Yohanis Gama Marshall Lau alias Joni (tengah), siswa SMPN Silawan, Belu, Nusa Tenggara Timur duduk di antara menteri Kabinet Kerja saat menghadiri Upacara Pembukaan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu (18/8). ANT/Pus
Yohanis Gama Marshall Lau alias Joni (tengah), siswa SMPN Silawan, Belu, Nusa Tenggara Timur duduk di antara menteri Kabinet Kerja saat menghadiri Upacara Pembukaan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu (18/8). ANT/Pus

Petualangan Joni Pemanjat Tiang Bendera di Jakarta

Nasional hut kemerdekaan Merdeka di Perbatasan
Fachri Audhia Hafiez • 19 Agustus 2018 07:02
Jakarta: Aksi heroik Yohanes Ande Kala Marcal, 14, bocah pemanjat tiang bendera di Atambua, Nusa Tenggara Timur menyentuh hati banyak orang. Joni sapaannya, diundang Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi ke Jakarta.
 
Ini kali pertama bungsu dari sembilan bersaudara itu menginjakkan kaki di Ibu Kota. Ia berdiri di samping kedua orangtuanya ketika tiba di Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jakarta, melayani permintaan wartawan yang ingin mengabadikannya lewat kamera.
 
Walau ada gugup yang menyelimuti wajahnya, Joni tetap tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih. Remaja yang lahir di Desa Silawan pada 10 Oktober 2004 itu mengenakan seragam SMP, kemeja putih gombrong yang ujung tangannya menutupi siku, dengan celana pendek biru menutupi dengkul.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kakinya dibalut kaos kaki putih dan sepatu hitam mengilat yang terlihat masih baru. Selendang tenun merah menghiasi lehernya.
 
Joni mengaku baru pertama kali menaiki pesawat terbang. "Senang," kata dia, seperti dilansir Antara, ‌Minggu, 19 Agustus 2018.
 
Joni sempat bercerita detik-detik sebelum dia spontan memanjat tiang bendera. Saat upacara itu, Joni sedang berada di tenda kesehatan karena sakit perut.
 
Di sana dia mendengar pengumuman dari wakil bupati yang mencari siapa pun yang bisa membetulkan tali di tiang bendera. "Saya langsung lari keluar, buka sepatu dan naik tiang bendera, gigit tali, turun ke bawah," seru Joni.
 
Tak ada rasa takut ketika memanjat karena selama ini dia sudah terbiasa memanjat pohon. "Pohon pinang, pohon asam, kelapa," kata bocah yang bercita-cita jadi tentara itu.
 
Kepiawaiannya memanjat tiang membuat Imam Nahrawi mencetuskan akan meminta Pengurus Besar Panjat Tebing di Indonesia untuk melihat potensinya. Dengan polosnya, Joni mengaku tidak berminat jadi atlet panjat tebing, dia masih tetap ingin jadi seorang tentara, cita-citanya sejak lama.
 
Di kantor Kemenpora, Joni juga diajak masuk ke ruangan pribadi Imam, dan mencoba kursi empuk milik Sang Menteri. Selama beberapa saat dia mendadak jadi Menpora, menerima 'laporan' dari Imam yang berubah jadi 'anak buah'.
 
Dia meninggalkan jejak tulisan di buku yang berada di atas meja Imam. Joni menulis nama panjang, juga pesan untuk para pelajar Indonesia.
 
"Pesan dari Joni: anak Indonesia harus rajin belajar," tulis Joni yang juga membubuhkan tanda tangan yang terdiri dari tulisan sambung.
 
Petualangan Joni di Ibu Kota tak berakhir di Kemenpora. Malam harinya, dia diajak menghadiri upacara pembukaan pesta olahraga Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Imam membawanya berkeliling venue pertandingan Asian Games.
 
Senin, 20 Agustus 2018 mendatang, Joni dijadwalkan bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Dia juga dijamin bisa menikmati jalannya pertandingan sepak bola, olahraga favoritnya.
 
Dari semua pemain sepak bola, ada satu yang paling dia kagumi. "Evan Dimas," kata Joni yang menyatakan ingin bertemu dengan idolanya.
 
Keberanian Joni menimbulkan decak kagum setelah videonya memanjat jadi viral di dunia maya. Banyak pihak langsung memberikan apresiasi atas aksi Joni.
 
Bahkan, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto memberikan beasiswa hingga lulus SMA. Setelah itu, dia akan mendapat prioritas apabila masih ingin jadi prajurit TNI.
 
Pendidikan Joni hingga meraih gelar sarjana di perguruan tinggi juga dijamin PLN yang bersedia membiayai biaya sekolahnya.
 
"Kami senang dan bangga," kata ayah Joni, Victorino Fahik Marschal.
 
Joni diundang ke Jakarta bersama kedua orangtuanya, Victorino serta istrinya Lorensa Gama. Ia berangkat dari Bandara El Tari Kupang pada Sabtu, 18 Agustus 2018.
 
Kedua orangtua Joni merupakan warga eks Timor Timur yang memilih menetap dan hidup di Indonesia setelah eksodus pada Agustus 1999, pascareferendum di bekas provinsi ke-27 Indonesia itu.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif