Jakarta: Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak serius pada kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH Edward Nixon Pakpahan mengatakan kondisi tersebut terjadi di sejumlah provinsi yang terdampak karhutla, mulai dari Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur.
Baca juga: Aksi 'MacGyver' di Garis Depan Perjuangan Padamkan Karhutla
“Per hari ini, 17 September pukul 15.00, untuk daerah terdampak, mayoritas kualitas udara di provinsi terdampak mulai dari Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur itu mayoritas pada kelompok status kualitas udara tidak sehat, sangat tidak sehat, bahkan ada yang berbahaya,” ujar Edward dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Berdasarkan pemantauan KLH saat itu, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan berada dalam status kualitas udara berbahaya. Artinya, masyarakat perlu lebih waspada terhadap paparan udara yang tercemar asap karhutla.
Udara Lagi Buruk? Kurangi Aktivitas di Luar
KLH menyarankan masyarakat di wilayah dengan kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika memungkinkan, kegiatan dilakukan lebih banyak di dalam ruangan.
Imbauan ini terutama penting bagi kelompok rentan yang lebih berisiko terdampak buruk oleh pencemaran udara. Masyarakat juga diminta terus mengecek kondisi kualitas udara sebelum beraktivitas di luar.
Edward menjelaskan klasifikasi kualitas udara tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2021. Status kualitas udara dibagi menjadi lima kategori, yaitu baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya.
“Kalau kita sudah mendapatkan data status kualitas udara tersebut, mengacu kepada Permen LH Nomor 14 Tahun 2021, kita menyarankan untuk status kualitas udara tidak sehat, sangat tidak sehat, kemudian berbahaya, bagaimana saudara-saudara kita di daerah terdampak untuk bisa mengurangi aktivitas di luar rumah,” jelasnya.
KLH sebelumnya juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 17 Tahun 2026 pada 21 Agustus 2026. Surat tersebut berisi langkah perlindungan masyarakat yang terdampak asap kebakaran lahan berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Buat masyarakat yang ingin tahu kondisi udara di wilayahnya, KLH menyediakan platform ISPU Net. Informasi kualitas udara dapat dipantau secara real time dan diperbarui setiap 30 menit.
Informasi juga tersedia melalui kanal resmi KLH yang dikelola Biro Hubungan Masyarakat. Data di kanal tersebut diperbarui dua kali sehari.
“Kami dari KLH fokus bagaimana menyampaikan informasi kualitas udara yang valid dan real time. Ini menjadi dasar tindak lanjut kementerian dan lembaga lain,” kata Edward.
Dengan informasi tersebut, masyarakat bisa menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi udara terkini, terutama ketika asap karhutla sedang tebal.
Karhutla Masih Berpotensi Terjadi
Risiko karhutla juga belum sepenuhnya berakhir. Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marzuki mengatakan potensi kebakaran masih cukup tinggi hingga memasuki awal musim hujan.
BMKG sejak Maret 2026 telah memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran di wilayah yang mengalami kekeringan.
“Dalam konteks kebakaran hutan dan lahan memang masih akan mengalami potensi risiko yang cukup tinggi hingga datangnya awal musim hujan, sekitar akhir Oktober hingga awal November,” ujar Marzuki.
Agustus hingga September menjadi periode puncak musim kemarau. Pada fase ini, kondisi lahan yang lebih kering membuat potensi terjadinya karhutla meningkat.
Selain kondisi kemarau, faktor iklim juga ikut memengaruhi situasi. Marzuki mengatakan kondisi El Nino turut berdampak terhadap dinamika cuaca di Indonesia.
Suhu muka laut di wilayah Pasifik Tengah dan Timur disebut telah mencapai fase sangat kuat. Sementara itu, suhu muka laut di Samudera Hindia yang berada pada nilai positif turut memengaruhi pembentukan awan di Indonesia.
Kondisi tersebut dapat mengurangi potensi pertumbuhan awan sehingga hujan menjadi lebih terbatas di sejumlah wilayah.
Dalam satu pekan ke depan, BMKG memprakirakan pertumbuhan awan masih relatif rendah, khususnya di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan.
Menurut Marzuki, potensi pertumbuhan awan di wilayah tersebut berada pada kisaran 50–70 persen berdasarkan parameter yang digunakan BMKG.
Karena itu, pemerintah masih menyiagakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan karhutla ketika tersedia awan yang memenuhi kondisi untuk dimodifikasi.
“Apabila memang ada potensi pertumbuhan awan yang signifikan, maka kita lakukan operasi modifikasi cuaca,” ujar Marzuki.
Saat ini, operasi modifikasi cuaca antara lain dilakukan di Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta wilayah Bromo di Jawa Timur.
Namun, OMC tidak bisa dilakukan sembarangan. Operasi tersebut bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang bisa dimodifikasi.
Sebaran Asap Masih Dipantau
Selain memantau cuaca, BMKG juga memprakirakan sebaran polutan untuk mengantisipasi dampak asap karhutla.
Untuk tiga hari ke depan, sebaran polutan diperkirakan masih terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi.
“Untuk tiga hari ke depan sebaran polutannya akan terjadi di Kalimantan Barat, kemudian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi. Jadi itu hal-hal yang perlu diwaspadai,” kata Marzuki.
Polutan dari asap kebakaran antara lain mengandung partikel sisa pembakaran dan karbon monoksida yang dapat berdampak terhadap kesehatan.
Penanganan karhutla pun terus dilakukan melalui kolaborasi KLH, BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Udara, serta kementerian dan lembaga terkait.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak, langkah paling sederhana adalah cek kualitas udara sebelum keluar rumah, kurangi aktivitas di luar ketika udara memburuk, dan ikuti informasi resmi pemerintah. Dengan begitu, aktivitas sehari-hari bisa disesuaikan dengan kondisi udara dan cuaca di masing-masing wilayah.
Jakarta: Asap
kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak serius pada kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH Edward Nixon Pakpahan mengatakan kondisi tersebut terjadi di sejumlah provinsi yang terdampak karhutla, mulai dari Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur.
“Per hari ini, 17 September pukul 15.00, untuk daerah terdampak, mayoritas kualitas udara di provinsi terdampak mulai dari Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur itu mayoritas pada kelompok status kualitas udara tidak sehat, sangat tidak sehat, bahkan ada yang berbahaya,” ujar Edward dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Berdasarkan pemantauan KLH saat itu, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan berada dalam status kualitas udara berbahaya. Artinya, masyarakat perlu lebih waspada terhadap paparan udara yang tercemar asap karhutla.
Udara Lagi Buruk? Kurangi Aktivitas di Luar
KLH menyarankan masyarakat di wilayah dengan kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika memungkinkan, kegiatan dilakukan lebih banyak di dalam ruangan.
Imbauan ini terutama penting bagi kelompok rentan yang lebih berisiko terdampak buruk oleh pencemaran udara. Masyarakat juga diminta terus mengecek kondisi kualitas udara sebelum beraktivitas di luar.
Edward menjelaskan klasifikasi kualitas udara tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2021. Status kualitas udara dibagi menjadi lima kategori, yaitu baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya.
“Kalau kita sudah mendapatkan data status kualitas udara tersebut, mengacu kepada Permen LH Nomor 14 Tahun 2021, kita menyarankan untuk status kualitas udara tidak sehat, sangat tidak sehat, kemudian berbahaya, bagaimana saudara-saudara kita di daerah terdampak untuk bisa mengurangi aktivitas di luar rumah,” jelasnya.
KLH sebelumnya juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 17 Tahun 2026 pada 21 Agustus 2026. Surat tersebut berisi langkah perlindungan masyarakat yang terdampak asap kebakaran lahan berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Buat masyarakat yang ingin tahu kondisi udara di wilayahnya, KLH menyediakan platform ISPU Net. Informasi kualitas udara dapat dipantau secara real time dan diperbarui setiap 30 menit.
Informasi juga tersedia melalui kanal resmi KLH yang dikelola Biro Hubungan Masyarakat. Data di kanal tersebut diperbarui dua kali sehari.
“Kami dari KLH fokus bagaimana menyampaikan informasi kualitas udara yang valid dan real time. Ini menjadi dasar tindak lanjut kementerian dan lembaga lain,” kata Edward.
Dengan informasi tersebut, masyarakat bisa menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi udara terkini, terutama ketika asap karhutla sedang tebal.
Karhutla Masih Berpotensi Terjadi
Risiko karhutla juga belum sepenuhnya berakhir. Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marzuki mengatakan potensi kebakaran masih cukup tinggi hingga memasuki awal musim hujan.
BMKG sejak Maret 2026 telah memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran di wilayah yang mengalami kekeringan.
“Dalam konteks kebakaran hutan dan lahan memang masih akan mengalami potensi risiko yang cukup tinggi hingga datangnya awal musim hujan, sekitar akhir Oktober hingga awal November,” ujar Marzuki.
Agustus hingga September menjadi periode puncak musim kemarau. Pada fase ini, kondisi lahan yang lebih kering membuat potensi terjadinya karhutla meningkat.
Selain kondisi kemarau, faktor iklim juga ikut memengaruhi situasi. Marzuki mengatakan kondisi El Nino turut berdampak terhadap dinamika cuaca di Indonesia.
Suhu muka laut di wilayah Pasifik Tengah dan Timur disebut telah mencapai fase sangat kuat. Sementara itu, suhu muka laut di Samudera Hindia yang berada pada nilai positif turut memengaruhi pembentukan awan di Indonesia.
Kondisi tersebut dapat mengurangi potensi pertumbuhan awan sehingga hujan menjadi lebih terbatas di sejumlah wilayah.
Dalam satu pekan ke depan, BMKG memprakirakan pertumbuhan awan masih relatif rendah, khususnya di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan.
Menurut Marzuki, potensi pertumbuhan awan di wilayah tersebut berada pada kisaran 50–70 persen berdasarkan parameter yang digunakan BMKG.
Karena itu, pemerintah masih menyiagakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan karhutla ketika tersedia awan yang memenuhi kondisi untuk dimodifikasi.
“Apabila memang ada potensi pertumbuhan awan yang signifikan, maka kita lakukan operasi modifikasi cuaca,” ujar Marzuki.
Saat ini, operasi modifikasi cuaca antara lain dilakukan di Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta wilayah Bromo di Jawa Timur.
Namun, OMC tidak bisa dilakukan sembarangan. Operasi tersebut bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang bisa dimodifikasi.
Sebaran Asap Masih Dipantau
Selain memantau cuaca, BMKG juga memprakirakan sebaran polutan untuk mengantisipasi dampak asap karhutla.
Untuk tiga hari ke depan, sebaran polutan diperkirakan masih terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi.
“Untuk tiga hari ke depan sebaran polutannya akan terjadi di Kalimantan Barat, kemudian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi. Jadi itu hal-hal yang perlu diwaspadai,” kata Marzuki.
Polutan dari asap kebakaran antara lain mengandung partikel sisa pembakaran dan karbon monoksida yang dapat berdampak terhadap kesehatan.
Penanganan karhutla pun terus dilakukan melalui kolaborasi KLH, BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Udara, serta kementerian dan lembaga terkait.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak, langkah paling sederhana adalah cek kualitas udara sebelum keluar rumah, kurangi aktivitas di luar ketika udara memburuk, dan ikuti informasi resmi pemerintah. Dengan begitu, aktivitas sehari-hari bisa disesuaikan dengan kondisi udara dan cuaca di masing-masing wilayah.
(SAW)