Logo Hari Pramuka ke-65 (Sumber: pramuka.or.id)
Logo Hari Pramuka ke-65 (Sumber: pramuka.or.id)

Hari Pramuka di Era Digital, Masih Relevan atau Mulai Ketinggalan Zaman?

Annisa ayu artanti • 14 Agustus 2026 11:29
Ringkasnya gini..
  • Hari Pramuka ke-65 pada 2026 menjadi momentum untuk melihat kembali relevansi Pramuka di tengah perkembangan AI, media sosial, dan teknologi digital.
  • Nilai seperti kepemimpinan, kerja sama, kemandirian, dan kecakapan hidup yang diajarkan Pramuka masih relevan bagi Gen Z, meski cara penyampaiannya perlu mengikuti perkembangan zaman.
  • Perkembangan Pramuka di Indonesia dan gerakan kepanduan dunia menunjukkan bahwa teknologi justru bisa menjadi alat untuk membuat kegiatan kepanduan semakin dekat dengan generasi muda.
Jakarta: Bayangkan Gen Z diminta camping tanpa Google Maps, mencari arah tanpa GPS, atau menyampaikan pesan tanpa WhatsApp. Kedengarannya seperti tantangan yang cukup buat panik, tetapi situasi semacam ini justru sudah lama menjadi bagian dari kegiatan Pramuka.
 
Setiap 14 Agustus, Gerakan Pramuka kembali memperingati hari jadinya di Indonesia. Namun, ketika kehidupan anak muda semakin dekat dengan smartphone, media sosial, AI dan internet, apakah Pramuka masih relevan bagi generasi yang tumbuh di era digital?

Hari Pramuka 2026, Memasuki Usia 65 Tahun

Gerakan Pramuka resmi diperkenalkan pada 14 Agustus 1961 dan menjadi organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia. Nama Pramuka sendiri merupakan singkatan dari Praja Muda Karana yang berarti orang muda yang suka berkarya.
 
Tahun ini, Pramuka memasuki peringatan ke-65 tahun. Dilansir dari laman resmi Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pada Jumat, 14 Agustus 2026, peringatan tahun ini mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”, yang sekaligus menegaskan arah Pramuka agar semakin adaptif dan berkontribusi terhadap agenda pembangunan nasional.

Tema tersebut menunjukkan bahwa Pramuka tidak hanya berbicara tentang kegiatan perkemahan atau keterampilan di alam terbuka. Ada upaya untuk menempatkan organisasi sebagai wadah pembinaan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman, termasuk menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat.
 
Baca Juga: Gerakan Pramuka Harus Mampu Mengakselerasi Lahirnya Generasi Penerus yang Berdaya Saing

Pramuka Bukan Cuma Soal Tali-Temali

Kalau Pramuka hanya dilihat dari aktivitas seperti tali-temali, semaphore, sandi, dan berkemah, wajar jika sebagian Gen Z menganggapnya sebagai kegiatan yang cukup jadul. Padahal, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 menegaskan Gerakan Pramuka memiliki peran dalam pembentukan kepribadian, pengendalian diri, serta kecakapan hidup generasi muda untuk menghadapi perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.
 
Artinya, kegiatan tersebut sebenarnya menjadi media untuk melatih kemampuan yang lebih luas. Ketika anggota Pramuka bekerja dalam regu untuk mendirikan tenda, misalnya, mereka belajar berkomunikasi, membagi tugas, memimpin, bekerja sama, sekaligus mencari solusi ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan.
 
Kemampuan seperti itu justru masih dibutuhkan di era digital, bahkan ketika sebagian pekerjaan sudah dibantu AI

Dunia Digital Berubah, Pramuka Ikut Beradaptasi

Upaya beradaptasi dengan teknologi sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi Gerakan Pramuka. Dalam rancangan Rencana Strategis Gerakan Pramuka 2024–2028, Kwarnas menempatkan pengembangan kualitas sumber daya manusia dan pembinaan kaum muda sebagai bagian dari arah strategis organisasi untuk menghadapi perubahan kehidupan.
 
Contoh konkretnya terlihat ketika Kwartir Nasional mengapresiasi peluncuran Super Apps Pramuka Jawa Barat pada 2022. Dalam sambutannya, Kwarnas menyebut aplikasi berbasis internet tersebut dapat membantu penyebaran informasi dan koordinasi kegiatan sekaligus menjawab kebutuhan anggota Pramuka yang semakin dekat dengan perangkat digital.
 
Bahkan, Kwarnas saat itu secara langsung mengaitkan kehadiran aplikasi tersebut dengan kebutuhan generasi muda. “Pada era digitalisasi saat ini, keberadaan aplikasi ini juga diharapkan memenuhi harapan kaum muda,”  sambutan Kwarnas dalam peluncuran Super Apps Pramuka Jawa Barat yang dilansir pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Dari Sandi ke Literasi Digital, Pramuka Masih Punya Ruang

Di masa lalu, anggota Pramuka belajar menyampaikan pesan melalui sandi atau semaphore, sedangkan generasi sekarang menghadapi tantangan komunikasi yang jauh lebih kompleks di internet. Anak muda bukan hanya perlu mampu berkomunikasi, tetapi juga dituntut bisa memilah informasi, mengenali disinformasi, menjaga keamanan digital, serta bertanggung jawab ketika menggunakan media sosial.
 
Pramuka bisa tetap mengajarkan navigasi, tetapi ditambah pemahaman teknologi GPS. Tetap melatih komunikasi sekaligus membahas etika bermedia sosial dan tetap membangun kepemimpinan di lapangan, sembari mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin yang bertanggung jawab di ruang digital.
 
Di tengah era AI, media sosial, dan banjir informasi, kemampuan manusia untuk bekerja sama, berpikir kritis, mandiri, dan beradaptasi justru semakin dibutuhkan. (Wisa Irena Br Sitepu)
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>