Karhutla. Foto: Medcom.
Karhutla. Foto: Medcom.

Hotspot Karhutla Nasional Turun 121 Titik, OMC Digenjot di Kalbar dan Kalteng

Arif Wicaksono • 14 September 2026 12:29
Ringkasnya gini..
  • Kabar baik datang dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional turun 121 titik menjadi 567 titik hingga Sabtu (12/9/2026).
  • Meski secara nasional turun, kondisi di sejumlah wilayah masih perlu mendapat perhatian. Dari enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah masih menjadi daerah dengan hotspot high confidence terbanyak, yakni 197 titik. Jumlah ini turun cukup signifikan dari 271 titik sehari sebelumnya.
Jakarta: Kabar baik datang dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional turun 121 titik menjadi 567 titik hingga Sabtu (12/9/2026).
 
Data tersebut berasal dari sistem SiPongi Kementerian Kehutanan yang memanfaatkan pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Data terakhir tercatat hingga pukul 21.04 WIB.
 
Baca juga: Tiga Helikopter Chinook dari Jepang Dikerahkan untuk Perkuat Penanganan Karhutla di Kalimantan Barat
 
 
Meski secara nasional turun, kondisi di sejumlah wilayah masih perlu mendapat perhatian. Dari enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah masih menjadi daerah dengan hotspot high confidence terbanyak, yakni 197 titik. Jumlah ini turun cukup signifikan dari 271 titik sehari sebelumnya.
 
Sebaliknya, Kalimantan Barat mencatat kenaikan hotspot dari 51 menjadi 91 titik. Sumatera Selatan juga meningkat dari 11 menjadi 62 titik.
 
Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat penurunan dari 47 menjadi 7 titik. Riau dan Jambi masih mencatat nihil hotspot high confidence dalam pemantauan terakhir.
 
Kementerian Kehutanan menegaskan angka hotspot tidak bisa langsung diartikan sebagai jumlah kebakaran. Hotspot pada dasarnya merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi oleh satelit.
 
Satu kejadian kebakaran bahkan bisa menghasilkan lebih dari satu titik deteksi satelit. Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap membutuhkan verifikasi atau groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
 
Kenaikan hotspot di Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan pun menjadi perhatian. Patroli, pengecekan lapangan, hingga operasi pemadaman terus diperkuat karena perkembangan karhutla bisa berubah cepat mengikuti cuaca dan kondisi bahan bakar di suatu wilayah.
 
Salah satu strategi yang terus digenjot pemerintah adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi ini dilakukan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah untuk membantu meningkatkan potensi hujan dan membasahi wilayah yang rawan terbakar.
 
Di Kalimantan Barat, OMC berlangsung pada 5-14 September 2026. Hingga pelaksanaan terakhir, sebanyak sembilan sortie penerbangan telah dilakukan dengan total 7.200 kilogram bahan semai berupa natrium klorida atau NaCl.
 
Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Mempawah, Singkawang, Bengkayang, Landak, Kubu Raya, Sanggau, Sekadau, Sintang, Ketapang, dan Kayong Utara. Dari operasi tersebut, estimasi volume air hujan yang dihasilkan mencapai sekitar 87,9 juta meter kubik.
 
Namun, pemerintah masih akan menghitung dampak peningkatan curah hujan secara keseluruhan setelah rangkaian OMC selesai.
 
Sementara itu, OMC di Kalimantan Tengah berlangsung pada 6-15 September 2026. Hingga 11 September, operasi tersebut telah menjalankan tujuh sortie dengan penggunaan 5.600 kilogram NaCl. Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Kapuas, Palangka Raya, Barito Selatan, Barito Utara, Barito Timur, dan Pulang Pisau.
 
Hujan hasil OMC diharapkan membantu membasahi lahan sekaligus membuat pekerjaan tim pemadam di darat lebih efektif. Meski begitu, hujan bukan berarti persoalan karhutla langsung selesai.
 
Kondisi tersebut terutama berlaku pada lahan gambut. Api dan bara bisa bertahan di bawah permukaan tanah, sehingga proses pemadaman harus dilanjutkan dengan pembasahan, pendinginan, dan pemantauan secara berulang agar api tidak kembali muncul.
 
Di darat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya masih melakukan patroli hingga pemadaman.
 
Kegiatan tersebut mencakup groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan agar api tidak merambat, mopping up, hingga pendinginan di lokasi yang sudah terbakar.
 
Untuk memperkuat penanganan dari udara, pemerintah menyiagakan 53 armada di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing, sedangkan 19 lainnya mendukung patroli udara dan pelaksanaan OMC.
 
Dukungan internasional juga ikut masuk dalam operasi ini. Pemerintah Jepang telah mengirim tiga helikopter CH-47 Chinook ke Kalimantan Barat untuk memperkuat kemampuan water bombing.
 
Ketiga helikopter tersebut akan digunakan setelah menjalani persiapan teknis dan pemeriksaan keselamatan penerbangan. Bantuan tersebut merupakan bagian dari kerja sama Humanitarian Assistance and Disaster Relief Indonesia-Jepang.
 
Seluruh sumber daya dikerahkan berdasarkan perkembangan hotspot, hasil pengecekan lapangan, kondisi kebakaran, serta situasi cuaca. Fokusnya sederhana: jangan sampai api meluas dan lokasi yang masih terbakar bisa ditangani secepat mungkin.
 
Langkah tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah tidak menunggu hotspot berkembang menjadi kebakaran besar. Pencegahan diminta dilakukan sedini mungkin, termasuk dengan memperkuat pembasahan dan memastikan ketersediaan sumber air di wilayah rawan.
 
Pemerintah juga mendorong edukasi sampai tingkat desa. Masyarakat perlu memahami bahwa membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar bukan hanya berisiko memicu karhutla, tetapi juga dilarang.
 
Di sisi lain, persoalan asap masih menjadi perhatian. Pemantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara di Indonesia bervariasi. Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
 
Bahkan, pada lokasi tertentu kualitas udara terpantau masuk kategori berbahaya. Kondisi ini bisa berubah dengan cepat tergantung konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan titik kebakaran.
 
BMKG juga mencatat jarak pandang di sejumlah wilayah masih perlu dipantau. Pada sore 12 September, jarak pandang di Pontianak diprakirakan sekitar 4 kilometer dengan kondisi udara kabur. Di Pekanbaru jarak pandang sekitar 7 kilometer dengan kondisi berawan, sedangkan Banjarmasin sekitar 7 kilometer dengan kondisi cerah berawan.


Pantauan Informasi Udara
 

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap diminta tidak menganggap sepele kondisi udara. Informasi kualitas udara sebaiknya dipantau secara berkala, terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
 
Jika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar dan menggunakan masker ketika harus keluar rumah. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian lebih karena lebih rentan terhadap paparan PM2,5.
 
Masyarakat juga disarankan menjaga kondisi tubuh, cukup minum, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta segera mencari bantuan medis apabila mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, iritasi, atau gangguan pernapasan lainnya.
 
Pada akhirnya, penanganan karhutla bukan cuma soal memadamkan api ketika sudah membesar. Pencegahan dari awal tetap menjadi kunci. Karena itu, Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
 
Jika menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melapor. Semakin cepat informasi diterima petugas, semakin besar peluang api ditangani sebelum berubah menjadi kebakaran yang lebih luas.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>