Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II (NTT II), Viktor Bungtilu Laiskodat.
Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II (NTT II), Viktor Bungtilu Laiskodat.

Viktor Laiskodat: Kemajuan NTT Bergantung pada Pola Pikir, Riset, dan Inovasi

Adri Prima • 02 November 2026 17:54
Ringkasnya gini..
  • Viktor Laiskodat mendorong perguruan tinggi di NTT memperkuat pendidikan dan inovasi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan AI.
  • Kolaborasi kampus, industri, dan pemerintah dinilai penting untuk mengembangkan riset menjadi teknologi tepat guna dan bernilai ekonomi.
  • Viktor menawarkan pembiayaan bagi 10 dosen atau mahasiswa Politeknik Negeri Kupang untuk belajar teknologi permesinan di China.
Kupang: Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II (NTT II), Viktor Bungtilu Laiskodat, mendorong perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengambil peran lebih besar dalam membangun sumber daya manusia yang inovatif, berakar pada budaya, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dalam kuliah umum bertema “Otak, Akar & Algoritma: Menjadi Generasi NTT yang Berdaya Pikir, Berakar Budaya, dan Berani Mencipta di Era AI” di Politeknik Negeri Kupang, Kota Kupang, Senin (2/11/2026), Viktor menekankan bahwa kemajuan suatu daerah tidak cukup ditopang oleh kekayaan sumber daya alam dan kecanggihan teknologi. Perubahan cara berpikir, kualitas pendidikan, serta keberanian mengembangkan inovasi menjadi faktor yang menentukan.

Menurut Viktor, pendidikan formal tidak menjamin seseorang pasti berhasil. Namun, pendidikan memperbesar peluang seseorang untuk mengembangkan kemampuan, memahami persoalan, dan menghasilkan solusi yang bermanfaat.

“Orang yang berhasil tanpa melalui dunia pendidikan formal itu jumlahnya sangat kecil. Bersekolah memang tidak memastikan kita sukses, tetapi dengan bersekolah, peluang kita untuk sukses menjadi lebih besar,” kata Viktor.

Ia menilai perguruan tinggi vokasi memiliki posisi strategis karena dapat menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia industri. Oleh karena itu, proses pendidikan perlu diarahkan pada kemampuan menciptakan, menguji, dan mengembangkan teknologi yang bisa digunakan secara langsung. Viktor juga mengapresiasi berbagai terobosan teknologi yang dipresentasikan dalam kegiatan tersebut. Namun, ia mengingatkan agar setiap inovasi tidak berhenti pada demonstrasi kemampuan teknis, melainkan dilengkapi perhitungan biaya, manfaat, dan kelayakan penerapan.

“Teknologi itu harus tepat guna. Bukan soal canggih, tetapi apakah teknologi itu benar-benar bisa digunakan, berapa biayanya, apa manfaatnya, dan apakah secara ekonomis layak dikembangkan,” ujarnya.
 

Pendidikan Vokasi Harus Terhubung dengan Industri


Viktor menilai salah satu tantangan pengembangan teknologi di NTT adalah mempertemukan kemampuan akademik dengan kebutuhan industri. Penelitian yang dihasilkan perguruan tinggi perlu memperoleh dukungan agar dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan menjawab persoalan masyarakat.

Ia menekankan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, peneliti, pelaku usaha, dan pemerintah diperlukan untuk mempercepat proses tersebut. Menurut dia, dunia usaha dapat membantu menguji kelayakan inovasi sekaligus membuka peluang produksi dan pemasaran.

“Perguruan tinggi tidak mungkin berkembang sendirian tanpa industri. Harus ada kolaborasi. Riset dan dunia usaha perlu berjalan bersama agar gagasan yang dihasilkan bisa berkembang menjadi sesuatu yang benar-benar berguna,” kata Viktor.

Ia mencontohkan pengembangan teknologi pengolahan garam yang memungkinkan produksi tetap berlangsung saat musim hujan. Melalui penggunaan mesin sederhana dan sumber panas alternatif, proses produksi tidak harus sepenuhnya bergantung pada sinar matahari dan kondisi angin.

“Yang perlu kita dorong adalah teknologi yang sederhana, tepat guna, dan ekonomis. Kita harus menghitung apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang dihasilkan,” ujarnya.
 

Mendorong Generasi Muda Berani Melakukan Riset


Dalam kuliah umum tersebut, Viktor juga mengajak mahasiswa dan dosen memperkuat budaya riset serta meningkatkan keberanian untuk menghasilkan terobosan. Ia menilai NTT memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi.

Sumber daya di bidang kelautan, perikanan, dan produksi garam, menurut dia, dapat menjadi titik awal bagi pengembangan teknologi yang sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan.

Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak disertai kemampuan untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, pendidikan vokasi perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis sekaligus kemampuan berpikir sistematis, memahami persoalan, dan merancang solusi.

Viktor menyatakan kesediaannya mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui kesempatan belajar teknologi permesinan di China. Ia menawarkan pembiayaan bagi 10 orang dari lingkungan Politeknik Negeri Kupang, baik dosen maupun mahasiswa, untuk mempelajari teknologi mesin dan mengembangkan kemampuan mereka setelah kembali ke Indonesia. “Saya ingin ada 10 orang yang belajar mesin ke China. Dosen atau mahasiswa boleh. Saya yang akan membiayai. Setelah kembali, mereka harus mampu mengembangkan dan mereplikasi teknologi mesin yang bisa kita gunakan untuk menjawab kebutuhan di NTT,” katanya.

Ia berharap program tersebut dapat melahirkan tenaga terampil yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu membongkar, memahami, memperbaiki, dan mengembangkan mesin sesuai kebutuhan industri dan masyarakat.
 

AI Bukan Ancaman, Melainkan Mitra Pengembangan Manusia


Membahas perkembangan kecerdasan buatan, Viktor mengajak mahasiswa untuk tidak terjebak dalam ketakutan bahwa teknologi akan sepenuhnya menggantikan peran manusia. Menurut dia, AI berkembang melalui akumulasi pengetahuan dan hasil kerja manusia yang diproses menggunakan sistem komputasi.

Kemampuan tersebut memungkinkan manusia mempercepat pencarian informasi, menganalisis persoalan, dan mengembangkan pengetahuan di berbagai bidang, termasuk kesehatan, pendidikan, serta industri.

Meski demikian, Viktor mengingatkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan karakter, kreativitas, dan tanggung jawab. Manusia harus mampu menentukan tujuan, menilai hasil, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan dan pertimbangan yang tepat.

“Jangan hanya takut AI akan menggantikan manusia. Yang perlu kita lakukan adalah menyiapkan diri. Kita harus memperbaiki cara berpikir, memperkuat karakter, dan meningkatkan kemampuan agar teknologi apa pun bisa menjadi mitra kerja manusia,” kata Viktor.

Ia menjelaskan bahwa tema Otak, Akar & Algoritma mengandung tiga gagasan yang saling berkaitan. Otak merepresentasikan kemampuan manusia untuk belajar dan mengolah pengetahuan, akar menggambarkan identitas serta budaya yang membentuk kehidupan masyarakat, sedangkan algoritma merujuk pada pola dan urutan berpikir yang digunakan untuk memahami persoalan dan menentukan tindakan.

Menurut Viktor, ketiganya perlu berkembang secara seimbang. Penguasaan teknologi tanpa kemampuan berpikir kritis dapat membuat manusia bergantung pada perangkat yang digunakannya. Sebaliknya, budaya yang tidak dievaluasi secara kritis berisiko mempertahankan kebiasaan yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman.
WhatsApp Image 2026-11-02 at 17_38_03

Dosen Apresiasi Dukungan Beasiswa Viktor Laiskodat untuk Mahasiswa ke Taiwan


Dalam kesempatan tersebut, seorang dosen Politeknik Negeri Kupang menyampaikan terima kasih kepada Viktor Bungtilu Laiskodat atas dukungan dana pribadi yang diberikan saat menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur., saat mendukung keberangkatan 24 mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Taiwan melalui program beasiswa.

“Terima kasih kepada Pak Viktor. Waktu itu, ada 24 mahasiswa kami yang berangkat ke Taiwan dan Pak Viktor membantu dengan dana sekitar Rp600 juta. Kami juga ingin menyampaikan bahwa tiga orang di antara mereka kini telah melanjutkan studi ke jenjang S3. Ini luar biasa,” ujar dosen tersebut.

Apresiasi itu sejalan dengan perhatian Viktor terhadap pendidikan sebagai salah satu fondasi utama kemajuan daerah. Ia mendorong generasi muda NTT agar tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi juga mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan potensi daerah.

Viktor berharap Politeknik Negeri Kupang terus memperkuat pendidikan vokasi, riset terapan, dan kerja sama dengan dunia usaha. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat melahirkan lebih banyak tenaga terampil dan inovator yang mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi NTT. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>