Kubu Raya: Hujan sempat turun di sejumlah wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa sore, 8 September 2026. Guyuran air dari langit itu menjadi sedikit kelegaan bagi petugas yang lebih dari dua bulan berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, hujan belum turun cukup lama dan merata untuk mengakhiri kekeringan. Sumber air warga masih menipis, sementara kebutuhan air bersih terus berjalan.
Karena itu, pemerintah Kabupaten Kubu Raya tetap mengerahkan armada untuk mengantar air kepada warga.
Galon, ember, dan berbagai wadah disiapkan ketika kendaraan pengangkut air tiba. Air yang datang kemudian dibagikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
Pemerintah Kabupaten Kubu Raya mencatat sekitar 570 ribu liter air telah didistribusikan kepada masyarakat dalam sepekan. Pada Rabu, 9 September 2026, distribusi kembali dilakukan dengan tambahan hampir 80 ribu liter.
Hujan membantu petugas menghadapi karhutla. Tetapi bagi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih, ikhtiar belum berhenti.
Hujan Membantu, tapi Bukan Untuk Air Bersih
Hujan Selasa sore setidaknya membantu membasahi sejumlah lahan yang sebelumnya kering.
Bagi petugas pemadam, kondisi tersebut menjadi sedikit kelegaan. Lahan yang mendapatkan hujan tidak lagi sekering sebelumnya sehingga upaya pengendalian api terbantu.
Bupati Kubu Raya Sujiwo juga mengatakan hujan yang turun turut membantu meredakan karhutla, meskipun sebagian hujan merupakan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Namun, hujan dengan durasi yang relatif singkat belum cukup untuk mengembalikan sumber air yang telah lama menurun akibat kemarau.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan, mengatakan air menjadi salah satu hambatan utama dalam penanganan karhutla.
"Air, yang paling utama. Yang kedua adalah angin. Yang ketiga adalah aksesibilitas," kata Syarif kepada Medcom.id.
Persoalan itu semakin terasa di kawasan gambut. Ketika kemarau berlangsung, permukaan air tanah ikut turun sehingga sumber air untuk pemadaman semakin sulit ditemukan.
Ada lokasi yang sudah memiliki personel dan peralatan, tetapi tidak memiliki sumber air yang memadai.
Air Bergerak Mendatangi Warga
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi bagian penting dari respons pemerintah.
Air dari sumber yang masih tersedia diangkut menggunakan kendaraan tangki menuju sejumlah wilayah yang membutuhkan.
Pemerintah tidak bergerak sendirian. TNI, Polri, PMI, BPBD, Manggala Agni, perusahaan dan berbagai unsur lainnya ikut membantu distribusi.
Armada dari berbagai pihak bergerak membawa air ke titik-titik yang telah ditentukan.
Di satu sisi, petugas mengisi kendaraan dengan air. Di sisi lain, warga menunggu dengan galon, ember dan wadah lainnya.
Rantai sederhana itu menjadi sangat berarti ketika sumber air di sekitar permukiman mulai sulit diandalkan.
Menurut Pemkab Kubu Raya, dukungan armada dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam mempercepat distribusi air kepada masyarakat. Pemerintah juga terus mencari sumber air tambahan untuk mengantisipasi jika kondisi kering berlangsung lebih lama.
Air Demi Warga, Air untuk Padamkan Api
Krisis air di Kubu Raya memiliki persoalan yang berlapis karena pada waktu yang sama masyarakat butuh air untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan petugas butuh air dalam jumlah besar untuk memadamkan karhutla.
Karena itu, pencarian sumber air menjadi bagian penting dari penanganan bencana.
BPBD Kubu Raya bersama berbagai pihak telah membangun sejumlah sumur bor untuk mendapatkan sumber air dari lapisan tanah yang lebih dalam.
Sumber air tersebut diharapkan dapat digunakan untuk kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pembasahan kembali lahan gambut ketika kondisi mulai kering.
Bagi pemerintah, langkah tersebut penting agar penanganan tidak selalu dilakukan setelah api membesar.
Menyiapkan Air Sebelum Api Datang
Pengalaman menghadapi karhutla membuat BPBD Kubu Raya juga mulai menyiapkan strategi jangka panjang.
Salah satunya dengan mengembangkan sistem peringatan dini yang dapat memantau perubahan muka air tanah gambut.
BPBD berencana bekerja sama dengan Universitas Tanjungpura untuk mengembangkan instrumen yang memungkinkan kondisi muka air tanah dipantau secara daring.
Ketika permukaan air tanah mulai turun hingga batas tertentu, tindakan pembasahan dapat dilakukan lebih cepat.
"Jangan sampai air muka tanahnya turun tanpa kita ketahui," ujar Syarif.
Dengan pendekatan tersebut, air tidak hanya dipandang sebagai alat untuk memadamkan api, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mencegah kebakaran.
Ketika Ikhtiar Berlanjut dalam Doa
Di tengah berbagai upaya teknis tersebut, pemerintah dan masyarakat Kubu Raya melakukan ikhtiar lain.
Rabu pagi, 9 September 2026, Pemkab Kubu Raya menggelar salat istisqa di halaman Kantor Bupati Kubu Raya.
Salat untuk memohon turunnya hujan itu diikuti jajaran Forkopimda, ulama, ASN, TNI, Polri dan unsur pemerintahan lainnya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadapi kekeringan dan kabut asap akibat karhutla.
Bupati Sujiwo mengatakan berbagai upaya penanganan di lapangan harus tetap berjalan. Namun, di tengah kondisi yang sulit, manusia juga perlu memohon pertolongan kepada Allah SWT.
"Allah itu Maha segala-galanya. Kalau Allah menghendaki, kapan saja hujan bisa turun. Dengan kita menghamba, merendahkan diri dan bermunajat bersama, mudah-mudahan Allah segera mengabulkan doa kita," ujar Sujiwo dikutip dari situs resmi Pemkab Kubu Raya.
“Yakinlah, kami, TNI, Polri, semua pihak juga akan terus berjuang semaksimal mungkin siang dan malam,” imbuhnya.
Salat istisqa itu menjadi gambaran bagaimana masyarakat Kubu Raya menghadapi kemarau dengan berbagai cara.
Ada yang berjibaku di lapangan.
Ada yang mengantar air.
Ada yang mencari sumber air baru.
Ada pula yang berkumpul dan berdoa agar hujan segera turun.
Menunggu Hujan, Sambil Terus Bergerak
Hujan yang turun Selasa sore memang belum menyelesaikan persoalan Kubu Raya. Namun, air dari langit setidaknya memberi sedikit bantuan bagi petugas yang menangani karhutla.
Sementara itu, pemerintah tetap menjalankan pekerjaan yang tidak bisa menunggu hujan berikutnya.
Air bersih terus diantar. Sumur bor disiapkan. Petugas tetap berjibaku di lapangan. Teknologi peringatan dini mulai dirancang.
Di tengah distribusi air yang terus berjalan, doa juga dipanjatkan agar hujan kembali turun dengan intensitas yang lebih panjang. Bagi Kubu Raya, semua itu adalah bentuk ikhtiar.
Sebagian air datang dari truk. Sebagian lagi diharapkan turun dari langit. Di antara keduanya, warga dan pemerintah terus bergerak bersama melewati kemarau.
Kubu Raya: Hujan sempat turun di sejumlah wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa sore, 8 September 2026. Guyuran air dari langit itu menjadi sedikit kelegaan bagi petugas yang lebih dari dua bulan berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, hujan belum turun cukup lama dan merata untuk mengakhiri kekeringan. Sumber air warga masih menipis, sementara kebutuhan air bersih terus berjalan.
Karena itu, pemerintah Kabupaten Kubu Raya tetap mengerahkan armada untuk mengantar air kepada warga.
Galon, ember, dan berbagai wadah disiapkan ketika kendaraan pengangkut air tiba. Air yang datang kemudian dibagikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
Pemerintah Kabupaten Kubu Raya mencatat sekitar 570 ribu liter air telah didistribusikan kepada masyarakat dalam sepekan. Pada Rabu, 9 September 2026, distribusi kembali dilakukan dengan tambahan hampir 80 ribu liter.
Hujan membantu petugas menghadapi karhutla. Tetapi bagi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih, ikhtiar belum berhenti.
Hujan Membantu, tapi Bukan Untuk Air Bersih
Hujan Selasa sore setidaknya membantu membasahi sejumlah lahan yang sebelumnya kering.
Bagi petugas pemadam, kondisi tersebut menjadi sedikit kelegaan. Lahan yang mendapatkan hujan tidak lagi sekering sebelumnya sehingga upaya pengendalian api terbantu.
Bupati Kubu Raya Sujiwo juga mengatakan hujan yang turun turut membantu meredakan karhutla, meskipun sebagian hujan merupakan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Namun, hujan dengan durasi yang relatif singkat belum cukup untuk mengembalikan sumber air yang telah lama menurun akibat kemarau.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan, mengatakan air menjadi salah satu hambatan utama dalam penanganan karhutla.
"Air, yang paling utama. Yang kedua adalah angin. Yang ketiga adalah aksesibilitas," kata Syarif kepada Medcom.id.
Persoalan itu semakin terasa di kawasan gambut. Ketika kemarau berlangsung, permukaan air tanah ikut turun sehingga sumber air untuk pemadaman semakin sulit ditemukan.
Ada lokasi yang sudah memiliki personel dan peralatan, tetapi tidak memiliki sumber air yang memadai.
Air Bergerak Mendatangi Warga
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi bagian penting dari respons pemerintah.
Air dari sumber yang masih tersedia diangkut menggunakan kendaraan tangki menuju sejumlah wilayah yang membutuhkan.
Pemerintah tidak bergerak sendirian. TNI, Polri, PMI, BPBD, Manggala Agni, perusahaan dan berbagai unsur lainnya ikut membantu distribusi.
Armada dari berbagai pihak bergerak membawa air ke titik-titik yang telah ditentukan.
Di satu sisi, petugas mengisi kendaraan dengan air. Di sisi lain, warga menunggu dengan galon, ember dan wadah lainnya.
Rantai sederhana itu menjadi sangat berarti ketika sumber air di sekitar permukiman mulai sulit diandalkan.
Menurut Pemkab Kubu Raya, dukungan armada dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam mempercepat distribusi air kepada masyarakat. Pemerintah juga terus mencari sumber air tambahan untuk mengantisipasi jika kondisi kering berlangsung lebih lama.
Air Demi Warga, Air untuk Padamkan Api
Krisis air di Kubu Raya memiliki persoalan yang berlapis karena pada waktu yang sama masyarakat butuh air untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan petugas butuh air dalam jumlah besar untuk memadamkan karhutla.
Karena itu, pencarian sumber air menjadi bagian penting dari penanganan bencana.
BPBD Kubu Raya bersama berbagai pihak telah membangun sejumlah sumur bor untuk mendapatkan sumber air dari lapisan tanah yang lebih dalam.
Sumber air tersebut diharapkan dapat digunakan untuk kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pembasahan kembali lahan gambut ketika kondisi mulai kering.
Bagi pemerintah, langkah tersebut penting agar penanganan tidak selalu dilakukan setelah api membesar.
Menyiapkan Air Sebelum Api Datang
Pengalaman menghadapi karhutla membuat BPBD Kubu Raya juga mulai menyiapkan strategi jangka panjang.
Salah satunya dengan mengembangkan sistem peringatan dini yang dapat memantau perubahan muka air tanah gambut.
BPBD berencana bekerja sama dengan Universitas Tanjungpura untuk mengembangkan instrumen yang memungkinkan kondisi muka air tanah dipantau secara daring.
Ketika permukaan air tanah mulai turun hingga batas tertentu, tindakan pembasahan dapat dilakukan lebih cepat.
"Jangan sampai air muka tanahnya turun tanpa kita ketahui," ujar Syarif.
Dengan pendekatan tersebut, air tidak hanya dipandang sebagai alat untuk memadamkan api, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mencegah kebakaran.
Ketika Ikhtiar Berlanjut dalam Doa
Di tengah berbagai upaya teknis tersebut, pemerintah dan masyarakat Kubu Raya melakukan ikhtiar lain.
Rabu pagi, 9 September 2026, Pemkab Kubu Raya menggelar salat istisqa di halaman Kantor Bupati Kubu Raya.
Salat untuk memohon turunnya hujan itu diikuti jajaran Forkopimda, ulama, ASN, TNI, Polri dan unsur pemerintahan lainnya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadapi kekeringan dan kabut asap akibat karhutla.
Bupati Sujiwo mengatakan berbagai upaya penanganan di lapangan harus tetap berjalan. Namun, di tengah kondisi yang sulit, manusia juga perlu memohon pertolongan kepada Allah SWT.
"Allah itu Maha segala-galanya. Kalau Allah menghendaki, kapan saja hujan bisa turun. Dengan kita menghamba, merendahkan diri dan bermunajat bersama, mudah-mudahan Allah segera mengabulkan doa kita," ujar Sujiwo dikutip dari situs resmi Pemkab Kubu Raya.
“Yakinlah, kami, TNI, Polri, semua pihak juga akan terus berjuang semaksimal mungkin siang dan malam,” imbuhnya.
Salat istisqa itu menjadi gambaran bagaimana masyarakat Kubu Raya menghadapi kemarau dengan berbagai cara.
Ada yang berjibaku di lapangan.
Ada yang mengantar air.
Ada yang mencari sumber air baru.
Ada pula yang berkumpul dan berdoa agar hujan segera turun.
Menunggu Hujan, Sambil Terus Bergerak
Hujan yang turun Selasa sore memang belum menyelesaikan persoalan Kubu Raya. Namun, air dari langit setidaknya memberi sedikit bantuan bagi petugas yang menangani karhutla.
Sementara itu, pemerintah tetap menjalankan pekerjaan yang tidak bisa menunggu hujan berikutnya.
Air bersih terus diantar. Sumur bor disiapkan. Petugas tetap berjibaku di lapangan. Teknologi peringatan dini mulai dirancang.
Di tengah distribusi air yang terus berjalan, doa juga dipanjatkan agar hujan kembali turun dengan intensitas yang lebih panjang. Bagi Kubu Raya, semua itu adalah bentuk ikhtiar.
Sebagian air datang dari truk. Sebagian lagi diharapkan turun dari langit. Di antara keduanya, warga dan pemerintah terus bergerak bersama melewati kemarau.
(KAH)