Hari Sumpah Pemuda. Foto: Pexels/Irgi Nur Fadil
Hari Sumpah Pemuda. Foto: Pexels/Irgi Nur Fadil

Sumpah Pemuda di Era Digital, Menjaga Komitmen Persatuan di Tengah Polarisasi Medsos

Annisa ayu artanti • 27 Oktober 2026 16:22
Ringkasnya gini..
  • Semangat Sumpah Pemuda tetap relevan ketika interaksi dan perbedaan pendapat semakin banyak terjadi di media sosial.
  • Hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan digital dapat memperkeruh hubungan antarpengguna.
  • Anak muda dapat menjaga persatuan dengan memeriksa informasi, menghormati perbedaan, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
Jakarta: Sumpah Pemuda lahir dari tekad pemuda tahun 1928 untuk membangun identitas bersama di tengah perbedaan. Melalui Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928, mereka mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan Bahasa Indonesia.

Kini semangat persatuan tersebut menghadapi tantangan baru di era digital. Media sosial memang meruntuhkan batasan jarak, memungkinkan anak muda lintas daerah bertukar gagasan, mengenalkan budaya, dan berkolaborasi dalam gerakan positif. Namun, ruang digital juga rentan terhadap penyebaran hoaks, perundungan siber, serta polarisasi opini yang cepat. 

Perbedaan pandangan mengenai isu sosial dan budaya pun sering kali berujung pada perdebatan tidak sehat yang mengutamakan serangan pribadi dibanding pertukaran gagasan.

Situasi inilah yang memperluas makna peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober. Nilai persatuan bukan lagi sekadar sejarah untuk dikenang dalam upacara, melainkan komitmen nyata untuk menjaga etika dan harmoni di media sosial.

Sejalan dengan hal ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga ruang digital agar tetap sehat dan aman bagi persatuan bangsa.
   

Cara Sederhana Anak Muda Menjaga Persatuan di Media Sosial


Menjaga persatuan di ruang digital tidak selalu harus dilakukan melalui kampanye besar. Langkah sederhana, seperti memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, dapat membantu mencegah kesalahpahaman. Pengguna juga perlu memastikan konteks foto atau video yang beredar agar tidak ikut menyebarkan informasi yang menyesatkan.

Dilansir dari laman resminya pada Selasa, 27 Oktober 2026, Komdigi mengingatkan generasi muda untuk tidak sekedar menjadi pengguna internet, tetapi turut membentuk ruang digital yang aman dan bertanggung jawab.

Selain memeriksa informasi, anak muda dapat membangun kebiasaan berdiskusi tanpa merendahkan orang lain, tidak ikut menyebarkan komentar yang menyerang kelompok tertentu, serta memberikan dukungan kepada orang yang mengalami perundungan digital.

Media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan budaya daerah, mengapresiasi karya kreator lokal, dan mengangkat kegiatan positif dari berbagai komunitas.

Langkah-langkah tersebut mencerminkan sikap yang dibutuhkan untuk menjaga ruang bersama. Persatuan tidak terbentuk hanya karena banyak orang menggunakan platform yang sama, tetapi persatuan membutuhkan kesediaan untuk menghargai orang lain, meskipun terdapat perbedaan pandangan dan pengalaman.

Sumpah Pemuda di era media sosial bukan tentang membatasi kebebasan berpendapat, melainkan mengingatkan bahwa kebebasan juga membawa tanggung jawab. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>