Suasana di NTT pasca Gempa. Foto: Istimewa.
Suasana di NTT pasca Gempa. Foto: Istimewa.

3 “Nyawa” yang Bikin Ekonomi NTT Bisa Bangkit Lagi Pasca Gempa

Arif Wicaksono • 30 Agustus 2026 16:27

Jakarta: Ketika gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, yang rusak bukan cuma rumah dan bangunan. Aktivitas warga dan ekonomi daerah ikut kena imbas.

Karena itu, proses recovery alias pemulihan nggak cukup hanya dengan membangun kembali rumah atau memperbaiki fasilitas umum. Ada tiga hal yang kelihatannya sederhana, tetapi justru punya peran besar yaitu listrik, internet, dan uang tunai.

Baca juga: Akses Terisolasi, Helikopter dan Kapal Bantu Kirim Logistik ke Palue

Kenapa tiga hal ini penting? Karena ketiganya saling nyambung. Listrik bikin rumah, toko, rumah sakit, fasilitas publik, sampai pusat perdagangan bisa kembali beroperasi. Internet membuat komunikasi dan aktivitas ekonomi digital tetap jalan. Sementara uang tunai menjadi “plan B” ketika jaringan atau sistem pembayaran digital belum sepenuhnya normal.

Listrik Nyala, Aktivitas Mulai Jalan

Setelah gempa mengguncang Flores, pemulihan jaringan listrik menjadi salah satu prioritas.

PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur memastikan seluruh infrastruktur kelistrikan di Pulau Flores menjalani asesmen menyeluruh. Tujuannya memastikan jaringan aman dan pasokan listrik bisa kembali andal.

General Manager PLN UIW NTT F Eko Sulistiyono mengatakan proses pemulihan dilakukan melalui kolaborasi lintas unit dengan tetap mengutamakan keselamatan kerja dan keandalan sistem.

“Sinergi lintas unit dan semangat gotong royong ini menjadi bukti komitmen PLN untuk hadir memberikan pelayanan terbaik dan menjaga pasokan listrik tetap andal bagi masyarakat Flores,” ujar Eko.

Asesmen dilakukan terhadap sejumlah peralatan penting di Gardu Induk (GI), mulai dari Trafo Tenaga (TFT), Pemutus Tenaga (PMT), Lightning Arrester (LA), Current Transformer (CT), hingga sistem proteksi.

Pemeriksaan juga dilengkapi sejumlah pengujian teknis, seperti Sweep Frequency Response Analysis (SFRA), Polarization Index (PI), tan delta winding dan bushing, Dynamic Resistance OLTC, hingga Breakdown Voltage (BDV).

Listrik yang kembali menyala bukan sekadar soal rumah warga kembali terang. Buat pelaku usaha, listrik berarti mesin bisa beroperasi. Buat toko, berarti lampu, kulkas, pendingin, dan perangkat lainnya bisa digunakan lagi. Buat fasilitas publik dan komunikasi, listrik adalah energi utama agar pelayanan tetap berjalan. Jadi, listrik adalah salah satu tombol “restart” ekonomi lokal.

Jaringan Internet 

Setelah listrik, ada satu infrastruktur lain yang nggak kalah krusial yakni jaringan internet. Hari ini, internet bukan lagi sekadar tempat buat scrolling media sosial atau chatting. Buat masyarakat dan pelaku usaha, internet sudah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari.

Pedagang bisa menerima pesanan lewat aplikasi pesan. UMKM bisa promosi lewat media sosial. Nasabah dapat mengakses mobile banking. Pemerintah dan lembaga bantuan juga membutuhkan jaringan komunikasi untuk mengatur distribusi bantuan di lapangan.

Kabar baiknya, TelkomGroup menyatakan telah menuntaskan pemulihan 100 persen layanan telekomunikasi dan digital yang terdampak gempa NTT dalam waktu tiga hari.

Pemulihan tersebut didukung jalur cadangan jaringan serta konektivitas satelit di 17 titik yang sulit dijangkau jaringan terestrial.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan konektivitas masyarakat menjadi salah satu fokus utama perusahaan.

“Fokus utama kami adalah memastikan konektivitas masyarakat dapat segera kembali normal, dengan tetap menempatkan keselamatan seluruh personel sebagai prioritas,” kata Dian.

Buat warga terdampak bencana, internet yang kembali aktif berarti banyak hal. Bisa menghubungi keluarga, mendapatkan informasi terbaru, mengakses layanan digital, sampai kembali menjalankan aktivitas usaha.

TelkomGroup juga menyediakan internet gratis di sejumlah posko pengungsian, kartu perdana dengan kuota, paket darurat, serta hotline tanggap bencana selama 24 jam.

Dengan begitu, masyarakat nggak cuma bisa kembali online, tetapi juga tetap terhubung dengan informasi dan layanan yang mereka butuhkan selama masa pemulihan.

Uang Tunai 

Nah, ini yang sering luput dari perhatian yakni infrastruktur uang tunai. Di tengah tren transaksi digital, cash ternyata masih punya peran penting, terutama ketika sebuah wilayah baru saja dihantam bencana.

Ketika warga mulai kembali bekerja dan berdagang, transaksi otomatis ikut meningkat. Mereka membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari, menerima bantuan, membeli barang, hingga menggerakkan kembali usaha kecil.

Masalahnya, pembayaran digital membutuhkan listrik, jaringan, dan sistem perbankan yang berjalan normal. Kalau salah satunya terganggu, uang tunai menjadi penyelamat.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menjadi salah satu bank BUMN yang memastikan layanan perbankan tetap berjalan di wilayah terdampak. Dari 25 outlet BNI di area Ende dan Maumere, sebanyak 24 outlet masih beroperasi.

Sementara itu, 65 dari 67 ATM di wilayah tersebut masih dapat digunakan. Untuk outlet yang belum bisa beroperasi karena kerusakan bangunan, BNI menyiapkan O-Branch atau layanan gerak.

Nasabah juga tetap dapat memanfaatkan kantor BNI lainnya serta kanal elektronik dan digital.Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan keselamatan pegawai dan nasabah menjadi prioritas.

“Keselamatan pegawai dan nasabah menjadi prioritas. Dengan dukungan jaringan kantor, O-Branch, serta kanal elektronik dan digital, kami memastikan kebutuhan layanan perbankan masyarakat tetap dapat terlayani selama proses pemulihan,” ujar Okki.

Ketersediaan cash menjadi penting karena nggak semua transaksi di daerah terdampak bencana bisa langsung dilakukan secara digital.

Kerusakan infrastruktur, gangguan listrik atau jaringan, serta kondisi geografis bisa membuat masyarakat tetap membutuhkan uang fisik untuk membeli kebutuhan pokok dan menjalankan aktivitas ekonomi.

Pemulihan NTT tentu nggak bisa hanya mengandalkan listrik, internet, dan layanan perbankan. Pemerintah juga punya pekerjaan besar untuk memastikan masyarakat bisa kembali hidup normal.

Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan berbagai pihak agar penanganan berlangsung cepat, tepat, terpadu, dan berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi NTT juga menyiapkan skema bantuan dana stimulan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan.

Untuk rumah dengan kategori rusak berat, pemerintah menyiapkan bantuan pembangunan kembali hunian baru. Langkah ini penting karena recovery bukan sekadar membuat warga bisa bertahan hidup setelah bencana. Target akhirnya adalah membuat mereka bisa kembali bekerja, berusaha, berbelanja, dan mendapatkan penghasilan.

Tiga Infrastruktur, Satu Tujuan

Kalau dirangkum, tiga infrastruktur tadi sebenarnya punya peran yang saling melengkapi.
Listrik membuat aktivitas bisa berjalan. Internet membuat masyarakat tetap terhubung. Layanan perbankan dan uang tunai membuat transaksi ekonomi tetap hidup.

Oleh karena itu, pemulihan NTT membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Bukan hanya membangun kembali rumah, jalan, pasar, dan fasilitas publik, tetapi juga memastikan sistem pendukung ekonomi ikut pulih.

Sebab setelah fase darurat selesai, tantangan berikutnya adalah menghidupkan kembali ekonomi masyarakat. Dan di titik inilah listrik, internet, serta uang tunai menjadi infrastruktur yang menentukan seberapa cepat NTT bisa kembali bergerak.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>