Pendiri ESQ Corp dan Universitas Ary Ginanjar, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi di Menara 165 Jakarta, Minggu (20/09/2026). (Foto: Ist)
Pendiri ESQ Corp dan Universitas Ary Ginanjar, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi di Menara 165 Jakarta, Minggu (20/09/2026). (Foto: Ist)

Diplomasi Spiritual Jadi Jembatan Persahabatan Indonesia-Malaysia

Medcom • 22 September 2026 20:20
Ringkasnya gini..
  • Hubungan Indonesia dan Malaysia tidak hanya dibangun melalui jalur diplomasi formal, tetapi juga dapat diperkuat melalui hubungan antarmanusia, budaya, dan nilai-nilai spiritual.
  • Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi dengan Pendiri ESQ Corp dan Universitas Ary Ginanjar, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, di Menara 165, Jakarta.
  • Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan personal yang telah terjalin selama lebih dari dua dekade. Bagi Prof. Ary, persahabatan dengan Ahmad Zahid menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara serumpun.
Jakarta: Hubungan Indonesia dan Malaysia tidak hanya dibangun melalui jalur diplomasi formal, tetapi juga dapat diperkuat melalui hubungan antarmanusia, budaya, dan nilai-nilai spiritual. Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi dengan Pendiri ESQ Corp dan Universitas Ary Ginanjar, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, di Menara 165, Jakarta.

Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan personal yang telah terjalin selama lebih dari dua dekade. Bagi Prof. Ary, persahabatan dengan Ahmad Zahid menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara serumpun.

Prof. Ary menyebut pendekatan tersebut sebagai diplomasi spiritual, yakni membangun jembatan persaudaraan melalui hubungan antarmanusia dan nilai-nilai yang melampaui kepentingan politik.

"Persahabatan kita tidak melihat jabatan, tetapi persahabatan hati. Dalam keadaan suka maupun duka, hubungan itu tetap terjaga," ujar Prof. Ary dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Persahabatan Lintas Jabatan

Hubungan Prof. Ary dan Ahmad Zahid telah terjalin sejak politikus Malaysia tersebut menjabat sebagai Menteri Agama. Keduanya memiliki perhatian yang sama terhadap pembangunan manusia melalui keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Persahabatan tersebut terus berlangsung ketika Ahmad Zahid menduduki sejumlah posisi penting di pemerintahan Malaysia, termasuk Menteri Pertahanan, Menteri Dalam Negeri, hingga Wakil Perdana Menteri.

Prof. Ary juga mengingat kembali periode ketika hubungan Indonesia dan Malaysia sempat menghadapi ketegangan terkait persoalan Ambalat. Saat itu, Ahmad Zahid yang menjabat Menteri Pertahanan Malaysia tetap berkunjung ke Menara 165.

Menurut Prof. Ary, pertemuan tersebut turut mempertemukan sejumlah tokoh pertahanan dari kedua negara dalam suasana dialog.

"Beliau menyebutnya diplomasi spiritual. Hubungan Indonesia-Malaysia tidak cukup didekatkan melalui politik saja, tetapi juga melalui hubungan kultural dan spiritual," jelasnya.

Dorong Kerja Sama Pembangunan Manusia

Dalam pertemuan tersebut, keduanya juga membahas sejumlah peluang kerja sama, mulai dari penguatan hubungan budaya dan spiritual hingga pengembangan sumber daya manusia.

Salah satu yang dibahas ialah program Technical and Vocational Education and Training (TVET) Malaysia. Dalam konteks tersebut, muncul ketertarikan terhadap penerapan TalentDNA Assessment yang telah digunakan dalam Program Sekolah Rakyat di Indonesia.

Pembahasan lain menyangkut penguatan ekosistem halal regional. Salah satu gagasan yang muncul ialah pembentukan ASEAN Halal Council untuk memperkuat posisi Asia Tenggara dalam industri halal global.

Prof. Ary menyampaikan ESQ siap berkontribusi melalui pengembangan ESQ Halal Hub sebagai bagian dari ekosistem tersebut.

Selain kerja sama kelembagaan, Prof. Ary menilai pembangunan manusia perlu menjadi perhatian di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

"Hari ini teknologi berkembang sangat cepat. Justru karena itu, nilai spiritual harus menjadi fondasi untuk membangun manusia seutuhnya, menggabungkan IQ, EQ, dan SQ," tuturnya.

Ia juga menyebut jaringan 2,5 juta alumni ESQ di Indonesia dan Malaysia dapat menjadi salah satu jembatan kultural dan spiritual kedua negara.

"Alumni ESQ menjadi jembatan kultural dan spiritual antara Indonesia dan Malaysia. Ketika rakyat Indonesia datang ke Malaysia, mereka disambut oleh alumni ESQ. Begitu pula ketika rakyat Malaysia datang ke sini, Menara 165 menjadi rumah persaudaraan," pungkasnya..

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASM)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>