Jakarta: Unggahan mengenai seorang pendaki perempuan yang menggunakan jasa tandu saat berada di Gunung Merbabu menjadi perbincangan di media sosial. Biaya jasa tandu tersebut disebut mencapai Rp14 juta. Peristiwa ini pun memunculkan beragam respons, mulai dari yang mempertanyakan tujuan penggunaan tandu hingga menyoroti aturan jalur pendakian.
Momen tersebut dibagikan akun Instagram @explorependaki. Dalam unggahannya, terlihat seorang perempuan berada di atas tandu yang diangkat oleh beberapa orang di kawasan Gunung Merbabu.
Menurut keterangan unggahan tersebut, perjalanan menggunakan jasa tandu itu menghabiskan biaya hingga Rp14 juta. Di satu sisi, layanan tersebut dinilai dapat menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar yang bekerja sebagai tim tandu.
Namun, di sisi lain, penggunaan jalur Gancik turut menjadi sorotan karena disebut bukan jalur resmi pendakian yang diizinkan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu.
View this post on Instagram
A post shared by Pendaki Gunung Indonesia (@explorependaki)
Jasa Tandu Rp14 Juta Jadi Sorotan
Dalam keterangan unggahannya, @explorependaki menyoroti kejadian pendaki perempuan yang menggunakan jasa tandu dengan tarif Rp14 juta.
Layanan tersebut memberikan kesempatan kerja bagi warga sekitar yang bertugas mengangkat tandu selama perjalanan. Dengan demikian, aktivitas pendakian juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan gunung.
Meski demikian, besarnya biaya yang disebut mencapai Rp14 juta membuat warganet mempertanyakan alasan penggunaan jasa tersebut. Terlebih, pendakian gunung umumnya identik dengan aktivitas berjalan kaki dan menikmati perjalanan menuju puncak.
Jalur Gancik Disebut Bukan Jalur Resmi
Selain biaya jasa tandu, unggahan tersebut juga menyoroti penggunaan jalur Gancik.
Akun @explorependaki menyebut Balai Taman Nasional Gunung Merbabu hanya mengizinkan pendaftaran pendakian melalui lima jalur resmi, yaitu Selo, Suwanting, Wekas, Cuntel, dan Thekelan.
Pendakian melalui Gancik tanpa izin disebut berpotensi dianggap ilegal karena tidak termasuk jalur resmi yang disebutkan dalam unggahan tersebut.
Hal ini kembali mengingatkan pendaki untuk memastikan jalur yang digunakan telah memperoleh izin dari pengelola kawasan. Ketentuan jalur pendakian perlu diperhatikan agar aktivitas wisata alam tetap sesuai aturan dan mengutamakan keselamatan.
Komentar Warganet: Pertanyakan Tujuan hingga Esensi Mendaki
Unggahan tersebut turut memancing beragam komentar dari pengguna Instagram. Sebagian warganet mengaku penasaran dengan alasan pendaki perempuan tersebut memilih menggunakan jasa tandu.
Akun @ev*** misalnya, mempertanyakan tujuan di balik penggunaan layanan tersebut.
"Kok terasa aneh,?! apa ya tujuan beliaunya mungkin bisa dijelasin jadi kepo!" tulisnya.
Di sisi lain, akun @ald*** menilai penggunaan jasa porter untuk membawa barang bawaan lebih masuk akal dibandingkan menggunakan tandu. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai risiko keselamatan selama perjalanan.
"Kalo gue jadi org have jg mending sewa porter buat bawain barang2 trs gue jln bawa badan doang, kalo capek ngaso ga mesti di buru2in jg sm team, kalo di tandu gitu ngeri patah apa ga gelinding ke bawah langsung nanti," tulisnya.
Sementara itu, akun @kak*** menyoroti esensi kegiatan mendaki gunung. Menurutnya, aktivitas tersebut seharusnya menjadi hobi atau kebutuhan, bukan sekadar ajang pamer maupun mencari validasi.
"Esensi naik gunung nya jadi hilang, bukan jadi hobi/kebutuhan tapi ajang pamer ajang haus validasi. Iya bener uang dia suka suka dia, tapi tujuannya apa?" tulis akun tersebut.
Beragam komentar itu memperlihatkan respons warganet yang berbeda-beda terhadap penggunaan jasa tandu di Gunung Merbabu. Mulai dari rasa penasaran, candaan, kekhawatiran keselamatan, hingga perdebatan mengenai makna kegiatan mendaki gunung.
(Ellen Octovia Suherman)
Jakarta: Unggahan mengenai seorang pendaki perempuan yang menggunakan jasa tandu saat berada di Gunung Merbabu menjadi perbincangan di media sosial. Biaya jasa tandu tersebut disebut mencapai Rp14 juta. Peristiwa ini pun memunculkan beragam respons, mulai dari yang mempertanyakan tujuan penggunaan tandu hingga menyoroti aturan jalur pendakian.
Momen tersebut dibagikan akun Instagram
@explorependaki. Dalam unggahannya, terlihat seorang perempuan berada di atas tandu yang diangkat oleh beberapa orang di kawasan Gunung Merbabu.
Menurut keterangan unggahan tersebut, perjalanan menggunakan jasa tandu itu menghabiskan biaya hingga Rp14 juta. Di satu sisi, layanan tersebut dinilai dapat menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar yang bekerja sebagai tim tandu.
Namun, di sisi lain, penggunaan jalur Gancik turut menjadi sorotan karena disebut bukan jalur resmi pendakian yang diizinkan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu.
Jasa Tandu Rp14 Juta Jadi Sorotan
Dalam keterangan unggahannya,
@explorependaki menyoroti kejadian pendaki perempuan yang menggunakan jasa tandu dengan tarif Rp14 juta.
Layanan tersebut memberikan kesempatan kerja bagi warga sekitar yang bertugas mengangkat tandu selama perjalanan. Dengan demikian, aktivitas pendakian juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan gunung.
Meski demikian, besarnya biaya yang disebut mencapai Rp14 juta membuat warganet mempertanyakan alasan penggunaan jasa tersebut. Terlebih, pendakian gunung umumnya identik dengan aktivitas berjalan kaki dan menikmati perjalanan menuju puncak.
Jalur Gancik Disebut Bukan Jalur Resmi
Selain biaya jasa tandu, unggahan tersebut juga menyoroti penggunaan jalur Gancik.
Akun
@explorependaki menyebut Balai Taman Nasional Gunung Merbabu hanya mengizinkan pendaftaran pendakian melalui lima jalur resmi, yaitu Selo, Suwanting, Wekas, Cuntel, dan Thekelan.
Pendakian melalui Gancik tanpa izin disebut berpotensi dianggap ilegal karena tidak termasuk jalur resmi yang disebutkan dalam unggahan tersebut.
Hal ini kembali mengingatkan pendaki untuk memastikan jalur yang digunakan telah memperoleh izin dari pengelola kawasan. Ketentuan jalur pendakian perlu diperhatikan agar aktivitas wisata alam tetap sesuai aturan dan mengutamakan keselamatan.
Komentar Warganet: Pertanyakan Tujuan hingga Esensi Mendaki
Unggahan tersebut turut memancing beragam komentar dari pengguna Instagram. Sebagian warganet mengaku penasaran dengan alasan pendaki perempuan tersebut memilih menggunakan jasa tandu.
Akun
@ev*** misalnya, mempertanyakan tujuan di balik penggunaan layanan tersebut.
"Kok terasa aneh,?! apa ya tujuan beliaunya mungkin bisa dijelasin jadi kepo!" tulisnya.
Di sisi lain, akun
@ald*** menilai penggunaan jasa porter untuk membawa barang bawaan lebih masuk akal dibandingkan menggunakan tandu. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai risiko keselamatan selama perjalanan.
"Kalo gue jadi org have jg mending sewa porter buat bawain barang2 trs gue jln bawa badan doang, kalo capek ngaso ga mesti di buru2in jg sm team, kalo di tandu gitu ngeri patah apa ga gelinding ke bawah langsung nanti," tulisnya.
Sementara itu, akun
@kak*** menyoroti esensi kegiatan mendaki gunung. Menurutnya, aktivitas tersebut seharusnya menjadi hobi atau kebutuhan, bukan sekadar ajang pamer maupun mencari validasi.
"Esensi naik gunung nya jadi hilang, bukan jadi hobi/kebutuhan tapi ajang pamer ajang haus validasi. Iya bener uang dia suka suka dia, tapi tujuannya apa?" tulis akun tersebut.
Beragam komentar itu memperlihatkan respons warganet yang berbeda-beda terhadap penggunaan jasa tandu di Gunung Merbabu. Mulai dari rasa penasaran, candaan, kekhawatiran keselamatan, hingga perdebatan mengenai makna kegiatan mendaki gunung.
(Ellen Octovia Suherman)
(RUL)