Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa penerapan deep learning pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat penting untuk melahirkan generasi penerus yang berdaya saing di masa depan. Menurutnya, dalam hal ini kapasitas guru sangat dibutuhkan.
"Penguatan kapasitas guru sebagai ujung tombak transformasi pada penerapan deep learning (pembelajaran mendalam) pada PAUD harus segera dilakukan, sehingga sistem pembelajaran itu dapat diimplementasikan," kata Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin, 27 Juli 2026.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, Rabu (22/7), menegaskan bahwa deep learning merupakan paradigma pembelajaran yang perlu diadopsi dalam sistem pendidikan nasional, sejak PAUD.
Deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, bukan hafalan. Sehingga anak memiliki kemampuan menganalisa, menerapkan, dan berinovasi.
Tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi penerapan pendekatan tersebut, yang didukung pemetaan minat dan tahap perkembangan anak serta lingkungan belajar yang aman dan membuat setiap anak merasa diterima dalam proses belajar.
Menurut Lestari, pemahaman atas proses deep learning masih perlu dipertajam lagi, agar sistem pembelajaran tersebut dapat diimplementasikan dalam proses pendidikan.
Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Semester Genap 2025/2026 mencatat ada 6.230.051 peserta didik dan 509.359 pendidik PAUD di Indonesia.
Berdasarkan studi mengenai Persepsi Guru tentang pembelajaran mendalam, sebanyak 37% guru menghadapi tantangan yang bersumber dari keterbatasan pemahaman, sarana, minimnya pelatihan, dan beratnya tugas administratif.
Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD untuk anak usia 3-6 tahun baru mencapai sekitar 46% pada 2026.
Sementara itu, porsi anggaran PAUD masih di bawah 2% dari anggaran pendidikan nasional, jauh dari rekomendasi global sebesar 10%.
Berdasarkan kondisi itu, Rerie, sapaan akrab Lestari, menegaskan bahwa perluasan akses dan peningkatan kualitas harus berjalan beriringan.
"Peran guru yang didukung oleh orang tua, sangat signifikan untuk melakukan perubahan dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang lebih baik," ujar Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu.
Dukungan itu juga harus diikuti dengan penyediaan sarana yang memadai dan pengurangan beban administrasi yang berlebihan, sehingga memungkinkan guru fokus pada pembelajaran yang berkualitas.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berpendapat bahwa esensi dari deep learning adalah pendidikan yang holistik, sehingga guru harus mampu menjawab keingintahuan murid dan menumbuhkan kemandirian belajar.
Rerie meyakini bahwa deep learning sangat dibutuhkan dalam upaya pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) nasional yang tangguh dan berdaya saing di masa datang
Menurut Rerie, upaya mendidik adalah investasi bagi masa depan bangsa, yang lahir dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik.
"Optimisme itu harus diwujudkan melalui kolaborasi erat antara pemerintah, guru, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan, agar pendidikan yang bermakna dapat dinikmati oleh seluruh anak Indonesia," pungkas Rerie.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan