Pontianak: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) masih berlanjut, terutama di kawasan yang memiliki lahan gambut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar kini memasuki tahap operasi pendinginan untuk memastikan bara di bawah permukaan gambut benar-benar padam.
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan operasi pendinginan difokuskan untuk mengecek kembali lokasi yang sebelumnya terbakar. Sebab, api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan meski kobaran di atas tanah telah terlihat padam.
"Kalau masih ada asap muncul di area tersebut berarti masih ada potensi terbakar, ada api," kata Daniel kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).
Daniel menjelaskan, karakter lahan gambut membuat penanganan karhutla lebih sulit dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Bara dapat bertahan di lapisan bawah dan kembali membesar ketika kondisi lahan kering.
Karena itu, petugas harus memastikan air benar-benar masuk ke dalam lapisan gambut yang terbakar.
"Kalaupun menggunakan selang, nozzle-nya harus mengarah ke bawah. Bila perlu, area itu dibuat seperti bubur. Tanahnya itu. Jadi dibuat seperti bubur. Hancur dia. Nah, itu baru apinya dipastikan bisa padam," ujarnya.
Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara Jadi Fokus
Sejumlah wilayah di Kalbar menjadi perhatian dalam penanganan karhutla, terutama Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara. Ketiga wilayah tersebut memiliki kawasan gambut dan menjadi lokasi dengan luasan kebakaran yang cukup besar.
Berdasarkan data yang disampaikan BPBD Kalbar, konsentrasi personel penanganan karhutla juga lebih banyak ditempatkan di tiga wilayah tersebut. Kondisi lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan khusus.
Daniel sebelumnya menjelaskan Kalbar memiliki sekitar 2 juta hektare lahan gambut yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Ketapang, Kubu Raya, Mempawah, dan Kapuas Hulu. Namun, kawasan gambut yang saat ini menjadi lokasi penanganan karhutla secara masif antara lain Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya.
Di kawasan gambut, api tidak hanya membakar permukaan. Api dapat merambat ke lapisan bawah dan tetap menyala meski permukaan lahan terlihat telah padam. Kedalaman gambut di Kalbar bahkan dapat mencapai sekitar satu hingga delapan meter.
Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman tidak cukup hanya dilakukan dengan mematikan api yang terlihat di permukaan. Petugas perlu melakukan pembasahan dan pendinginan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
Asap di Pontianak Tidak Berarti Kota Terbakar
Dampak karhutla juga dirasakan hingga Kota Pontianak dalam bentuk kabut asap. Namun, Daniel menegaskan munculnya asap di Pontianak tidak berarti wilayah kota sedang terbakar.
"Makanya tidak bisa kita memaknai Kota Pontianak ini terbakar. Asapnya pekat, belum tentu (karena kebakaran)," kata Daniel.
Menurut dia, secara administratif wilayah Kota Pontianak tidak menjadi lokasi utama kebakaran. Asap yang menyelimuti kota dapat berasal dari wilayah kabupaten lain yang mengalami karhutla dan kemudian terbawa angin.
Kondisi ini juga menjelaskan mengapa wilayah yang tidak mengalami kebakaran besar tetap dapat terdampak kabut asap.
BPBD sebelumnya mencatat Kota Pontianak termasuk wilayah yang tidak memiliki hotspot pada periode ketika titik panas di sejumlah kabupaten Kalbar meningkat. Pada akhir Juli, misalnya, BPBD mencatat hotspot terbanyak berada di Kubu Raya, Ketapang, dan Kayong Utara.
Hujan Masif Dibutuhkan untuk Membasahi Gambut
Menurut Daniel, operasi pendinginan akan lebih efektif jika didukung hujan dengan intensitas dan durasi yang cukup. Hujan lokal yang hanya mengguyur sebagian wilayah dinilai belum tentu mampu membasahi seluruh area gambut yang terdampak.
"Untuk membereskan karhutla ini satu-satunya hujan yang terjadi secara masif dan lama. Jadi bila perlu empat sampai lima jam. Bila perlu seharian hujan. Nah, itu baru beres karhutla," ujarnya.
Dia mengatakan hujan yang berlangsung lama diperlukan untuk meningkatkan kadar air di lahan gambut sehingga bara di bawah permukaan tidak kembali aktif.
Meski demikian, hujan bukan berarti penanganan langsung selesai. Petugas tetap perlu melakukan pengecekan dan pendinginan di lokasi yang sebelumnya terbakar.
"Kalau ada asap, logikanya masih ada api. Potensi api masih ada," tegas Daniel.
Karhutla Kalbar sendiri masih menjadi perhatian hingga awal September 2026. BMKG mencatat ribuan titik panas terdeteksi di Kalbar sepanjang 2026, dengan konsentrasi titik panas dan titik yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi antara lain berada di Ketapang dan Kubu Raya.
Dengan karakter lahan gambut yang memungkinkan api bertahan di bawah permukaan, operasi pendinginan menjadi tahap penting untuk memastikan kebakaran benar-benar berakhir dan tidak kembali muncul.
Pontianak: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) masih berlanjut, terutama di kawasan yang memiliki lahan gambut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar kini memasuki tahap operasi pendinginan untuk memastikan bara di bawah permukaan gambut benar-benar padam.
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan operasi pendinginan difokuskan untuk mengecek kembali lokasi yang sebelumnya terbakar. Sebab, api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan meski kobaran di atas tanah telah terlihat padam.
"Kalau masih ada asap muncul di area tersebut berarti masih ada potensi terbakar, ada api," kata Daniel kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).
Daniel menjelaskan, karakter lahan gambut membuat penanganan karhutla lebih sulit dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Bara dapat bertahan di lapisan bawah dan kembali membesar ketika kondisi lahan kering.
Karena itu, petugas harus memastikan air benar-benar masuk ke dalam lapisan gambut yang terbakar.
"Kalaupun menggunakan selang, nozzle-nya harus mengarah ke bawah. Bila perlu, area itu dibuat seperti bubur. Tanahnya itu. Jadi dibuat seperti bubur. Hancur dia. Nah, itu baru apinya dipastikan bisa padam," ujarnya.
Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara Jadi Fokus
Sejumlah wilayah di Kalbar menjadi perhatian dalam penanganan karhutla, terutama Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara. Ketiga wilayah tersebut memiliki kawasan gambut dan menjadi lokasi dengan luasan kebakaran yang cukup besar.
Berdasarkan data yang disampaikan BPBD Kalbar, konsentrasi personel penanganan karhutla juga lebih banyak ditempatkan di tiga wilayah tersebut. Kondisi lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan khusus.
Daniel sebelumnya menjelaskan Kalbar memiliki sekitar 2 juta hektare lahan gambut yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Ketapang, Kubu Raya, Mempawah, dan Kapuas Hulu. Namun, kawasan gambut yang saat ini menjadi lokasi penanganan karhutla secara masif antara lain Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya.
Di kawasan gambut, api tidak hanya membakar permukaan. Api dapat merambat ke lapisan bawah dan tetap menyala meski permukaan lahan terlihat telah padam. Kedalaman gambut di Kalbar bahkan dapat mencapai sekitar satu hingga delapan meter.
Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman tidak cukup hanya dilakukan dengan mematikan api yang terlihat di permukaan. Petugas perlu melakukan pembasahan dan pendinginan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
Asap di Pontianak Tidak Berarti Kota Terbakar
Dampak karhutla juga dirasakan hingga Kota Pontianak dalam bentuk kabut asap. Namun, Daniel menegaskan munculnya asap di Pontianak tidak berarti wilayah kota sedang terbakar.
"Makanya tidak bisa kita memaknai Kota Pontianak ini terbakar. Asapnya pekat, belum tentu (karena kebakaran)," kata Daniel.
Menurut dia, secara administratif wilayah Kota Pontianak tidak menjadi lokasi utama kebakaran. Asap yang menyelimuti kota dapat berasal dari wilayah kabupaten lain yang mengalami karhutla dan kemudian terbawa angin.
Kondisi ini juga menjelaskan mengapa wilayah yang tidak mengalami kebakaran besar tetap dapat terdampak kabut asap.
BPBD sebelumnya mencatat Kota Pontianak termasuk wilayah yang tidak memiliki hotspot pada periode ketika titik panas di sejumlah kabupaten Kalbar meningkat. Pada akhir Juli, misalnya, BPBD mencatat hotspot terbanyak berada di Kubu Raya, Ketapang, dan Kayong Utara.
Hujan Masif Dibutuhkan untuk Membasahi Gambut
Menurut Daniel, operasi pendinginan akan lebih efektif jika didukung hujan dengan intensitas dan durasi yang cukup. Hujan lokal yang hanya mengguyur sebagian wilayah dinilai belum tentu mampu membasahi seluruh area gambut yang terdampak.
"Untuk membereskan karhutla ini satu-satunya hujan yang terjadi secara masif dan lama. Jadi bila perlu empat sampai lima jam. Bila perlu seharian hujan. Nah, itu baru beres karhutla," ujarnya.
Dia mengatakan hujan yang berlangsung lama diperlukan untuk meningkatkan kadar air di lahan gambut sehingga bara di bawah permukaan tidak kembali aktif.
Meski demikian, hujan bukan berarti penanganan langsung selesai. Petugas tetap perlu melakukan pengecekan dan pendinginan di lokasi yang sebelumnya terbakar.
"Kalau ada asap, logikanya masih ada api. Potensi api masih ada," tegas Daniel.
Karhutla Kalbar sendiri masih menjadi perhatian hingga awal September 2026. BMKG mencatat ribuan titik panas terdeteksi di Kalbar sepanjang 2026, dengan konsentrasi titik panas dan titik yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi antara lain berada di Ketapang dan Kubu Raya.
Dengan karakter lahan gambut yang memungkinkan api bertahan di bawah permukaan, operasi pendinginan menjadi tahap penting untuk memastikan kebakaran benar-benar berakhir dan tidak kembali muncul.
(KAH)