Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) biasanya baru menjadi perhatian besar ketika api mulai meluas dan asap sudah menyelimuti suatu wilayah. Saat itu, helikopter water bombing dikerahkan, ribuan personel turun ke lapangan, dan operasi pemadaman dilakukan berhari-hari.
Namun, bagaimana jika kebakaran bisa dideteksi ketika apinya masih sangat kecil?
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), satelit, drone, hingga sistem pemetaan digital membuka peluang untuk mengubah cara menghadapi karhutla. Teknologi tak hanya digunakan untuk melihat titik api yang sudah muncul, tetapi juga berpotensi memprediksi wilayah yang memiliki risiko kebakaran lebih tinggi. Artinya, pendekatan penanganan karhutla bisa bergeser dari sekadar memadamkan api menjadi mencegah kebakaran sebelum meluas.
Lalu, bagaimana AI dan satelit bekerja dalam membantu mencegah karhutla?
Satelit Bisa Pantau Titik Panas dari Luar Angkasa
Merangkum informasi dari Halo Robotics, satelit memungkinkan pemantauan wilayah yang sangat luas, termasuk area yang sulit dijangkau dari darat. Salah satu teknologi yang digunakan adalah satelit termal, yang dapat mendeteksi panas dari permukaan bumi.
Satelit seperti OroraTech, misalnya, dirancang untuk memantau area luas dan mendeteksi titik panas ketika ukurannya masih relatif kecil. Informasi tersebut dapat dikirimkan secara real-time sehingga petugas memiliki peluang untuk merespons lebih cepat.
Pemantauan seperti ini penting karena semakin dini kebakaran diketahui, semakin besar peluang untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Drone dengan Kamera Termal Bantu Verifikasi Titik Api
Setelah satelit mendeteksi adanya titik panas, informasi tersebut masih perlu diverifikasi di lapangan.Di tahap ini, drone dapat menjadi salah satu teknologi pendukung. Drone yang dilengkapi kamera termal dan teknologi AI dapat digunakan untuk memeriksa lokasi yang terindikasi memiliki titik panas. Teknologi seperti DJI Dock 3 dan drone DJI Matrice 4TD, misalnya, memungkinkan pemantauan udara terhadap kawasan yang sulit dijangkau.
AI Bisa Prediksi Wilayah yang Berisiko Terbakar
Potensi AI dalam penanganan karhutla tidak berhenti pada pendeteksian api. Teknologi ini juga dapat digunakan untuk menganalisis berbagai data dan mencari pola yang sulit dilakukan secara manual dalam waktu singkat.
Melansir penjelasan BINUS University, Sistem Informasi Geografis atau Geographic Information System (GIS) yang dipadukan dengan AI dan machine learning dapat memainkan peran penting dalam pemantauan kebakaran hutan.
GIS memungkinkan berbagai data spasial dikumpulkan, diolah, dan divisualisasikan dalam bentuk peta. Teknologi ini dapat digunakan untuk memetakan sejumlah informasi, seperti wilayah rawan deforestasi, titik panas atau hotspot, perubahan tutupan lahan, riwayat kebakaran, hingga kondisi geografis suatu wilayah.
Ketika data tersebut dipadukan dengan AI dan machine learning, sistem dapat menganalisis informasi dalam jumlah besar secara otomatis. Dari pola tersebut, teknologi dapat membantu memprediksi area yang memiliki risiko kebakaran lebih tinggi.
Citra Satelit dan AI Bisa Deteksi Perubahan Hutan
Pemanfaatan AI juga dapat membantu mendeteksi perubahan tutupan hutan melalui citra satelit. Citra dari satelit seperti Sentinel atau Landsat dapat diproses menggunakan algoritma machine learning untuk mengidentifikasi perubahan pada kawasan hutan. Dengan teknologi tersebut, perubahan tutupan lahan dapat lebih cepat terdeteksi dibandingkan jika seluruh proses analisis dilakukan secara manual.
Salah satu contoh pemanfaatan teknologi pemantauan hutan secara global adalah Global Forest Watch, yang menggunakan data untuk membantu memantau perubahan kawasan hutan.
Informasi tersebut dapat menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan jangka panjang, terutama untuk mengidentifikasi wilayah yang mengalami perubahan kondisi dan membutuhkan pengawasan lebih ketat.
FireSat, Satelit yang Dirancang untuk Deteksi Kebakaran Kecil
Pemanfaatan satelit untuk menghadapi kebakaran hutan juga terus berkembang secara global. Merangkum informasi dari blog Google, tiga satelit baru FireSat telah diluncurkan dari Pangkalan Angkatan Antariksa Vandenberg di California.
Peluncuran tersebut menjadi bagian dari pengembangan program FireSat, sebuah inisiatif global yang dipimpin Earth Fire Alliance untuk membangun sistem pemantauan kebakaran hutan berbasis satelit. Google Research bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Earth Fire Alliance dan produsen satelit Muon Space, dalam pengembangan konstelasi satelit tersebut.
Sistem FireSat dirancang untuk memberikan pemantauan berkelanjutan dan membantu mendeteksi kebakaran hutan pada tahap awal. Program ini melanjutkan pengembangan satelit percontohan yang sebelumnya berhasil menunjukkan kemampuan teknologi sensor dalam mendeteksi kebakaran berukuran kecil, bahkan hingga sekitar 5 x 5 meter.
Kemampuan mendeteksi titik api berintensitas rendah menjadi salah satu hal penting dalam upaya pencegahan. Sebab, kebakaran yang diketahui ketika masih kecil memiliki peluang lebih besar untuk ditangani sebelum berkembang menjadi api besar.
AI, satelit, drone, dan sistem peringatan dini memang membuka peluang besar untuk memperkuat penanganan karhutla. Namun, teknologi bukan solusi tunggal. Karhutla juga bukan persoalan yang bisa ditangani oleh satu sektor. Isu ini berkaitan dengan lingkungan, kehutanan, perkebunan, tata ruang, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat yang tinggal di wilayah rawan.
Karena itu, tantangan terbesarnya bukan hanya memiliki teknologi canggih, tetapi bagaimana seluruh data dan sistem tersebut benar-benar digunakan untuk mengambil tindakan sebelum api muncul.
Jakarta:
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) biasanya baru menjadi perhatian besar ketika api mulai meluas dan asap sudah menyelimuti suatu wilayah. Saat itu, helikopter water bombing dikerahkan, ribuan personel turun ke lapangan, dan operasi pemadaman dilakukan berhari-hari.
Namun, bagaimana jika kebakaran bisa dideteksi ketika apinya masih sangat kecil?
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), satelit, drone, hingga sistem pemetaan digital membuka peluang untuk mengubah cara menghadapi karhutla. Teknologi tak hanya digunakan untuk melihat titik api yang sudah muncul, tetapi juga berpotensi memprediksi wilayah yang memiliki risiko kebakaran lebih tinggi. Artinya, pendekatan penanganan karhutla bisa bergeser dari sekadar memadamkan api menjadi mencegah kebakaran sebelum meluas.
Lalu, bagaimana AI dan satelit bekerja dalam membantu mencegah karhutla?
Satelit Bisa Pantau Titik Panas dari Luar Angkasa
Merangkum informasi dari Halo Robotics, satelit memungkinkan pemantauan wilayah yang sangat luas, termasuk area yang sulit dijangkau dari darat. Salah satu teknologi yang digunakan adalah satelit termal, yang dapat mendeteksi panas dari permukaan bumi.
Satelit seperti OroraTech, misalnya, dirancang untuk memantau area luas dan mendeteksi titik panas ketika ukurannya masih relatif kecil. Informasi tersebut dapat dikirimkan secara real-time sehingga petugas memiliki peluang untuk merespons lebih cepat.
Pemantauan seperti ini penting karena semakin dini kebakaran diketahui, semakin besar peluang untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Drone dengan Kamera Termal Bantu Verifikasi Titik Api
Setelah satelit mendeteksi adanya titik panas, informasi tersebut masih perlu diverifikasi di lapangan.Di tahap ini, drone dapat menjadi salah satu teknologi pendukung. Drone yang dilengkapi kamera termal dan teknologi AI dapat digunakan untuk memeriksa lokasi yang terindikasi memiliki titik panas. Teknologi seperti DJI Dock 3 dan drone DJI Matrice 4TD, misalnya, memungkinkan pemantauan udara terhadap kawasan yang sulit dijangkau.
AI Bisa Prediksi Wilayah yang Berisiko Terbakar
Potensi AI dalam penanganan karhutla tidak berhenti pada pendeteksian api. Teknologi ini juga dapat digunakan untuk menganalisis berbagai data dan mencari pola yang sulit dilakukan secara manual dalam waktu singkat.
Melansir penjelasan BINUS University, Sistem Informasi Geografis atau Geographic Information System (GIS) yang dipadukan dengan AI dan machine learning dapat memainkan peran penting dalam pemantauan kebakaran hutan.
GIS memungkinkan berbagai data spasial dikumpulkan, diolah, dan divisualisasikan dalam bentuk peta. Teknologi ini dapat digunakan untuk memetakan sejumlah informasi, seperti wilayah rawan deforestasi, titik panas atau hotspot, perubahan tutupan lahan, riwayat kebakaran, hingga kondisi geografis suatu wilayah.
Ketika data tersebut dipadukan dengan AI dan machine learning, sistem dapat menganalisis informasi dalam jumlah besar secara otomatis. Dari pola tersebut, teknologi dapat membantu memprediksi area yang memiliki risiko kebakaran lebih tinggi.
Citra Satelit dan AI Bisa Deteksi Perubahan Hutan
Pemanfaatan AI juga dapat membantu mendeteksi perubahan tutupan hutan melalui citra satelit. Citra dari satelit seperti Sentinel atau Landsat dapat diproses menggunakan algoritma machine learning untuk mengidentifikasi perubahan pada kawasan hutan. Dengan teknologi tersebut, perubahan tutupan lahan dapat lebih cepat terdeteksi dibandingkan jika seluruh proses analisis dilakukan secara manual.
Salah satu contoh pemanfaatan teknologi pemantauan hutan secara global adalah Global Forest Watch, yang menggunakan data untuk membantu memantau perubahan kawasan hutan.
Informasi tersebut dapat menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan jangka panjang, terutama untuk mengidentifikasi wilayah yang mengalami perubahan kondisi dan membutuhkan pengawasan lebih ketat.
FireSat, Satelit yang Dirancang untuk Deteksi Kebakaran Kecil
Pemanfaatan satelit untuk menghadapi kebakaran hutan juga terus berkembang secara global. Merangkum informasi dari blog Google, tiga satelit baru FireSat telah diluncurkan dari Pangkalan Angkatan Antariksa Vandenberg di California.
Peluncuran tersebut menjadi bagian dari pengembangan program FireSat, sebuah inisiatif global yang dipimpin Earth Fire Alliance untuk membangun sistem pemantauan kebakaran hutan berbasis satelit. Google Research bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Earth Fire Alliance dan produsen satelit Muon Space, dalam pengembangan konstelasi satelit tersebut.
Sistem FireSat dirancang untuk memberikan pemantauan berkelanjutan dan membantu mendeteksi kebakaran hutan pada tahap awal. Program ini melanjutkan pengembangan satelit percontohan yang sebelumnya berhasil menunjukkan kemampuan teknologi sensor dalam mendeteksi kebakaran berukuran kecil, bahkan hingga sekitar 5 x 5 meter.
Kemampuan mendeteksi titik api berintensitas rendah menjadi salah satu hal penting dalam upaya pencegahan. Sebab, kebakaran yang diketahui ketika masih kecil memiliki peluang lebih besar untuk ditangani sebelum berkembang menjadi api besar.
AI, satelit, drone, dan sistem peringatan dini memang membuka peluang besar untuk memperkuat penanganan karhutla. Namun, teknologi bukan solusi tunggal. Karhutla juga bukan persoalan yang bisa ditangani oleh satu sektor. Isu ini berkaitan dengan lingkungan, kehutanan, perkebunan, tata ruang, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat yang tinggal di wilayah rawan.
Karena itu, tantangan terbesarnya bukan hanya memiliki teknologi canggih, tetapi bagaimana seluruh data dan sistem tersebut benar-benar digunakan untuk mengambil tindakan sebelum api muncul.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(ANN)