Jakarta: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan. Petugas juga perlu memastikan bagian dalam gambut benar-benar basah agar api tidak kembali muncul.
Hal itu disampaikan Ahli Madya Kebencanaan BPBD Kalbar, Erfandi, saat memimpin pemadaman lahan terbakar di Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya.
| Baca Juga: BPBD Kalbar Ungkap Cara Atasi Api yang Masih Membara di Lahan Gambut |
Menurutnya, setelah dilakukan pembasahan, petugas masih menemukan bagian gambut yang ternyata belum sepenuhnya padam.
Kondisi tersebut menjadi indikasi lapisan gambut di lokasi cukup dalam sehingga api masih dapat bertahan di bagian bawah permukaan.
"Tadi kan kita melakukan pembasahan ini, dia sudah membanjirkan. Ternyata masih hidup. Itu pertanda bahwa gambutnya dalam," ujarnya.
Karena itu, proses pembasahan harus dilakukan lebih lanjut. Air dimasukkan ke dalam area gambut hingga meresap ke lapisan yang lebih dalam.
"Mau tidak mau harus kita benamkan seperti ini. Kita masukkan airnya sampai itu meresap ke dalam gambut, sehingga nanti otomatis basah," katanya.
Pembasahan tersebut diharapkan dapat menekan potensi munculnya kembali titik api. Sebab, gambut yang berada dalam kondisi basah akan lebih sulit terbakar dibandingkan gambut yang kering.
"Kalau gambut basah, kami berharap api tidak muncul lagi seperti itu," ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan penanganan karhutla di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Api tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi dapat bertahan di lapisan gambut dan kembali muncul ketika kondisi lingkungan mendukung.
Karena itu, selain pemadaman, upaya menjaga kelembaban gambut menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.