Jakarta: Percepatan penanganan ruas jalan terdampak bencana di Sumatera Utara terus dilakukan untuk segera memulihkan akses masyarakat dan menjaga kelancaran mobilitas antardaerah. Upaya tersebut didukung penguatan organisasi, sumber daya manusia, peralatan, serta pasokan material di lapangan.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat progres penanganan lima klaster ruas jalan terdampak bencana di Sumatera Utara hingga 28 Agustus 2026 berada pada kisaran 19,2 persen hingga 41,6 persen. Progres tertinggi dicapai Klaster 5 ruas Sibolga-Padangsidimpuan sebesar 41,6 persen, disusul Klaster 2 sebesar 41 persen.
Selanjutnya, Klaster 3 ruas Tarutung-Sibolga mencapai 38,4 persen, Klaster 4 ruas Batangtoru-Singkuang sebesar 34,6 persen, dan Klaster 1 ruas Tarutung-Sipirok-Padangsidimpuan sebesar 19,2 persen.
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Utara Hardy Pangihutan Siahaan mengatakan, percepatan penanganan perlu didukung kesiapan seluruh unsur pekerjaan agar proses pemulihan berjalan optimal.
“Tolong diperhatikan organisasi, sumber daya manusia, kemudian peralatan, pasok material dan peralatan agar dilaksanakan secara tepat dan efektif,” ujarnya.
Khusus Klaster 2 yang mencakup koridor batas Provinsi Aceh–Kota Sibolga dan Jalan Rampa-Poriaha sepanjang 129 kilometer, penanganan difokuskan pada sejumlah titik longsor, kerusakan jalan, serta infrastruktur pendukung.
“Progres di Klaster 2 pada hari ini sudah 41 persen dengan total penanganan bencana sebanyak 31 titik,” kata Hardu.
Dari 31 titik tersebut, 14 lokasi merupakan longsoran bawah yang ditangani menggunakan borepile sebagai struktur penahan. Penanganan ini dilakukan untuk memperkuat bagian bawah badan jalan yang terdampak longsor sekaligus menjaga kestabilan struktur jalan pada titik-titik yang mengalami pergerakan tanah.
Sementara itu, 12 lokasi lainnya merupakan longsoran atas atau tebing yang membutuhkan penanganan pada bagian lereng. Pekerjaan dilakukan menggunakan shotcrete sebagai proteksi dinding serta soil nailing untuk memperkuat lereng dan menjaga kestabilan tebing.
Selain penanganan longsor, pekerjaan juga mencakup sejumlah box crossing serta preservasi jalan sebagai bagian dari rehabilitasi dan rekonstruksi ruas terdampak bencana.
Pekerjaan di lima klaster tersebut terus dikebut untuk memastikan jalur penghubung antardaerah terdampak bencana di Sumatera Utara dapat segera kembali normal.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan