Jakarta: Setelah rentetan gempa di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung yang terjadi sejak Rabu, 16 September 2026, guncangan kembali terasa hingga Kamis, 17 September 2026 dan membuat aktivitas seismik di wilayah tersebut terus menjadi perhatian.
Berdasarkan data BMKG, rangkaian gempa pada 16 September tercatat terjadi sejak dini hari, mulai dari gempa M2,2 pada pukul 06.21 WIB dan M2,9 pada pukul 08.11 WIB yang dirasakan di Pangalengan dan Kertasari, hingga gempa M2,6 pukul 17.14 WIB yang dirasakan di Pangalengan.
Kondisi tersebut berlanjut hingga Kamis pagi pukul 04.59 WIB, BMKG mencatat gempa M2,6 dengan pusat gempa berada di darat sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dan kedalaman 3 kilometer. Gempa tersebut dirasakan dengan intensitas III MMI di Pangalengan dan Kertasari.
Tidak lama kemudian, gempa kembali terjadi pada pukul 06.21 WIB dengan magnitudo M2,7 dan kedalaman 4 kilometer, berlokasi sekitar 27 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung. BMKG mencatat gempa tersebut dirasakan dengan intensitas III MMI di Pangalengan, Talegong, dan Cisewu.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari aktivitas gempa swarm, yakni sejumlah gempa yang terjadi berulang dalam satu kawasan dalam periode tertentu.
Baca Juga :
Apa Itu Gempa Swarm, yang Mengguncang Kabupaten Bogor 28 Kali
Sudah 47 Gempa, Apakah Pertanda Gempa Besar?
Hingga Kamis, 17 September 2026 pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat 47 kejadian gempa dalam rangkaian aktivitas seismik di wilayah Kabupaten Bandung sejak 16 September.
Analisis BMKG menyebut gempa M2,7 tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif, tetapi belum ada laporan kerusakan bangunan akibat guncangan tersebut.
Meski jumlahnya cukup banyak, aktivitas gempa swarm tidak otomatis menjadi tanda akan terjadi gempa besar karena sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jakarta: Setelah rentetan
gempa di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung yang terjadi sejak Rabu, 16 September 2026, guncangan kembali terasa hingga Kamis, 17 September 2026 dan membuat aktivitas seismik di wilayah tersebut terus menjadi perhatian.
Berdasarkan data
BMKG, rangkaian gempa pada 16 September tercatat terjadi sejak dini hari, mulai dari gempa M2,2 pada pukul 06.21 WIB dan M2,9 pada pukul 08.11 WIB yang dirasakan di Pangalengan dan Kertasari, hingga gempa M2,6 pukul 17.14 WIB yang dirasakan di Pangalengan.
Kondisi tersebut berlanjut hingga Kamis pagi pukul 04.59 WIB, BMKG mencatat gempa M2,6 dengan pusat gempa berada di darat sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dan kedalaman 3 kilometer. Gempa tersebut dirasakan dengan intensitas III MMI di Pangalengan dan Kertasari.
Tidak lama kemudian, gempa kembali terjadi pada pukul 06.21 WIB dengan magnitudo M2,7 dan kedalaman 4 kilometer, berlokasi sekitar 27 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung. BMKG mencatat gempa tersebut dirasakan dengan intensitas III MMI di Pangalengan, Talegong, dan Cisewu.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari aktivitas gempa swarm, yakni sejumlah gempa yang terjadi berulang dalam satu kawasan dalam periode tertentu.
Sudah 47 Gempa, Apakah Pertanda Gempa Besar?
Hingga Kamis, 17 September 2026 pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat 47 kejadian gempa dalam rangkaian aktivitas seismik di wilayah Kabupaten Bandung sejak 16 September.
Analisis BMKG menyebut gempa M2,7 tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif, tetapi belum ada laporan kerusakan bangunan akibat guncangan tersebut.
Meski jumlahnya cukup banyak, aktivitas gempa swarm tidak otomatis menjadi tanda akan terjadi gempa besar karena sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap.
(Wisa Irena Br Sitepu)
(ANN)