Sesi psikosisial pengungsi gempa NTT (foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)
Sesi psikosisial pengungsi gempa NTT (foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)

Berbagi Kisah, Lepas Beban: Pengungsi Mengaku Hati Lebih Plong

Muhammad Syahrul Ramadhan • 26 Agustus 2026 18:18
Ringkasnya gini..
  • Sesi psikososial ini dirancang dengan pendekatan hangat berbasis komunitas
  • Satu per satu peserta diberikan ruang aman untuk berbicara
  • Tim UI menekankan bahwa berbagi cerita merupakan terapi katarsis yang sangat efektif untuk meredakan kecemasan.
Maumere: Di tengah teriknya udara dan deretan tenda darurat, puluhan ibu-ibu terdampak bencana gempa M 7,7 di Nusa Tenggara Timur berkumpul melingkar. Tidak ada raut tegang yang ada haru bercampur helaan napas lega saat mereka mulai membagikan keluh kesah yang selama ini terpendam di relung hati.
 
Bagi sekelompok ibu-ibu penyintas, ketakutan saat gempa terjadi bukan sekadar guncangan tanah belaka. Bencana tersebut memantik kembali memori kelam puluhan tahun silam—tragedi gempa dan tsunami Flores 1992 yang meluluhlantakkan kampung halaman serta menyapu orang-orang tercinta. Trauma masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh itu kembali mencengkeram begitu guncangan baru menerpa, membuat rasa cemas dan panik terasa berlipat ganda.
 
Sebagai langkah pertama untuk membantu para warga Layanan Dukungan Psikososial (LDP) oleh Kementerian Sosial menggelar sejumlah sesi. Salah satunya sesi bersama dosen Psikologi dari Universitas Indonesia (UI).

Sesi psikososial ini dirancang dengan pendekatan hangat berbasis komunitas.Bukan lewat ceramah kaku, melainkan melalui metode saling bercerita (storytelling).
Satu per satu peserta diberikan ruang aman untuk berbicara. Didampingi fasilitator dari UI, para ibu diajak menuangkan emosi yang berkecamuk: ketakutan akan gempa susulan, bayang-bayang tsunami masa lalu, hingga kelelahan fisik dan mental bertahan di pengungsian.
 
Saat seorang penyintas bercerita, peserta lain menyimak dengan empati, memberikan pelukan hangat, dan saling menguatkan bahwa mereka tidak menanggung beban ini sendirian.
"Tadi duduk bersama, bercerita, dan didengarkan, rasanya seperti ada beban berat yang terangkat, jadi plong."
 
Berbagi Kisah, Lepas Beban: Pengungsi Mengaku Hati Lebih Plong
(Sesi bercerita diselingi dengan hiburan yang membuat gelak tawa. Foto:Medcom.id)
 
Tim UI menekankan bahwa berbagi cerita merupakan terapi katarsis yang sangat efektif untuk meredakan kecemasan. Dengan memverbalisasikan rasa takut di lingkungan yang mendukung, otak dan emosi dibantu untuk memproses trauma secara perlahan.
 
“Memberikan mereka saluran untuk mengekspresikan perasaan, pikiran. Dan juga kan dari kelompok dukungan itu kan mereka benar-benar melihat ternyata bukan saya aja yang lain juga begitu gitu kan dan juga saling dukung satu sama lain seperti itu memang lebih diperlukan kan,” jelas dosen Psikologi UI Nathanael Elnadus Johanes.

Bantuan Layanan Psikososial dari Kemensos


Kementerian Sosial menghadirkan fasilitas layanan psikososial melalui Layanan Dukungan Psikososial (LDP). Dalam pelayanannya LDP bersinergi dengan para relawan, akademisi, dan warga lokal.
 
“Salah satu yang tugas utamanya adalah membantu warga penyintas yang mengalami gangguan psikologis. Kami bantu. Terus membantu warga penyintas mengembalikan keberfungsian sosial. Nah sebenarnya, kami-kami ini hanya membantu saja. Jadi yang mengalami gangguan psikologis, mendapatkan gangguan traumatis, itu kami layani. Jadi kalau membutuhkan rujukan, kami rujuk,” kata Igun Gunawan, relawan LDP Kemensos.
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>