Jakarta: Aktivitas gunung api tidak hanya menimbulkan bahaya ketika erupsi berlangsung. Setelah letusan, material vulkanik yang tertinggal di lereng dan sekitar aliran sungai masih dapat menjadi ancaman, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi turun di kawasan gunung.
Salah satu bahaya yang perlu diwaspadai adalah lahar dingin, yang juga dikenal sebagai lahar hujan. Fenomena ini terjadi ketika air hujan mengangkut material vulkanik yang sebelumnya mengendap di lereng gunung atau kawasan sekitar aliran sungai.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lahar hujan termasuk bahaya sekunder dari aktivitas gunung api. Alirannya dapat membawa material seperti lumpur, pasir, kerikil hingga batu berukuran besar.
Bagaimana Lahar Dingin Terbentuk?
Lahar dingin tidak berarti lava yang sudah mendingin. Istilah tersebut merujuk pada aliran material vulkanik yang bercampur dengan air dan bergerak mengikuti kemiringan medan, terutama melalui sungai yang berhulu di kawasan gunung api.
Prosesnya dapat berlangsung ketika hujan deras mengguyur daerah yang memiliki banyak endapan material vulkanik. Air kemudian mengikis dan membawa material tersebut ke tempat yang lebih rendah.
Karena jumlah material yang terbawa bisa sangat banyak, aliran lahar dapat berubah menjadi banjir dengan daya rusak tinggi. BNPB mencatat masyarakat yang tinggal di sekitar lembah, bantaran, atau aliran sungai yang berhulu di gunung api perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat musim hujan.
Baca Juga :
Abu Vulkanik Semeru dan Lewotolo Masih Terdeteksi, Warga Diminta Tetap Waspada
Apa Saja Bahayanya?
Bahaya lahar dingin tidak hanya berupa genangan air. Material yang terbawa dapat menghantam berbagai benda di sepanjang jalur aliran. Infrastruktur seperti jembatan, jalan, bendungan, saluran irigasi, hingga rumah warga dapat mengalami kerusakan.
Aliran lahar juga memiliki kemampuan mengikis bantaran sungai. Pada wilayah dengan lereng yang curam, material dapat bergerak cepat menuju bagian bawah gunung sehingga masyarakat di sekitar jalur sungai perlu memperhatikan informasi peringatan dini.
Dampak tersebut pernah terjadi di wilayah Gunung Semeru. Pada April 2024, banjir lahar dingin yang dipicu hujan berintensitas tinggi menyebabkan sejumlah daerah aliran sungai di Kabupaten Lumajang meluap. BNPB mencatat empat rumah, 24 DAM irigasi, dan 17 jembatan mengalami kerusakan berat, dengan delapan jembatan di antaranya putus total.
Ancaman serupa juga dapat muncul di gunung api lain yang memiliki banyak endapan material vulkanik. BNPB menegaskan bahwa potensi lahar perlu diperhatikan terutama ketika memasuki musim hujan.
Cara Mengurangi Risiko Lahar Dingin
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai berhulu di gunung api perlu mengetahui jalur yang berpotensi menjadi lintasan lahar. Ketika hujan deras berlangsung di kawasan hulu, masyarakat sebaiknya tidak mendekati sungai atau beraktivitas di bantaran sungai.
Informasi dari pemerintah daerah, BNPB, PVMBG, serta sistem peringatan dini juga penting untuk diperhatikan. BNPB bahkan telah melakukan penguatan sistem peringatan dini banjir lahar di sejumlah kawasan gunung api.
Dengan mengenali karakteristik lahar dingin dan jalur yang berpotensi dilaluinya, masyarakat dapat lebih cepat mengambil langkah ketika risiko meningkat. Kewaspadaan menjadi semakin penting karena bahaya ini dapat muncul kembali setelah erupsi, terutama ketika curah hujan tinggi terjadi di kawasan gunung api.
(Ellen Octovia Suherman)
Jakarta: Aktivitas
gunung api tidak hanya menimbulkan bahaya ketika
erupsi berlangsung. Setelah letusan, material vulkanik yang tertinggal di lereng dan sekitar aliran sungai masih dapat menjadi ancaman, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi turun di kawasan gunung.
Salah satu bahaya yang perlu diwaspadai adalah lahar dingin, yang juga dikenal sebagai lahar hujan. Fenomena ini terjadi ketika air hujan mengangkut material vulkanik yang sebelumnya mengendap di lereng gunung atau kawasan sekitar aliran sungai.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lahar hujan termasuk bahaya sekunder dari aktivitas gunung api. Alirannya dapat membawa material seperti lumpur, pasir, kerikil hingga batu berukuran besar.
Bagaimana Lahar Dingin Terbentuk?
Lahar dingin tidak berarti lava yang sudah mendingin. Istilah tersebut merujuk pada aliran material vulkanik yang bercampur dengan air dan bergerak mengikuti kemiringan medan, terutama melalui sungai yang berhulu di kawasan gunung api.
Prosesnya dapat berlangsung ketika hujan deras mengguyur daerah yang memiliki banyak endapan material vulkanik. Air kemudian mengikis dan membawa material tersebut ke tempat yang lebih rendah.
Karena jumlah material yang terbawa bisa sangat banyak, aliran lahar dapat berubah menjadi banjir dengan daya rusak tinggi. BNPB mencatat masyarakat yang tinggal di sekitar lembah, bantaran, atau aliran sungai yang berhulu di gunung api perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat musim hujan.
Apa Saja Bahayanya?
Bahaya lahar dingin tidak hanya berupa genangan air. Material yang terbawa dapat menghantam berbagai benda di sepanjang jalur aliran. Infrastruktur seperti jembatan, jalan, bendungan, saluran irigasi, hingga rumah warga dapat mengalami kerusakan.
Aliran lahar juga memiliki kemampuan mengikis bantaran sungai. Pada wilayah dengan lereng yang curam, material dapat bergerak cepat menuju bagian bawah gunung sehingga masyarakat di sekitar jalur sungai perlu memperhatikan informasi peringatan dini.
Dampak tersebut pernah terjadi di wilayah Gunung Semeru. Pada April 2024, banjir lahar dingin yang dipicu hujan berintensitas tinggi menyebabkan sejumlah daerah aliran sungai di Kabupaten Lumajang meluap. BNPB mencatat empat rumah, 24 DAM irigasi, dan 17 jembatan mengalami kerusakan berat, dengan delapan jembatan di antaranya putus total.
Ancaman serupa juga dapat muncul di gunung api lain yang memiliki banyak endapan material vulkanik. BNPB menegaskan bahwa potensi lahar perlu diperhatikan terutama ketika memasuki musim hujan.
Cara Mengurangi Risiko Lahar Dingin
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai berhulu di gunung api perlu mengetahui jalur yang berpotensi menjadi lintasan lahar. Ketika hujan deras berlangsung di kawasan hulu, masyarakat sebaiknya tidak mendekati sungai atau beraktivitas di bantaran sungai.
Informasi dari pemerintah daerah, BNPB, PVMBG, serta sistem peringatan dini juga penting untuk diperhatikan. BNPB bahkan telah melakukan penguatan sistem peringatan dini banjir lahar di sejumlah kawasan gunung api.
Dengan mengenali karakteristik lahar dingin dan jalur yang berpotensi dilaluinya, masyarakat dapat lebih cepat mengambil langkah ketika risiko meningkat. Kewaspadaan menjadi semakin penting karena bahaya ini dapat muncul kembali setelah erupsi, terutama ketika curah hujan tinggi terjadi di kawasan gunung api.
(Ellen Octovia Suherman)
(PRI)