Uneng: Terik matahari yang menyengat tak menyurutkan langkah para personel kepolisian untuk terus berpacu dengan waktu. Dengan tubuh yang dibasahi peluh keringat, para petugas bahu-membahu menegakkan tiang demi tiang tenda darurat agar para siswa SMPN 1 Maumere bisa kembali melangsungkan aktivitas belajar secara layak.
Siswa-siswi SMPN 1 Maumere mesti memulai pembelajaran pasca gempa M 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur di tenda darurat. Bangunan sekolah mereka dinyatakan berisiko untuk menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas.
Kepala Sekolah SMPN 1 Maumere Maria Helina mengungkapkan bahwa sejumlah ruang kelas, terutama dua ruangan yang mengalami kerusakan cukup parah.
Pada bagian bangunan, besi-besi penopang juga sudah tampak. Sementara di lantai dua, hampir setiap ruang kelas mengalami keretakan.
Kondisi inilah yang kemudian membuat Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka memutuskan untuk SMPN 1 KBM digelar di tenda darurat. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Maumere menjadi lokasi pemasangan tenda darurat.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mengirim paket bantuan tenda untuk KBM SMPN 1 Maumere. Ada dua tenda yang diberikan.
Personel Kepolisian Bantu Dirikan Tenda
Personel kepolisian ikut terlibat dalam pemasangan tenda ini. Panas terik matahari tidak menyurutkan semangat mereka untuk mendirikan tenda yang akan menjadi ruang belajar sementara para siswa.
(Personil kepolisian menurunkan perlengkapan tenda)
Aksi penuh semangat ini disaksikan langsung Kepala Sekolah SMPN 1 Maumere, Maria. Ia mengapresiasi aksi para personil yang terlibat.
“Satu tenda sudah jadi. Satunya sementara Bapak Polisi dan Bapak Brimob membantu membangun," katanya.
(Pemasangan tenda kelas)
Para personil kepolisian ini saling berbagi peran saat memasang tenda. Mulai dari bongkar muat, memasang besi penyangga hingga menuntaskan pemasangan terpal putih yang menjadi penutup tenda bantuan Kemendikdasmen.
Uneng: Terik matahari yang menyengat tak menyurutkan langkah para personel kepolisian untuk terus berpacu dengan waktu. Dengan tubuh yang dibasahi peluh keringat, para petugas bahu-membahu menegakkan tiang demi tiang tenda darurat agar para siswa SMPN 1 Maumere bisa kembali melangsungkan aktivitas belajar secara layak.
Siswa-siswi SMPN 1 Maumere mesti memulai pembelajaran pasca gempa M 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur di tenda darurat. Bangunan sekolah mereka dinyatakan berisiko untuk menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas.
Kepala Sekolah SMPN 1 Maumere Maria Helina mengungkapkan bahwa sejumlah ruang kelas, terutama dua ruangan yang mengalami kerusakan cukup parah.
Pada bagian bangunan, besi-besi penopang juga sudah tampak. Sementara di lantai dua, hampir setiap ruang kelas mengalami keretakan.
Kondisi inilah yang kemudian membuat Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka memutuskan untuk SMPN 1 KBM digelar di tenda darurat. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Maumere menjadi lokasi pemasangan tenda darurat.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mengirim paket bantuan tenda untuk KBM SMPN 1 Maumere. Ada dua tenda yang diberikan.
Personel Kepolisian Bantu Dirikan Tenda
Personel kepolisian ikut terlibat dalam pemasangan tenda ini. Panas terik matahari tidak menyurutkan semangat mereka untuk mendirikan tenda yang akan menjadi ruang belajar sementara para siswa.

(Personil kepolisian menurunkan perlengkapan tenda)
Aksi penuh semangat ini disaksikan langsung Kepala Sekolah SMPN 1 Maumere, Maria. Ia mengapresiasi aksi para personil yang terlibat.
“Satu tenda sudah jadi. Satunya sementara Bapak Polisi dan Bapak Brimob membantu membangun," katanya.

(Pemasangan tenda kelas)
Para personil kepolisian ini saling berbagi peran saat memasang tenda. Mulai dari bongkar muat, memasang besi penyangga hingga menuntaskan pemasangan terpal putih yang menjadi penutup tenda bantuan Kemendikdasmen.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(RUL)