Imam Purwadi, Kurator Satwa Senior Taman Safari Indonesia – Bogor mengungkapkan Anakan ini merupakan keberhasilan reproduksi kesembilan pasangan Hanum dan Riska. Keberhasilan ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya dapat dirawat oleh induk tanpa bantuan perawatan langsung dari keeper melalui metode hand-raise.
“Keberhasilan reproduksi Elang Jawa yang kesembilan dari pasangan Hanum dan Riska menjadi sebuah pencapaian penting bagi program konservasi kami. Hal yang paling istimewa adalah pada keberhasilan kali ini anakan dapat dirawat secara penuh oleh induknya (parent-reared),” ujar Imam Purwadi, Kurator Satwa Senior Taman Safari Indonesia – Bogor.
Menurut Imam, program konservasi tidak hanya berfokus pada keberhasilan penetasan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada satwa untuk menjalani proses pengasuhan secara alami.
| Baca juga: Gak Perlu Jauh, 1 Jam dari Jakarta Udah Bisa Nikmati Liburan Komplet Seharian Penuh! |
“Bagi kami, ini menunjukkan perkembangan positif dalam program pengembangbiakan,” kata Imam.
Momentum penetasan Elang Jawa ini pun menjadi semakin bermakna di tengah peringatan HUT ke-81 RI Seperti diketahui, Elang Jawa merupakan salah satu satwa endemik Indonesia yang memiliki nilai penting bagi ekosistem dan bagian dari identitas keanekaragaman hayati Indonesia.
Karakteristik Elang Jawa juga kerap dikaitkan dengan sosok Garuda yang menjadi lambang negara Indonesia.
“Di momen kemerdekaan ini, penetasan Elang Jawa menjadi pengingat bahwa menjaga keanekaragaman hayati Indonesia juga merupakan bagian dari menjaga warisan bangsa,” tambah Imam.
| Baca juga: Profil Jansen Manansang, Sosok Pendiri Taman Safari Indonesia |
Bukan Sekadar Menetaskan, tetapi Membiarkan Alam Bekerja
Pasangan Hanum dan Riska sebelumnya sudah berhasil menghasilkan delapan ekor anakan. Pada keberhasilan sebelumnya, keeper memberikan bantuan perawatan sebagai bagian dari upaya memastikan keselamatan dan keberlangsungan hidup anakan.Pada reproduksi yang kesembilan, kondisi indukan memungkinkan proses pengasuhan berlangsung secara penuh oleh induk. Keeper tetap melakukan pemantauan secara intensif, tetapi dengan prinsip minim intervensi.
Pemantauan difokuskan pada kondisi fisik dan perkembangan anakan, aktivitas serta perilakunya, pola pengasuhan induk, kesehatan indukan, dan kondisi lingkungan di sekitar area perkembangbiakan.
| Baca juga: Mengenal Rio, Anak Panda Pertama yang Lahir di Indonesia |
Pendekatan ini memberikan ruang bagi induk untuk menjalankan perilaku pengasuhan secara alami, sekaligus memastikan kondisi anakan dan indukan tetap terpantau dengan baik.
Sementara itu, upaya konservasi Elang Jawa tidak berhenti pada keberhasilan reproduksi, melainkan juga mengembangkan pengelolaan konservasi ex-situ yang mencakup reproduksi terkontrol, kesejahteraan satwa, edukasi, penelitian, serta peningkatan kapasitas pengelolaan satwa liar.
Bagi Taman Safari Indonesia, konservasi bukan sekadar tentang menjaga satwa tetap hidup, tetapi juga memastikan generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk mengenal, memahami, dan mencintai kekayaan alam Indonesia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda