Madawat: Di bawah deretan tenda darurat yang berdiri di atas tanah Flores, seragam hijau loreng yang biasa identik dengan ketegasan militer kini menjelma menjadi simbol kenyamanan yang paling dicari anak-anak penyintas gempa.
Di balik ketangguhan mereka menyalurkan logistik dan menembus medan sulit, para prajurit TNI perlahan melepaskan atribut kaku untuk duduk melingkar, mengajak bernyanyi, bermain, hingga mendengarkan cerita polos tentang rasa takut yang masih tertinggal.
Kehadiran tentara di ruang pemulihan trauma ini melampaui sekadar pengerahan tugas negara, ini adalah tentang memeluk jiwa-jiwa cilik yang terguncang dan memastikan bahwa di tengah reruntuhan, mereka tidak pernah sendirian untuk kembali tertawa.
Dalam salah satu sesi mereka juga menggelar perlombaan untuk memantik kembali semangat anak-anak penyintas. Perlombaan yang digelar memang sederhana, yakni estafet kardus tapi antusiasme mereka sungguh luar biasa. Puluhan anak mengajukan diri untuk mengikuti perlombaan.
Sebelum dimulai salah satu anggota memberi contoh cara bermain dengan sabar. Bahahkan beberapa kali mengulang agar mereka paham cara mainnya.
Keseruan Perlombaan Estafet Kardus
Puluhan anak yang sudah menyetorkan namanya siap di garis start untuk bermain. Mereka yang belum bermain memberikan semangat agar temannya bisa menjadi pemenang.
Kehebohan semakin menjadi ketika mereka yang menang akan mendapatkan hadiah. Tidak pakai lama semangat anak-anak ini langsung menyala untuk menjadi yang terbaik.
Setelah semua mendapatkan giliran bermain dan tibad saatnya mereka bersaing menjadi yang terbaik untuk mengklaim hadiah yang sudah disiapkan. Para pemenang ini mendapatkan mainan.
Di saat yang lain sedang bermain terdapat pemandangan anak-anak sedang seru bermain dengan salah satu prajurit.
Interaksi anak-anak dengan salah satu prajurit TNI di posko pengungsian)
Keseruan bareng para prajurit TNI ini dirasakan Edo yang mengaku senang. Ia juga merasa aman karena diperhatikan bahkan dipinjami kacamata hitam. “Seneng mainnya rame-rame. Tadi juga ada yang gendong-gendong,” ungkapnya polos.
Kegiatan ini merupakan bagian dari aktivitas trauma healing yang digelar di posko pengungsian di Gor Samador. Anak-anak diajak bermain untuk meredakan efek yang dialami dalam kondisi ekstrem.
Madawat: Di bawah deretan tenda darurat yang berdiri di atas tanah Flores, seragam hijau loreng yang biasa identik dengan ketegasan militer kini menjelma menjadi simbol kenyamanan yang paling dicari anak-anak penyintas gempa.
Di balik ketangguhan mereka menyalurkan logistik dan menembus medan sulit, para prajurit TNI perlahan melepaskan atribut kaku untuk duduk melingkar, mengajak bernyanyi, bermain, hingga mendengarkan cerita polos tentang rasa takut yang masih tertinggal.
Kehadiran tentara di ruang pemulihan trauma ini melampaui sekadar pengerahan tugas negara, ini adalah tentang memeluk jiwa-jiwa cilik yang terguncang dan memastikan bahwa di tengah reruntuhan, mereka tidak pernah sendirian untuk kembali tertawa.
Dalam salah satu sesi mereka juga menggelar perlombaan untuk memantik kembali semangat anak-anak penyintas. Perlombaan yang digelar memang sederhana, yakni estafet kardus tapi antusiasme mereka sungguh luar biasa. Puluhan anak mengajukan diri untuk mengikuti perlombaan.
Sebelum dimulai salah satu anggota memberi contoh cara bermain dengan sabar. Bahahkan beberapa kali mengulang agar mereka paham cara mainnya.
Keseruan Perlombaan Estafet Kardus
Puluhan anak yang sudah menyetorkan namanya siap di garis start untuk bermain. Mereka yang belum bermain memberikan semangat agar temannya bisa menjadi pemenang.
Kehebohan semakin menjadi ketika mereka yang menang akan mendapatkan hadiah. Tidak pakai lama semangat anak-anak ini langsung menyala untuk menjadi yang terbaik.
Setelah semua mendapatkan giliran bermain dan tibad saatnya mereka bersaing menjadi yang terbaik untuk mengklaim hadiah yang sudah disiapkan. Para pemenang ini mendapatkan mainan.
Di saat yang lain sedang bermain terdapat pemandangan anak-anak sedang seru bermain dengan salah satu prajurit.

Interaksi anak-anak dengan salah satu prajurit TNI di posko pengungsian)
Keseruan bareng para prajurit TNI ini dirasakan Edo yang mengaku senang. Ia juga merasa aman karena diperhatikan bahkan dipinjami kacamata hitam. “Seneng mainnya rame-rame. Tadi juga ada yang gendong-gendong,” ungkapnya polos.
Kegiatan ini merupakan bagian dari aktivitas trauma healing yang digelar di posko pengungsian di Gor Samador. Anak-anak diajak bermain untuk meredakan efek yang dialami dalam kondisi ekstrem.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(RUL)