Jakarta: Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami erupsi. Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan erupsi gunung tidak serta-merta berarti tsunami akan terjadi.
Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rita Susilawati, meminta masyarakat tetap tenang sekaligus mengikuti perkembangan aktivitas gunung melalui sumber informasi resmi pemerintah.
"Erupsi tidak otomatis menimbulkan tsunami," kataaa Rita dikutip dari Infopublik.
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga. Status tersebut telah diberlakukan sejak 2 Juli 2026.
Dengan status tersebut, PVMBG merekomendasikan masyarakat, nelayan, pengunjung, hingga wisatawan untuk tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Saat itu, kolom abu vulkanik teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak gunung.
Menurut Rita, kondisi tersebut perlu direspons dengan kewaspadaan, bukan kepanikan. Masyarakat yang berada di sekitar gunung api diminta memahami kondisi lingkungan dan mengikuti rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan PVMBG.
Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau juga sebaiknya tidak diperoleh dari kabar yang belum terverifikasi.
PVMBG meminta masyarakat mengandalkan informasi dari pemerintah daerah maupun lembaga resmi terkait agar tidak terpengaruh kabar yang dapat menimbulkan kepanikan.
Enam Gunung Erupsi Bersamaan, Bukan Berarti Saling Terhubung
PVMBG juga meluruskan anggapan bahwa erupsi beberapa gunung api di Indonesia pada waktu yang berdekatan menunjukkan adanya satu pemicu yang sama.
Rita menjelaskan, waktu erupsi yang berbarengan tidak otomatis menunjukkan bahwa aktivitas gunung-gunung tersebut memiliki hubungan secara magmatik.
"Bersamaan waktunya, belum berarti berhubungan prosesnya," ujarnya.
Artinya, masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa erupsi sejumlah gunung api dalam waktu yang sama merupakan bagian dari satu fenomena besa
Selain Gunung Anak Krakatau, aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, juga meningkat.
PVMBG menaikkan status Gunung Sinabung menjadi Level III (Siaga) pada 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB.
Peningkatan status tersebut dilakukan setelah terjadi erupsi sekitar pukul 10.17 WIB. Kolom abu vulkanik teramati mencapai ketinggian sekitar 3.500 meter di atas puncak, dengan sebaran abu cenderung mengarah ke timur dan tenggara.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya melaporkan sebanyak 615 warga desa dievakuasi oleh petugas gabungan ke lokasi pengungsian sebagai langkah antisipasi terhadap dampak erupsi.
Situasi tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas gunung api memang perlu direspons serius. Namun, kewaspadaan tetap harus dibarengi dengan informasi yang akurat agar masyarakat tidak mengambil kesimpulan berdasarkan kabar yang belum jelas sumbernya.
Jakarta: Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami erupsi. Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan erupsi gunung tidak serta-merta berarti tsunami akan terjadi.
Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rita Susilawati, meminta masyarakat tetap tenang sekaligus mengikuti perkembangan aktivitas gunung melalui sumber informasi resmi pemerintah.
"Erupsi tidak otomatis menimbulkan tsunami," kataaa Rita dikutip dari
Infopublik.
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga. Status tersebut telah diberlakukan sejak 2 Juli 2026.
Dengan status tersebut, PVMBG merekomendasikan masyarakat, nelayan, pengunjung, hingga wisatawan untuk tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Saat itu, kolom abu vulkanik teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak gunung.
Menurut Rita, kondisi tersebut perlu direspons dengan kewaspadaan, bukan kepanikan. Masyarakat yang berada di sekitar gunung api diminta memahami kondisi lingkungan dan mengikuti rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan PVMBG.
Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau juga sebaiknya tidak diperoleh dari kabar yang belum terverifikasi.
PVMBG meminta masyarakat mengandalkan informasi dari pemerintah daerah maupun lembaga resmi terkait agar tidak terpengaruh kabar yang dapat menimbulkan kepanikan.
Enam Gunung Erupsi Bersamaan, Bukan Berarti Saling Terhubung
PVMBG juga meluruskan anggapan bahwa erupsi beberapa gunung api di Indonesia pada waktu yang berdekatan menunjukkan adanya satu pemicu yang sama.
Rita menjelaskan, waktu erupsi yang berbarengan tidak otomatis menunjukkan bahwa aktivitas gunung-gunung tersebut memiliki hubungan secara magmatik.
"Bersamaan waktunya, belum berarti berhubungan prosesnya," ujarnya.
Artinya, masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa erupsi sejumlah gunung api dalam waktu yang sama merupakan bagian dari satu fenomena besa
Selain Gunung Anak Krakatau, aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, juga meningkat.
PVMBG menaikkan status Gunung Sinabung menjadi Level III (Siaga) pada 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB.
Peningkatan status tersebut dilakukan setelah terjadi erupsi sekitar pukul 10.17 WIB. Kolom abu vulkanik teramati mencapai ketinggian sekitar 3.500 meter di atas puncak, dengan sebaran abu cenderung mengarah ke timur dan tenggara.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya melaporkan sebanyak 615 warga desa dievakuasi oleh petugas gabungan ke lokasi pengungsian sebagai langkah antisipasi terhadap dampak erupsi.
Situasi tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas gunung api memang perlu direspons serius. Namun, kewaspadaan tetap harus dibarengi dengan informasi yang akurat agar masyarakat tidak mengambil kesimpulan berdasarkan kabar yang belum jelas sumbernya.
(SAW)