Tim Satgas Darat BPBD Kalbar.  (Foto: Medcom.id/Zam)
Tim Satgas Darat BPBD Kalbar. (Foto: Medcom.id/Zam)

BPBD Kalbar Berlomba dengan Angin Demi Padamkan Karhutla

Kautsar Halim • 08 September 2026 22:07
Ringkasnya gini..
  • BPBD Kalbar menyebut petugas harus berlomba dengan angin saat menangani karhutla karena angin dapat membuat bara di bawah permukaan gambut kembali membara.
  • Angin juga membawa asap dari wilayah yang terbakar ke daerah lain, termasuk Pontianak yang secara administratif tidak menjadi lokasi kebakaran.
  • Pembasahan hingga ke lapisan bawah gambut dan hujan yang turun secara masif serta lama diperlukan untuk membantu memastikan bara benar-benar padam.
Pontianak: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat (Kalbar) menghadapi tantangan besar dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut. Selain harus memadamkan api, petugas juga harus berpacu dengan angin yang dapat membuat bara kembali membesar.

Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan angin sangat berpengaruh terhadap penanganan karhutla di lahan gambut.

"Petugas di lapangan itu berlomba juga dengan angin," kata Daniel kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).

Daniel selaku Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat (1)

Menurut Daniel, angin kencang dapat masuk ke bagian bawah lahan gambut dan meniup bara yang masih tersisa. Kondisi tersebut membuat bara kembali membara, terutama ketika material organik di bawah permukaan sudah dalam keadaan kering.

"Angin ini kan kalau dia semakin kencang berarti angin yang masuk di bawah itu kan meniup. Bara itu semakin membara," ujarnya.
 

Bara Gambut Bisa Kembali Membara


Karakteristik lahan gambut membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan.

Di bawah permukaan, masih dapat terdapat material organik yang kering dan menyimpan bara. Ketika mendapatkan suplai udara, bara tersebut berpotensi kembali aktif dan memicu kebakaran.

Karena itu, operasi pendinginan menjadi tahap penting setelah api di permukaan berhasil dikendalikan. Petugas harus memastikan lahan benar-benar basah sehingga bara yang tersisa tidak kembali membesar.

"Kalau masih ada asap muncul di area tersebut berarti masih ada potensi terbakar, ada api," kata Daniel.

Pembasahan juga harus dilakukan hingga mencapai lapisan gambut yang terbakar. Jika menggunakan selang, Daniel mengatakan nozzle harus diarahkan ke bawah permukaan agar air masuk ke titik bara.

"Bila perlu, area itu dibuat seperti bubur. Tanahnya itu. Jadi dibuat seperti bubur. Hancur dia. Nah, itu baru apinya dipastikan bisa padam," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, angin menjadi salah satu faktor yang membuat operasi pemadaman dan pendinginan di lahan gambut membutuhkan waktu serta upaya lebih besar.
 

Angin Juga Sebarkan Asap ke Pontianak


Selain memengaruhi bara di lokasi kebakaran, angin juga berperan dalam membawa asap ke wilayah yang sebenarnya tidak mengalami kebakaran.

Salah satunya Kota Pontianak. Kabut asap dapat menyelimuti Pontianak meski tidak berarti wilayah administratif kota sedang terbakar.

Daniel mengatakan asap yang terlihat di Pontianak dapat berasal dari kabupaten lain yang mengalami karhutla.

"Makanya tidak bisa kita memaknai kota Pontianak ini terbakar. Asapnya pekat, belum tentu (karena kebakaran)," ujarnya.

Dia menjelaskan wilayah Kota Pontianak secara administratif tidak terbakar. Namun, asap dari wilayah lain dapat terbawa angin hingga masuk ke kota.

"Kota Pontianak, area wilayah Kota Pontianak secara administrasi itu tidak terbakar. Tapi ada asap. Nah, asap ini dibawa dari kabupaten lain yang terbakar oleh angin," terang Daniel.

Kondisi ini pula yang membuat ketebalan asap di Pontianak dapat berubah dalam waktu relatif singkat.
 

Sore Makin Pekat, Malam Lebih Cerah


Daniel menjelaskan pengaruh angin juga dapat terlihat dari perubahan kondisi kabut asap di Pontianak sepanjang hari.

Pada sore hari, kabut asap cenderung lebih tebal dan pekat. Namun, memasuki malam hingga tengah malam, kondisi tersebut dapat berangsur membaik.

"Kalau kita perhatikan, sore hari kota Pontianak ini itu kabutnya tebal, pekat sekali. Tapi semakin tengah malam mulai berkurang. Nah, itu karena angin," ujar Daniel.

Angin yang bergerak membawa asap membuat konsentrasinya di suatu wilayah berubah. Karena itu, kondisi langit yang lebih cerah pada malam hari tidak dapat langsung dimaknai sebagai tanda karhutla telah selesai.

Selama masih terdapat sumber kebakaran di wilayah lain, asap tetap berpotensi bergerak menuju Pontianak mengikuti kondisi angin.
 

Petugas Juga Berpacu dengan Kondisi Lahan


Tantangan angin menjadi semakin besar ketika dikombinasikan dengan kondisi lahan gambut yang kering. Material organik yang telah kehilangan banyak kandungan air membuat bara lebih mudah bertahan dan kembali aktif.

Karena itu, menurut Daniel, pembasahan menjadi bagian penting dalam operasi penanganan karhutla. Air harus masuk ke lapisan gambut dan bukan hanya membasahi permukaan.

Hujan dengan durasi panjang juga sangat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan kelembapan lahan. Daniel menyebut hujan yang turun secara masif selama berjam-jam hingga seharian akan jauh lebih efektif dibandingkan hujan lokal yang hanya mengguyur sebagian wilayah.

"Untuk membereskan karhutla ini satu-satunya hujan yang terjadi secara masif dan lama. Jadi bila perlu empat sampai lima jam. Bila perlu seharian hujan. Nah, itu baru beres karhutla," katanya.

Namun, hujan sekalipun tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap operasi lapangan. Petugas tetap perlu memastikan tidak ada bara yang tertinggal di bawah permukaan gambut.

Dengan demikian, penanganan karhutla di Kalbar bukan hanya persoalan memadamkan api yang terlihat. Petugas juga harus memastikan bara di bawah permukaan benar-benar mati, sembari menghadapi angin yang dapat memperbesar bara sekaligus membawa asap ke wilayah lain.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KAH)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>