Tawa mereka pecah ketika seorang pendamping mengajak bernyanyi bersama. Tangan-tangan kecil bergerak mengikuti irama, sesekali diselingi tepuk tangan dan gerakan sederhana. Wajah-wajah yang sebelumnya mungkin menyimpan kekhawatiran, perlahan berubah menjadi ceria.
Di salah satu lokasi pengungsian di Kabupaten Sikka, anak-anak penyintas gempa mengikuti sesi psikososial yang dikemas dengan pendekatan sederhana: bernyanyi dan bermain.
“Aku bahagia, tidak takut lagi.” Kalimat itu seolah menjadi gambaran dari suasana yang tercipta dalam sesi tersebut. Kebahagiaan sederhana yang mungkin terasa kecil, tetapi memiliki arti besar bagi anak-anak yang tengah menghadapi situasi penuh ketidakpastian.
Puluhan anak mengikuti kegiatan dengan riang dan antusias. Mereka bernyanyi bersama, mengikuti gerakan, bermain, dan sesekali tertawa ketika ada teman yang melakukan gerakan berbeda.
Bagi anak-anak, permainan mungkin terlihat sederhana. Namun di balik aktivitas tersebut, terdapat upaya untuk membantu mereka merasa aman, nyaman, dan memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan.
Gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan. Bagi sebagian penyintas, terutama anak-anak, pengalaman bencana juga dapat menghadirkan rasa takut dan cemas. Karena itu, pemulihan tidak berhenti pada kebutuhan makanan, tempat tinggal, dan bantuan logistik. Ada kebutuhan lain yang tak kalah penting, yakni rasa aman dan dukungan emosional.
Melalui sesi psikososial, anak-anak diajak mengalihkan perhatian dari suasana pengungsian yang penuh keterbatasan menuju aktivitas yang menyenangkan.
“Sebagian kalau ada gempa susulan, nangis tuh, nah ini dilatih berani, meniup balon sampai pecah, melatih supaya tidak kagetan. Nah itu juga kita lakukan. Jadi intinya memfasilitasi mereka supaya lebih siap menghadapi situasi darurat,” terang anggota tim relawan Layanan Dukungan Psikososial (LDP), Kementerian Sosial.
Nyanyian menjadi jembatan, Permainan menjadi ruang untuk kembali tersenyum
Ketika lagu kembali dinyanyikan dan tepuk tangan menggema di bawah terpal, suasana pengungsian seakan berubah sejenak. Anak-anak tidak lagi hanya dipandang sebagai penyintas bencana, tetapi sebagai anak-anak yang berhak bermain, tertawa, dan merasa aman.
"Senang ramai-ramai sama yang lain bjsa nyanyi ada permainan juga,"ungkap Didan.
Suara Didan dan anak-anak penyintas gempa NTT yang mungkin tidak sekeras gemuruh gempa, tetapi membawa pesan yang jauh lebih menenangkan.
Puluhan anak mengikuti kegiatan dengan riang dan antusias. Mereka bernyanyi bersama, mengikuti gerakan, bermain, dan sesekali tertawa ketika ada teman yang melakukan gerakan berbeda.
Bagi anak-anak, permainan mungkin terlihat sederhana. Namun di balik aktivitas tersebut, terdapat upaya untuk membantu mereka merasa aman, nyaman, dan memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan.
Gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan. Bagi sebagian penyintas, terutama anak-anak, pengalaman bencana juga dapat menghadirkan rasa takut dan cemas. Karena itu, pemulihan tidak berhenti pada kebutuhan makanan, tempat tinggal, dan bantuan logistik. Ada kebutuhan lain yang tak kalah penting, yakni rasa aman dan dukungan emosional.
Melalui sesi psikososial, anak-anak diajak mengalihkan perhatian dari suasana pengungsian yang penuh keterbatasan menuju aktivitas yang menyenangkan.
“Sebagian kalau ada gempa susulan, nangis tuh, nah ini dilatih berani, meniup balon sampai pecah, melatih supaya tidak kagetan. Nah itu juga kita lakukan. Jadi intinya memfasilitasi mereka supaya lebih siap menghadapi situasi darurat,” terang anggota tim relawan Layanan Dukungan Psikososial (LDP), Kementerian Sosial.
Nyanyian menjadi jembatan, Permainan menjadi ruang untuk kembali tersenyum
Ketika lagu kembali dinyanyikan dan tepuk tangan menggema di bawah terpal, suasana pengungsian seakan berubah sejenak. Anak-anak tidak lagi hanya dipandang sebagai penyintas bencana, tetapi sebagai anak-anak yang berhak bermain, tertawa, dan merasa aman.
"Senang ramai-ramai sama yang lain bjsa nyanyi ada permainan juga,"ungkap Didan.
Suara Didan dan anak-anak penyintas gempa NTT yang mungkin tidak sekeras gemuruh gempa, tetapi membawa pesan yang jauh lebih menenangkan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda