Jakarta: Dilansir dari laman resminya pada Sabtu, 26 September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli–September.
Sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami kondisi kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dari normal. BMKG juga menyebut bahwa kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino.
“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dikutip pada Sabtu, 26 September 2026.
Kemarau yang panjang memicu keluhan masyarakat akibat terganggunya pasokan air. Sebagai solusi, pengeboran sumur bisa mulai dipertimbangkan untuk mengatasi kekurangan air.
Baca Juga :
Waduk Mengering, Padang Rumput Terbentang di Musim Kemarau
Harga Ngebor Sumur Tergantung Kedalaman
Dilansir dari laman Pusat Grosir Pompa, biaya sumur bor umumnya dihitung berdasarkan kedalaman pengeboran. Semakin dalam titik air yang harus dicapai, semakin besar pula biaya yang perlu disiapkan.
Salah satu penyedia jasa di Jabodetabek mencantumkan tarif pengeboran sekitar Rp150.000–Rp450.000 per meter untuk kategori tertentu. Sedangkan jenis deep well bisa mencapai sekitar Rp350.000–Rp780.000 per meter tergantung diameter dan spesifikasi pengeboran.
Namun, biaya yang perlu diperhitungkan bukan hanya ongkos membuat lubang sumur. Penyedia jasa mencantumkan sejumlah komponen lain seperti pipa casing, pompa, instalasi, hingga kebutuhan pengujian atau survei lokasi, sehingga total pengeluaran bisa berbeda jauh dari hitungan tarif per meter. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jakarta: Dilansir dari laman resminya pada Sabtu, 26 September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim
kemarau 2026 berlangsung pada Juli–September.
Sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami kondisi kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dari normal. BMKG juga menyebut bahwa kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino.
“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dikutip pada Sabtu, 26 September 2026.
Kemarau yang panjang memicu keluhan masyarakat akibat terganggunya pasokan air. Sebagai solusi, pengeboran sumur bisa mulai dipertimbangkan untuk mengatasi kekurangan air.
Harga Ngebor Sumur Tergantung Kedalaman
Dilansir dari laman
Pusat Grosir Pompa, biaya sumur bor umumnya dihitung berdasarkan kedalaman pengeboran. Semakin dalam titik air yang harus dicapai, semakin besar pula biaya yang perlu disiapkan.
Salah satu penyedia jasa di Jabodetabek mencantumkan tarif pengeboran sekitar Rp150.000–Rp450.000 per meter untuk kategori tertentu. Sedangkan jenis
deep well bisa mencapai sekitar Rp350.000–Rp780.000 per meter tergantung diameter dan spesifikasi pengeboran.
Namun, biaya yang perlu diperhitungkan bukan hanya ongkos membuat lubang sumur. Penyedia jasa mencantumkan sejumlah komponen lain seperti pipa
casing, pompa, instalasi, hingga kebutuhan pengujian atau survei lokasi, sehingga total pengeluaran bisa berbeda jauh dari hitungan tarif per meter.
(Wisa Irena Br Sitepu)
(ANN)