Warga Tanjung Raya 1, Pontianak, mengantre bantuan air bersih. (Foto: Medcom.id/Zam)
Warga Tanjung Raya 1, Pontianak, mengantre bantuan air bersih. (Foto: Medcom.id/Zam)

Merindukan Hujan dan Air Bersih di Pontianak

Kautsar Halim • 07 September 2026 21:43
Ringkasnya gini..
  • Warga Tanjung Raya 1, Pontianak, mengantre bantuan air bersih karena air ledeng di kawasan tersebut terasa sangat asin.
  • Debit Sungai Kapuas menurun akibat kemarau panjang sehingga intrusi air laut memengaruhi kualitas air baku.
  • Hujan alami sekitar lima jam dengan intensitas sedang diharapkan membantu penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
Pontianak: Puluhan warga membawa galon dan ember ke sisi jalan Kelurahan Tanjung Raya 1, Pontianak, Minggu pagi, 6 September 2026. Mereka mengantre mendapatkan air bersih yang dibagikan dari sebuah truk dengan dua toren besar.

Medcom.id melihat sendiri warga harus mengantre untuk mendapatkan air yang akan digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masing-masing dari mereka hanya diperbolehkan mengisi dua galon atau wadah besar.

Pada bagian belakang truk, terdapat spanduk bertuliskan Air Bersih, Air Pegunungan, lengkap dengan foto Ketua DPW NasDem Kalimantan Barat Syarief Abdullah Alkadrie dan Wakil Ketua DPRD Pontianak Agus Sugianto.

Bagi warga, bantuan itu sangat berarti karena persoalannya bukan tidak ada air. Masalahnya, air yang selama ini mengalir dari keran rumah sudah berubah rasa. 

Masrai, salah seorang warga, mengatakan kondisi tersebut sudah dirasakan sekitar dua pekan terakhir.

"Susah mencari air bersih kalau musim panas terlalu lama seperti ini. Mau beli juga tidak ada yang jual. Air mineral galon sudah habis kami gunakan untuk keperluan minum dan memasak. Jadi tinggal berharap bantuan dan hujan saja," kata Masrai.

“Air ledeng di sini rasanya sudah bukan payau lagi, tapi asin banget," imbuhnya yang juga berstatus ibu RT.

Tanjung Raya 1 bukan satu-satunya wilayah yang mengalami persoalan tersebut. Keluhan mengenai perubahan kualitas air muncul di sejumlah wilayah Pontianak selama kemarau panjang. Warga pun harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 

Debit Kapuas Menurun


Perubahan rasa air itu berkaitan dengan kondisi Sungai Kapuas. Kemarau panjang membuat debit air tawar dari hulu menurun. Ketika aliran air tawar melemah, air laut lebih mudah bergerak masuk ke badan sungai, terutama saat pasang. Fenomena tersebut dikenal sebagai intrusi air laut.

Sungai Kapuas sendiri merupakan salah satu sumber air baku penting bagi masyarakat Pontianak. Ketika air laut masuk lebih jauh, kadar garam dalam air baku ikut meningkat.

BPKP Kalimantan Barat pada awal September 2026 mencatat salinitas Sungai Kapuas bahkan mencapai 5.000 mg/L. Kondisi tersebut turut mengganggu kualitas air bersih di Pontianak.

Bagi warga, dampaknya tidak perlu dijelaskan dengan angka. Air masih mengalir dari keran, tetapi rasanya sudah berbeda.

Karena itulah hujan semakin dinanti. Bukan hanya untuk mengakhiri panas, tetapi juga diharapkan membantu memulihkan debit air tawar dan memperbaiki kondisi sumber air.
 

Hujan untuk Memadamkan Karhutla


Harapan terhadap hujan tidak hanya datang dari warga Pontianak. Di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, petugas masih berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Kondisi karhutla memang mulai membaik. Sejumlah titik api telah berhasil dipadamkan dan petugas kini lebih banyak melakukan pendinginan untuk memastikan bara tidak kembali menyala. Namun, pekerjaan belum selesai.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan hujan alami dengan intensitas cukup dan durasi panjang sangat dibutuhkan untuk membantu pemadaman.

"Jadi sebetulnya, yang diharapkan dalam membantu proses pemadaman secara signifikan adalah turun hujan alami,” kata Daniel kepada Medcom.id, Senin (7/9/2026).

"Paling tidak, jika hujan itu turun 5 jam dengan intensitas sedang, saya kira karhutla Kalimantan Barat beres. Cukup sehari saja hujannya. Enggak usah sampai seminggu. Kalau seminggu, nanti banjir pula,” imbuhnya.

Sambil menunggu hujan alami, operasi modifikasi cuaca (OMC) tetap dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan yang tersedia. Tetapi bagi petugas BPBD Kalbar, hujan alami menjadi solusi paling diharapkan.

"Jadi selain kita berikhtiar melalui operasi modifikasi cuaca, kita berharap dan mendorong semua pihak untuk berdoa supaya diberikan hujan,” ujar Daniel.

"Sekarang kalau kita lihat di Kalimantan Barat ini, berbagai budaya, berbagai suku, berbagai agama sedang berdoa memohon terjadinya hujan secara alami. Hujan itu cara yang lebih efektif mengakhiri karhutla di Kalimantan Barat,” tambahnya.
 

Menunggu Air dari Langit


Di Pontianak, hujan memang sudah sempat turun dalam beberapa hari terakhir. Namun, intensitasnya masih kecil dan belum cukup memberikan perubahan berarti. Karena itu, warga masih mencari air dari berbagai sumber.

Ada yang membeli air mineral untuk minum dan memasak. Ada yang menunggu bantuan. Ada pula yang harus mengantre seperti warga Tanjung Raya 1 pada Minggu pagi. Sementara itu, petugas karhutla masih melakukan pendinginan di sejumlah lokasi.

Kedua persoalan tersebut tampak berbeda, namun memiliki kebutuhan yang sama, yakni air.

Air dibutuhkan warga untuk minum dan memasak. Air dibutuhkan petugas untuk memadamkan bara. Dan hujan dibutuhkan untuk membantu keduanya.

Pontianak tidak sedang kehabisan air. Warga hanya sedang menunggu air yang bisa digunakan dengan aman.

Mereka menantikan air ledeng kembali seperti semula dan berharap hujan turun lebih lama. Sebab kali ini, hujan bukan sekadar soal cuaca. 

Hujan adalah harapan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KAH)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>