Jakarta: Kemudahan mengakses informasi melalui media sosial dan kecerdasan artifisial (AI) membawa tantangan baru bagi masyarakat, terutama generasi muda. Kemampuan memilah informasi, memeriksa kebenaran, dan berpikir kritis menjadi semakin penting agar tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang belum terverifikasi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Museum Penerangan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meluncurkan buku Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Rabu, 28 Oktober 2026.
Peluncuran buku yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda itu juga diisi diskusi MuspenTalk bertajuk Menjaga Arus, Menata Pesan. Acara tersebut melibatkan ratusan pelajar dari SMK Budhi Agung, SMA Negeri 54 Jakarta, SMA Negeri 14 Jakarta, dan SMK Negeri 51 Jakarta.
Kegiatan ini menjadi sarana untuk mengenalkan perjalanan komunikasi di Indonesia sekaligus mengajak generasi muda memahami perubahan lanskap informasi. Sejarah komunikasi diharapkan dapat menjadi bekal bagi pelajar untuk menghadapi perkembangan teknologi dan media digital secara lebih bijak.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menilai kemajuan teknologi telah mengubah cara masyarakat bertukar informasi. Meski medium komunikasi terus berkembang, prinsip menyampaikan informasi yang akurat dan tepercaya harus tetap menjadi pegangan.
"Medianya berkembang, teknologinya semakin cepat, tetapi satu hal tidak boleh berubah: tanggung jawab kita untuk menghadirkan informasi yang benar, bermanfaat, dan dapat dipercaya," kata Meutya melalui sambutan video pada pembukaan acara.
Ia menambahkan, komunikasi publik memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan pesan kepada masyarakat. Komunikasi juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan menciptakan ruang publik yang sehat.
Meutya turut mengapresiasi upaya Museum Penerangan dalam menjaga warisan sejarah komunikasi Indonesia. Menurutnya, sejarah perlu terus dihadirkan dengan pendekatan yang relevan agar dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh generasi masa kini. Peringatan Hari Sumpah Pemuda pun menjadi momentum untuk mengingat kembali peran komunikasi dalam memperkuat persatuan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi Fifi Aleyda Yahya menyoroti derasnya informasi yang beredar di ruang digital. Menurutnya, kecepatan penyebaran informasi kerap tidak diimbangi dengan proses pemeriksaan fakta yang memadai.
"Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa mendapatkan informasi. Sekarang kita menghadapi tsunami informasi. Masalahnya, apakah kita masih punya waktu untuk berpikir sebelum percaya dan membagikannya?" ujar Fifi.
Ia mengingatkan bahwa pengguna media sosial perlu membiasakan diri memeriksa sumber dan kebenaran informasi sebelum meneruskannya kepada orang lain. Sikap tersebut penting untuk mencegah penyebaran informasi keliru yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Fifi juga menekankan bahwa perkembangan AI perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir mandiri. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran dan kreativitas, tetapi pengguna tetap harus mampu menilai informasi, mempertanyakan hasil yang diperoleh, serta mengambil keputusan secara kritis.
Mengutip pandangan Meutya Hafid, Fifi menegaskan bahwa kecerdasan buatan seharusnya menjadi pendukung kemampuan manusia, bukan pengganti proses berpikir.
"AI adalah alat bantu, tapi kita harus tetap belajar agar mengasah kecerdasan yang hakiki," katanya.
Dari sisi pelestarian sejarah, Kepala Museum Penerangan Rizki Andono Prakoso menjelaskan bahwa buku tersebut disusun untuk merekam perkembangan komunikasi Indonesia dari masa ke masa. Perjalanan itu mencakup penggunaan telegraf, radio, dan televisi hingga peralihan menuju media digital.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan sejarah komunikasi dengan cara yang lebih dekat dan relevan bagi generasi masa kini, khususnya generasi muda," kata Rizki.
Ia menjelaskan, Museum Penerangan berupaya mengembangkan perannya agar tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi dan dokumentasi masa lalu. Museum juga diharapkan menjadi ruang belajar yang memungkinkan masyarakat memahami perubahan teknologi komunikasi serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan tersebut, pelajar diharapkan dapat melihat keterkaitan antara perkembangan media pada masa lalu dan tantangan komunikasi saat ini. Pemahaman sejarah juga diharapkan mendorong mereka memanfaatkan media secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.
Diskusi MuspenTalk turut menghadirkan praktisi komunikasi dan pemerhati museum R. Wahyuningrat serta praktisi komunikasi sekaligus public speaking coach Patricia Ranieta. Keduanya membahas dinamika komunikasi dari masa lalu hingga masa depan, termasuk perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi dan pengaruh perkembangan AI.
Acara tersebut juga dihadiri Staf Khusus Menkomdigi Bidang Kepemudaan dan Startup Alfreno Kautsar Ramadhan, Direktur Komunikasi Publik Nunik Purwanti, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Sonny Hendra Sudaryana, serta perwakilan TMII.
Melalui peluncuran buku dan dialog bersama pelajar, Museum Penerangan berharap sejarah komunikasi dapat menjadi sumber pengetahuan yang relevan untuk menjawab persoalan masa kini. Di tengah banjir informasi digital, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menilai kebenarannya dan berperan dalam menjaga kualitas ruang publik.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan