Jakarta: Kebakaran hutan bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Ketika api meluas, dampaknya bisa menjalar ke udara, kesehatan, ekonomi, hingga ekosistem dalam waktu yang panjang.
Indonesia sendiri memiliki catatan panjang kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat musim kemarau. Sumatera dan Kalimantan menjadi dua wilayah yang kerap menghadapi persoalan ini.
Sejumlah kebakaran bahkan terjadi dalam skala jutaan hektare. Kabut asap yang dihasilkan juga tidak berhenti di wilayah Indonesia, tetapi pernah terbawa angin hingga Singapura dan Malaysia.
Mengutip laman Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) pada Selasa, 15 September 2026, berikut lima kebakaran hutan terbesar yang tercatat dalam sejarah Indonesia.
1. Kebakaran Hutan 1982-1983
Salah satu kebakaran hutan terbesar pertama terjadi di Kalimantan Timur pada 1982 hingga 1983. Peristiwa ini berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan parah sejak Juni 1982 hingga Mei 1983.
Kondisi kering tersebut diperparah oleh aktivitas manusia, termasuk praktik ladang berpindah yang menggunakan metode pembakaran lahan. Aktivitas pembalakan liar juga meninggalkan limbah kayu yang kemudian menjadi material mudah terbakar.
Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 3,2 juta hektare lahan di Kalimantan Timur. Dari jumlah itu, sekitar 2,7 juta hektare merupakan hutan hujan tropis.
Dampaknya tidak hanya dirasakan dari kerusakan hutan. World Resources Institute (WRI) memperkirakan kerugian akibat kebakaran mencapai USD9 miliar. Kabut asap yang dihasilkan juga mengganggu transportasi darat dan udara hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Baca Juga :
Hujan Semakin Ditunggu Saat Hotspot Karhutla Meningkat, tapi Kemarau Belum Beranjak
2. Kebakaran Hutan 1997-1998
Lima belas tahun setelah kebakaran besar 1982-1983, Indonesia kembali menghadapi karhutla dalam skala yang jauh lebih luas. Pada periode 1997-1998, lebih dari 10 juta hektare lahan di Indonesia terbakar. Kebakaran ini bahkan disebut sebagai salah satu yang terparah di dunia.
Kerugian ekonominya diperkirakan mencapai USD10 miliar. Dampak kabut asap juga kembali meluas ke sejumlah negara Asia Tenggara. Pada Agustus hingga Oktober, Singapura dan Malaysia diselimuti kabut asap akibat angin yang membawa asap dari wilayah Indonesia ke arah barat dan utara.
Kondisi tersebut membuat Air Pollution Index (API) mencapai level berbahaya, bahkan tercatat hingga 849. Analisis WRI menyebut fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang memicu kebakaran. Kondisi tersebut kemudian diperparah oleh pembukaan lahan yang tidak bertanggung jawab.
3. Kebakaran Hutan 2006
Kebakaran besar kembali terjadi pada 2006. Berbeda dari sejumlah peristiwa sebelumnya, fenomena El Nino pada periode tersebut tercatat relatif rendah.
Faktor aktivitas manusia justru menjadi salah satu penyebab utama. Pembakaran lahan yang tidak terkendali untuk kebutuhan pertanian membuat api meluas. Lebih dari 3 juta hektare lahan terbakar dan menghasilkan polusi udara dalam jumlah besar.
Dampaknya bahkan terdeteksi melalui instrumen milik NASA, Measurements of Pollution in the Troposphere (MOPITT), yang digunakan untuk melacak kadar karbon monoksida di atmosfer.
Kebakaran juga menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah besar. Dalam bahan kajian tersebut disebutkan Indonesia menyumbang sekitar 2 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer akibat karhutla. Besarnya emisi gas rumah kaca ini menjadi perhatian karena dapat berpengaruh terhadap perubahan iklim dalam jangka panjang.
4. Kebakaran Hutan 2015
Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi sorotan besar pada 2015. Lebih dari 2,6 juta hektare lahan di Indonesia terbakar sepanjang tahun tersebut.
Kebakaran tidak hanya terjadi di Sumatera dan Kalimantan, tetapi juga melanda 29 provinsi lainnya. DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Kepulauan Riau menjadi pengecualian. Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mengalami kebakaran paling parah.
Aktivitas manusia kembali menjadi faktor utama. Kondisi lahan gambut yang mengering selama musim kemarau membuat api semakin mudah menyebar, sementara fenomena El Nino yang menurunkan curah hujan memperburuk situasi.
Dampaknya sangat besar terhadap lingkungan. Kebakaran menyebabkan hilangnya habitat orang utan dan sejumlah spesies yang terancam punah. Kerugian lingkungan dan ekosistem diperkirakan mencapai USD295 juta, sedangkan kerugian ekonomi mencapai USD16 miliar.
Emisi karbon dioksida juga melonjak. Kebakaran hutan dan lahan disebut menghasilkan lebih dari 15,95 juta ton emisi karbon dioksida per hari. Sebuah studi yang dilakukan ilmuwan dari Belanda, Inggris, dan Indonesia bahkan menyebut 97 persen total karbon dioksida yang diemisikan ke atmosfer pada 2015 berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
5. Kebakaran Hutan 2019
Kebakaran hutan pada 2019 kembali menunjukkan betapa rentannya lahan gambut terhadap karhutla. Lebih dari 850 ribu hektare lahan terbakar sepanjang tahun tersebut. Data Global Forest Watch menunjukkan sekitar 42 persen area yang terbakar merupakan lahan gambut.
Lahan gambut menjadi salah satu tantangan besar dalam penanganan kebakaran karena material organik di dalamnya dapat membuat api sulit dipadamkan sekaligus menghasilkan kabut asap dalam jumlah besar.
Kebakaran gambut juga memiliki dampak iklim jangka panjang. Satu hektare lahan gambut yang terbakar disebut setara dengan emisi 55 metrik ton karbon dioksida per tahun. Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang paling banyak mengalami kebakaran karena wilayah tersebut memiliki area gambut yang luas.
Pembukaan lahan dengan cara membakar untuk kebutuhan perkebunan, termasuk kelapa sawit, juga disebut masih menjadi salah satu faktor kebakaran. Pada 2019, perubahan indeks vegetasi di Kalimantan Tengah terlihat signifikan. Provinsi tersebut menjadi salah satu wilayah dengan area kebakaran terluas di Indonesia.
Mayoritas area yang terbakar disebut mencapai 70 persen berasal dari lahan gambut yang telah terdegradasi. Kondisi tersebut kemudian berkontribusi terhadap pelepasan sekitar 708 juta ton gas rumah kaca, yang didominasi karbon dioksida, ke atmosfer.
Jakarta:
Kebakaran hutan bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Ketika api meluas, dampaknya bisa menjalar ke udara, kesehatan, ekonomi, hingga ekosistem dalam waktu yang panjang.
Indonesia sendiri memiliki catatan panjang kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat musim kemarau. Sumatera dan Kalimantan menjadi dua wilayah yang kerap menghadapi persoalan ini.
Sejumlah kebakaran bahkan terjadi dalam skala jutaan hektare. Kabut asap yang dihasilkan juga tidak berhenti di wilayah Indonesia, tetapi pernah terbawa angin hingga Singapura dan Malaysia.
Mengutip laman Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) pada Selasa, 15 September 2026, berikut lima kebakaran hutan terbesar yang tercatat dalam sejarah Indonesia.
1. Kebakaran Hutan 1982-1983
Salah satu kebakaran hutan terbesar pertama terjadi di Kalimantan Timur pada 1982 hingga 1983. Peristiwa ini berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan parah sejak Juni 1982 hingga Mei 1983.
Kondisi kering tersebut diperparah oleh aktivitas manusia, termasuk praktik ladang berpindah yang menggunakan metode pembakaran lahan. Aktivitas pembalakan liar juga meninggalkan limbah kayu yang kemudian menjadi material mudah terbakar.
Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 3,2 juta hektare lahan di Kalimantan Timur. Dari jumlah itu, sekitar 2,7 juta hektare merupakan hutan hujan tropis.
Dampaknya tidak hanya dirasakan dari kerusakan hutan. World Resources Institute (WRI) memperkirakan kerugian akibat kebakaran mencapai USD9 miliar. Kabut asap yang dihasilkan juga mengganggu transportasi darat dan udara hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
2. Kebakaran Hutan 1997-1998
Lima belas tahun setelah kebakaran besar 1982-1983, Indonesia kembali menghadapi karhutla dalam skala yang jauh lebih luas. Pada periode 1997-1998, lebih dari 10 juta hektare lahan di Indonesia terbakar. Kebakaran ini bahkan disebut sebagai salah satu yang terparah di dunia.
Kerugian ekonominya diperkirakan mencapai USD10 miliar. Dampak kabut asap juga kembali meluas ke sejumlah negara Asia Tenggara. Pada Agustus hingga Oktober, Singapura dan Malaysia diselimuti kabut asap akibat angin yang membawa asap dari wilayah Indonesia ke arah barat dan utara.
Kondisi tersebut membuat Air Pollution Index (API) mencapai level berbahaya, bahkan tercatat hingga 849. Analisis WRI menyebut fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang memicu kebakaran. Kondisi tersebut kemudian diperparah oleh pembukaan lahan yang tidak bertanggung jawab.
3. Kebakaran Hutan 2006
Kebakaran besar kembali terjadi pada 2006. Berbeda dari sejumlah peristiwa sebelumnya, fenomena El Nino pada periode tersebut tercatat relatif rendah.
Faktor aktivitas manusia justru menjadi salah satu penyebab utama. Pembakaran lahan yang tidak terkendali untuk kebutuhan pertanian membuat api meluas. Lebih dari 3 juta hektare lahan terbakar dan menghasilkan polusi udara dalam jumlah besar.
Dampaknya bahkan terdeteksi melalui instrumen milik NASA, Measurements of Pollution in the Troposphere (MOPITT), yang digunakan untuk melacak kadar karbon monoksida di atmosfer.
Kebakaran juga menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah besar. Dalam bahan kajian tersebut disebutkan Indonesia menyumbang sekitar 2 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer akibat karhutla. Besarnya emisi gas rumah kaca ini menjadi perhatian karena dapat berpengaruh terhadap perubahan iklim dalam jangka panjang.
4. Kebakaran Hutan 2015
Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi sorotan besar pada 2015. Lebih dari 2,6 juta hektare lahan di Indonesia terbakar sepanjang tahun tersebut.
Kebakaran tidak hanya terjadi di Sumatera dan Kalimantan, tetapi juga melanda 29 provinsi lainnya. DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Kepulauan Riau menjadi pengecualian. Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mengalami kebakaran paling parah.
Aktivitas manusia kembali menjadi faktor utama. Kondisi lahan gambut yang mengering selama musim kemarau membuat api semakin mudah menyebar, sementara fenomena El Nino yang menurunkan curah hujan memperburuk situasi.
Dampaknya sangat besar terhadap lingkungan. Kebakaran menyebabkan hilangnya habitat orang utan dan sejumlah spesies yang terancam punah. Kerugian lingkungan dan ekosistem diperkirakan mencapai USD295 juta, sedangkan kerugian ekonomi mencapai USD16 miliar.
Emisi karbon dioksida juga melonjak. Kebakaran hutan dan lahan disebut menghasilkan lebih dari 15,95 juta ton emisi karbon dioksida per hari. Sebuah studi yang dilakukan ilmuwan dari Belanda, Inggris, dan Indonesia bahkan menyebut 97 persen total karbon dioksida yang diemisikan ke atmosfer pada 2015 berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
5. Kebakaran Hutan 2019
Kebakaran hutan pada 2019 kembali menunjukkan betapa rentannya lahan gambut terhadap karhutla. Lebih dari 850 ribu hektare lahan terbakar sepanjang tahun tersebut. Data Global Forest Watch menunjukkan sekitar 42 persen area yang terbakar merupakan lahan gambut.
Lahan gambut menjadi salah satu tantangan besar dalam penanganan kebakaran karena material organik di dalamnya dapat membuat api sulit dipadamkan sekaligus menghasilkan kabut asap dalam jumlah besar.
Kebakaran gambut juga memiliki dampak iklim jangka panjang. Satu hektare lahan gambut yang terbakar disebut setara dengan emisi 55 metrik ton karbon dioksida per tahun. Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang paling banyak mengalami kebakaran karena wilayah tersebut memiliki area gambut yang luas.
Pembukaan lahan dengan cara membakar untuk kebutuhan perkebunan, termasuk kelapa sawit, juga disebut masih menjadi salah satu faktor kebakaran. Pada 2019, perubahan indeks vegetasi di Kalimantan Tengah terlihat signifikan. Provinsi tersebut menjadi salah satu wilayah dengan area kebakaran terluas di Indonesia.
Mayoritas area yang terbakar disebut mencapai 70 persen berasal dari lahan gambut yang telah terdegradasi. Kondisi tersebut kemudian berkontribusi terhadap pelepasan sekitar 708 juta ton gas rumah kaca, yang didominasi karbon dioksida, ke atmosfer.
(ANN)