Gestur mengacungkan jempol.
Gestur mengacungkan jempol.

Jangan Asal Kasih Jempol! Ternyata Gestur Mengacungkan Jempol Gak Selalu Berarti Setuju

Muhammad Syahrul Ramadhan • 05 September 2026 19:11
Ringkasnya gini..
  • Gestur acungan jempol memiliki makna yang jauh dari makna yang kita kenal selama ini.
  • Anggapan bahwa jempol selalu berarti hal positif sebenarnya tidak sepenuhnya berlaku.
  • Ada sejarah yang cukup panjang sehingga memengaruhi perbedaan makna gestur jempol ini di tiap negara.

Jakarta: Dibalik makna sederhananya yang berarti menyetujui sesuatu, gestur mengacungkan jempol memiliki makna lain yang berbeda jauh dari “oke,” “sip,” atau “setuju.” Setiap budaya, negara, dan sejarah bisa memengaruhi makna sebuah gestur sederhana yang sering kita gunakan di keseharian. 

 

Dalam percakapan digital, mungkin emoji jempol sudah sering digunakan sebagai tanda persetujuan akan suatu hal tanpa harus mengetik panjang. Di kehidupan nyata pun banyak orang yang mengungkapkan persetujuannya dengan mengacungkan jempol tangannya. Tapi, ternyata ada sejarah yang cukup panjang sehingga memengaruhi perbedaan makna gestur jempol ini di tiap negara.

 

Dari Zaman Romawi hingga Jadi Simbol “Oke”

Gestur jempol sudah lama muncul dalam representasi budaya Barat. Salah satu kaitan sejarah yang paling populer adalah dengan pertandingan gladiator di Romawi Kuno.

Selama ini, film-film sering menggambarkan jempol ke atas berarti gladiator diselamatkan, sedangkan jempol ke bawah berarti dihukum mati. Namun, sejarahnya ternyata tidak sesederhana gambaran tersebut. Bukti mengenai bagaimana tepatnya gestur jempol digunakan dalam arena Romawi masih menjadi perdebatan.

Smithsonian Magazine mencatat bahwa terdapat bukti mengenai penggunaan gestur jempol dalam konteks gladiator yang justru tidak sesuai dengan gambaran populer di film. Salah satu contohnya adalah penggambaran gladiator yang mengangkat ibu jarinya sebagai bentuk permohonan belas kasihan. 


Seiring perkembangan budaya modern, acungan jempol kemudian semakin dikenal sebagai simbol persetujuan, penerimaan, atau sesuatu yang berjalan dengan baik. Makna inilah yang akhirnya paling umum kita kenal hingga sekarang.

Namun, anggapan bahwa jempol selalu berarti hal positif sebenarnya tidak sepenuhnya berlaku. Di beberapa budaya dan konteks sosial, gestur tersebut dapat memiliki konotasi yang berbeda sehingga penggunaannya tetap perlu memperhatikan situasi.

Jempol Gak Selalu Berarti Setuju

Dalam percakapan sehari-hari, acungan jempol memang sering digunakan untuk mengatakan “oke” atau “siap”. Misalnya, ketika seseorang bertanya, “Besok jadi berangkat jam delapan?” kemudian dijawab dengan acungan jempol, kemungkinan besar maksudnya adalah persetujuan.

Akan tetapi, makna sebuah gestur sangat bergantung pada konteks. Ekspresi wajah, intonasi, hubungan antara orang yang berkomunikasi, hingga budaya dapat memengaruhi bagaimana sebuah gestur dipahami.

Karena itu, sesuatu yang dianggap sebagai tanda positif di satu lingkungan belum tentu memiliki makna yang sama di tempat lain. Hal ini juga berlaku pada berbagai gestur tangan lainnya.

Maknanya Berbeda di Beberapa Negara

Melansir dari laman Remitly, gestur acungan jempol memiliki makna yang jauh dari makna yang kita kenal selama ini. 

 

Di daerah Timur Tengah termasuk Irak dan Afghanistan, penggunaan gestur ini justru merupakan ekspresi yang menyinggung karena dianggap setara dengan gestur jari tengah di Budaya Barat. Bahkan wilayah Amerika Latin serta beberapa wilayah lain pun menganggap gestur yang dikenal sopan ini sebagai gestur kasar dan tidak senonoh bahkan vulgar. 
 

Karena itu, penggunaan gestur ini ketika berada di negara lain sebaiknya tetap memperhatikan kebiasaan dan norma setempat. Gestur yang terlihat sederhana ternyata bisa memiliki arti berbeda ketika berpindah dari satu budaya ke budaya lainnya.

(Vira Farhatul Maula)



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>