota Lain Juga Ikut Terdampak
Pontianak bukan satu-satunya kota di Kalimantan yang mengalami penurunan kualitas udara. Sejumlah kota lain juga tercatat berada dalam kategori tidak sehat hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif, di tengah kondisi kemarau dan masih terpantau titik panas di sejumlah wilayah.
Palangkaraya mencatat AQI 175 dengan PM2.5 sebesar 89,5 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat, sedangkan Singkawang berada di angka AQI 164 dengan PM2.5 sebesar 73,7 µg/m³. Sementara itu, Banjarmasin di angka AQI 107 dengan PM2.5 sebesar 38,1 µg/m³ dan Tanjung Selor mencatat AQI 106 dengan konsentrasi PM2.5 sekitar 37,6 µg/m³, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Karhutla dan Kemarau Bikin Kualitas Udara Makin Mengkhawatirkan
Selain dampak dari karhutla, memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan terjadi di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung di banyak daerah Indonesia. Dilansir dari laman BMKG pada Sabtu, 22 Agustus 2026, kondisi cuaca pada periode 18-24 Agustus 2026 masih didominasi cuaca relatif kering, sementara titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau terutama di Kalimantan dan Papua.
Kondisi tersebut juga sejalan dengan data BMKG yang mencatat 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026. Pada periode yang sama, 90,79 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, sementara puncak musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung pada Juli-September, dengan sebagian wilayah Kalimantan diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus.
Kualitas Udara Bisa Berubah, Warga Perlu Waspada
Angka AQI dan PM2.5 bersifat dinamis sehingga dapat berubah dalam waktu singkat mengikuti kondisi angin, cuaca, sumber emisi, serta perkembangan kebakaran di wilayah sekitar.
BMKG juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan karhutla selama periode kering, termasuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan. Masyarakat juga disarankan terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG karena kondisi kemarau masih berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jakarta: Asap
kebakaran hutan dan lahan atau karhutla mulai menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Kalimantan, bukan cuma karena titik api yang bermunculan, tetapi juga dampaknya terhadap kualitas udara yang dihirup masyarakat. Kondisi ini makin perlu diperhatikan ketika sebagian wilayah Kalimantan sedang menghadapi periode cuaca yang relatif kering.
Berdasarkan pantauan IQAir pada Sabtu, 22 Agustus 2026, kualitas udara di Pontianak, Kalimantan Barat, mencapai AQI 255 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 180 µg/m³, yang masuk kategori Sangat Tidak Sehat. Posisi tersebut menjadi yang paling tinggi dibandingkan sejumlah kota Kalimantan lain yang tercatat dalam pemantauan pada periode yang sama.
Angka tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi partikulat halus di udara, sementara IQAir menggunakan indeks AQI⁺ US untuk menggambarkan tingkat pencemaran berdasarkan sejumlah polutan, termasuk PM2.5.
Kota Lain Juga Ikut Terdampak
Pontianak bukan satu-satunya kota di Kalimantan yang mengalami penurunan kualitas udara. Sejumlah kota lain juga tercatat berada dalam kategori tidak sehat hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif, di tengah kondisi kemarau dan masih terpantau titik panas di sejumlah wilayah.
Palangkaraya mencatat AQI 175 dengan PM2.5 sebesar 89,5 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat, sedangkan Singkawang berada di angka AQI 164 dengan PM2.5 sebesar 73,7 µg/m³. Sementara itu, Banjarmasin di angka AQI 107 dengan PM2.5 sebesar 38,1 µg/m³ dan Tanjung Selor mencatat AQI 106 dengan konsentrasi PM2.5 sekitar 37,6 µg/m³, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Karhutla dan Kemarau Bikin Kualitas Udara Makin Mengkhawatirkan
Selain dampak dari karhutla, memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan terjadi di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung di banyak daerah Indonesia. Dilansir dari laman BMKG pada Sabtu, 22 Agustus 2026, kondisi cuaca pada periode 18-24 Agustus 2026 masih didominasi cuaca relatif kering, sementara titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau terutama di Kalimantan dan Papua.
Kondisi tersebut juga sejalan dengan data BMKG yang mencatat 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026. Pada periode yang sama, 90,79 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, sementara puncak musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung pada Juli-September, dengan sebagian wilayah Kalimantan diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus.
Kualitas Udara Bisa Berubah, Warga Perlu Waspada
Angka AQI dan PM2.5 bersifat dinamis sehingga dapat berubah dalam waktu singkat mengikuti kondisi angin, cuaca, sumber emisi, serta perkembangan kebakaran di wilayah sekitar.
BMKG juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan karhutla selama periode kering, termasuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan. Masyarakat juga disarankan terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG karena kondisi kemarau masih berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah.
(Wisa Irena Br Sitepu) Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(ANN)