Jakarta: Akademi Perempuan NasDem (APN) menghadirkan pendekatan unik dalam melatih karakter kepemimpinan remaja perempuan melalui acara bertajuk Care Leadership For Girls: Ayo Jadi Avatar. Pelatihan ini secara kreatif memadukan elemen populer dari serial animasi "Avatar", kearifan lokal Jawa Sedulur Papat Limo Pancer, dan implementasi nyata nilai-nilai Pancasila.
Panitia Pengarah Kegiatan APN, Eva Sundari, menjelaskan bahwa konsep elemen Avatar, yakni tanah, air, udara, dan api yang sangat relevan dengan filosofi Nusantara tentang elemen pembentuk jati diri manusia. Melalui pendekatan pop-kultur ini, para peserta yang didominasi siswi SMP dan SMA diajak untuk mampu mengendalikan "elemen" emosi di dalam diri mereka sebelum memimpin orang lain.
"Kita pakai pendekatan konsep Avatar. Avatar itu kan tanah, udara, air, sama api. Di dalam diri kita itu kan ada itu, atau kalau konsep lokalnya seperti Sedulur Papat Limo Pancer" jelas Eva.
Eva menambahkan, penguasaan diri ini bermuara pada pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari yang jauh dari kesan doktrinal.
"Kamu tidak boleh diskriminasi, harus memegang prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak anti-minoritas. Ayo jaga kesatuan tanah dan sayangi alam untuk sila kelima. Jadi, ini adalah Pancasila dalam kemasan pendidikan karakter yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," terangnya.
Ketua Akademi Perempuan NasDem (APN), Amelia Anggraini, menegaskan bahwa landasan budaya dan Pancasila ini sangat penting sebagai jangkar bagi generasi muda di tengah arus digitalisasi. Pembentukan karakter yang berpijak pada akar budaya dinilai ampuh menumbuhkan rasa percaya diri remaja perempuan agar tidak mudah terombang-ambing oleh standar semu di media sosial.
"Ini adalah kelas care leadership, kelas kepemimpinan tentang bagaimana menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan diri anak-anak muda. Tentu dengan selalu berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Mereka harus tahu bahwa setiap orang mempunyai potensi dan bagaimana cara mengembangkannya," ujar Amelia.
Pendekatan organik yang menggabungkan budaya lokal dan realitas perempuan Indonesia ini nyatanya sangat mengena bagi para peserta. Nadhira (16), salah satu peserta pelatihan, mengaku mendapatkan perspektif baru yang mendobrak standar kecantikan konvensional.
"Kita jadi tahu perbedaan standar kecantikan di berbagai negara. Di Indonesia itu standar kecantikannya tidak cuma dari paras saja. Tapi kita itu harus bisa multitasking seperti ibu kita, yang bekerja, berberes rumah, memasak, dan mengurus kita. Pelajaran yang aku tangkap, kita harus bisa multitasking sebagai perempuan yang tangguh," ungkap Nadhira.
Baca Juga :
Ajak Perempuan Muda Kuasai Diri, Gerakan Ayo Jadi Avatar Hadirkan Pelatihan Kepemimpinan Seru
Melalui kombinasi apik antara tren modern, kearifan lokal, dan pemahaman emosional ini, Akademi Perempuan NasDem menargetkan lahirnya generasi pemimpin perempuan masa depan yang tidak hanya kompeten secara skill, tetapi juga memiliki akar karakter yang kuat menuju Indonesia Emas.
Jakarta:
Akademi Perempuan NasDem (APN) menghadirkan pendekatan unik dalam melatih karakter kepemimpinan remaja perempuan melalui acara bertajuk Care Leadership For Girls: Ayo Jadi Avatar. Pelatihan ini secara kreatif memadukan elemen populer dari serial animasi "Avatar", kearifan lokal Jawa Sedulur Papat Limo Pancer, dan implementasi nyata nilai-nilai Pancasila.
Panitia Pengarah Kegiatan APN, Eva Sundari, menjelaskan bahwa konsep elemen Avatar, yakni tanah, air, udara, dan api yang sangat relevan dengan filosofi Nusantara tentang elemen pembentuk jati diri manusia. Melalui pendekatan pop-kultur ini, para peserta yang didominasi siswi SMP dan SMA diajak untuk mampu mengendalikan "elemen" emosi di dalam diri mereka sebelum memimpin orang lain.
"Kita pakai pendekatan konsep Avatar. Avatar itu kan tanah, udara, air, sama api. Di dalam diri kita itu kan ada itu, atau kalau konsep lokalnya seperti Sedulur Papat Limo Pancer" jelas Eva.
Eva menambahkan, penguasaan diri ini bermuara pada pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari yang jauh dari kesan doktrinal.
"Kamu tidak boleh diskriminasi, harus memegang prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak anti-minoritas. Ayo jaga kesatuan tanah dan sayangi alam untuk sila kelima. Jadi, ini adalah Pancasila dalam kemasan pendidikan karakter yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," terangnya.
Ketua Akademi Perempuan NasDem (APN), Amelia Anggraini, menegaskan bahwa landasan budaya dan Pancasila ini sangat penting sebagai jangkar bagi generasi muda di tengah arus digitalisasi. Pembentukan karakter yang berpijak pada akar budaya dinilai ampuh menumbuhkan rasa percaya diri remaja perempuan agar tidak mudah terombang-ambing oleh standar semu di media sosial.
"Ini adalah kelas care leadership, kelas kepemimpinan tentang bagaimana menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan diri anak-anak muda. Tentu dengan selalu berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Mereka harus tahu bahwa setiap orang mempunyai potensi dan bagaimana cara mengembangkannya," ujar Amelia.
Pendekatan organik yang menggabungkan budaya lokal dan realitas perempuan Indonesia ini nyatanya sangat mengena bagi para peserta. Nadhira (16), salah satu peserta pelatihan, mengaku mendapatkan perspektif baru yang mendobrak standar kecantikan konvensional.
"Kita jadi tahu perbedaan standar kecantikan di berbagai negara. Di Indonesia itu standar kecantikannya tidak cuma dari paras saja. Tapi kita itu harus bisa multitasking seperti ibu kita, yang bekerja, berberes rumah, memasak, dan mengurus kita. Pelajaran yang aku tangkap, kita harus bisa multitasking sebagai perempuan yang tangguh," ungkap Nadhira.
Melalui kombinasi apik antara tren modern, kearifan lokal, dan pemahaman emosional ini, Akademi Perempuan NasDem menargetkan lahirnya generasi
pemimpin perempuan masa depan yang tidak hanya kompeten secara skill, tetapi juga memiliki akar karakter yang kuat menuju Indonesia Emas.
(RUL)