I La Galigo akan digelar pada 3, 5, 6, dan 7 Juli 2019 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta (Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)
I La Galigo akan digelar pada 3, 5, 6, dan 7 Juli 2019 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta (Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)

Jalan Panjang Pementasan I La Galigo

Anggi Tondi Martaon • 24 Juni 2019 18:49
Jakarta: Sebuah kesuksesan tidak bisa didapatkan dengan cara instan. Butuh perjuangan ekstra dan memakan waktu. Hal itu dialami oleh I La Galigo. 
 
I La Galigo, sebuah pementasan musik dan teater mengenai terciptanya Suku Bugis, sudah mendapatkan nama di kancah internasional.
 
Cikal bakal I La Galigo diawali ketertarikan Rhoda Grauer saat mengenal Sureq Galigo pada akhir 1990. Dia berniat memfilmkan perjalanan terciptanya Suku Bugis.

Upaya tersebut menemui banyak kendala. Salah satu kendalanya yaitu terjemahan naskah Sureq Galigo menggunakan bahasa kuno. 
 
Grauer tak putus asa. Dia mulai melakukan perjalanan menemui para pakar Galigo di Indonesia dan luar negeri. Tujuannya untuk membagi pengetahuan mereka tentang Sureq Galigo.
 
Di tengah perjalanan, beruntung Grauer bertemu Drs Muhammad Salim (Alm). Pria yang dianggap penerjemah paling terkemuka Sureq Galigo itu pun bahkan dijadikan sebagai penasehat utama teks dan cerita.
 
Grauer tergerak untuk mengangkat cerita Sureq Galigo ke dalam sebuah pementasan. Dia pun mengajak Direktur Artistic Yayasan Bali Purnati Restu I Kusumaningrum untuk bekerja sama. Keduanya pun sepakat menyerahkan posisi sutradara kepada Robert Wilson.
 
Restu kemudian melakukan perjalanan ke Cerekang dan Malili untuk mengadakan pertemuan dengan tetua Luwuq, tanah Sureq Galigo. Tujuannya, untuk meminta restu kepada para tetua di Luwuq.
 
Restu pun bertemu dengan mitra yang sangat dibutuhkan dalam pementasan, yaitu pengelola sanggar tari di Sulawesi Selatan Ida Joesoef, Andi Ummu Tunru, serta komposer musik Rahayu Supanggah.
 
Persiapan pementasan berlangsung tiga tahun. I La Galigo perdana tampil di Esplanade Theaters on the Bay pada 2004. Setelah itu, karya anak bangsa ini dipercaya tampil di sembilan negara dan 12 kota besar di dunia.
 
Pada 2019, I La Galigo akhirnya mentas di Jakarta. Muncul pertanyaan, kenapa baru sekarang I La Galigo tampil di ibu kota? 
 
Alasannya, menghadirkan I La Galigo bukan pekerjaan gampang. Mengingat seluruh properti pementasan yang terdiri atas 300 kostum dan 200 props selama ini disimpan di Milan, Italia. Butuh biaya banyak untuk membawanya ke Indonesia.
 
Beruntung, I La Galigo terpilih sebagai acara pementasan khusus pada sidang tahunan Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 di Bali, sehingga kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, Yayasan Bali Purnati, dan Ciputra Artpreneur membawa I La Galigo ke Jakarta.
 
Rencananya, I La Galigo akan digelar pada 3, 5, 6, dan 7 Juli 2019 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta. Jika Anda berminat menyaksikan, tiket pertunjukan dapat dibeli melalui loket.com, Go-Tix, dan ciputraartprenuer.com. Harga tiket sebesar Rp475 ribu hingga Rp1.850.000. 
 
Penyelenggara juga memberikan diskon menarik sebesar 25 persen jika pembelian tiket dilakukan melalui kartu kredit atau debit BCA.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ROS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>