Kubu Raya: Jumlah titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, mulai menurun drastis. Namun, kondisi tersebut belum membuat kabut asap menghilang dan kualitas udara membaik sepenuhnya.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan, mengatakan jumlah klaster titik api yang sebelumnya mencapai lebih dari 1.000 kini tersisa sekitar 27 klaster.
“Grafiknya kecil-kecil. Kemarin angkanya hampir seribuan titik. Di atas itu seribu. Sekarang sudah hanya menyentuh 27 saja, 27 titik kluster yang terbakar,” kata Syarif kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).
Menurut Syarif, penurunan tersebut tidak terlepas dari kerja keras tim gabungan, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta hujan alami yang membantu membasahi sejumlah wilayah.
Meski jumlah titik api menurun, persoalan karhutla belum sepenuhnya selesai. Asap masih bertahan dan kualitas udara di sejumlah wilayah Kubu Raya masih mengkhawatirkan.
PM2,5 Kubu Raya Masih Tinggi
Syarif mengatakan konsentrasi PM2,5 di Kubu Raya masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Ia menyebut angka PM2,5 bahkan sempat mendekati 1.000.
“PM 2,5 itu masih bertahan di area berbahaya. Akumulasi rata-ratanya hampir seribu. PM2.5-nya itu padahal normalnya hanya boleh 50,” ujarnya.
Syarif mengatakan informasi mengenai batas kategori kualitas udara tersebut diperolehnya setelah berdiskusi dengan Dinas Kesehatan Kubu Raya.
Menurut Syarif, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari Dinas Kesehatan, angka PM2,5 sekitar 50 masih berada dalam kategori sehat. Sementara konsentrasi di atas 200 mulai masuk kategori tidak sehat dan di atas 500 disebut berbahaya.
Karena kondisi tersebut, BPBD mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. Pemerintah juga meminta anak-anak tidak mengikuti pembelajaran tatap muka dan menjalani pembelajaran jarak jauh.
Syarif mengatakan kondisi kualitas udara yang buruk tersebut telah berlangsung hampir dua minggu.
Imbauan Kurangi Paparan Asap
Untuk mengurangi paparan asap di dalam rumah, Syarif menyarankan warga menggunakan gorden atau kain yang dibasahi air pada bagian rumah yang berhubungan dengan sirkulasi udara.
Langkah tersebut disebut sebagai upaya sederhana untuk membantu menahan sebagian partikel asap yang masuk ke dalam rumah.
“Kalau di dalam rumah, kita bisa pasang gorden basah. Jadi asap yang masuk itu bisa tertahan,” ujar Syarif.
Meski demikian, penggunaan gorden basah bukan berarti menghilangkan PM2,5 dari udara. Warga tetap perlu mengurangi paparan asap, menggunakan masker saat diperlukan, serta mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan dari instansi terkait.
Apa Itu PM2,5 dan Mengapa Perlu Diwaspadai?
PM2,5 merupakan partikel sangat halus di udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Dalam kondisi karhutla, partikel ini banyak terdapat dalam asap hasil pembakaran.
Ukurannya yang sangat kecil membuat PM2,5 dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Karena itu, konsentrasi PM2,5 menjadi salah satu parameter penting dalam memantau kualitas udara.
Semakin tinggi konsentrasi dan semakin lama seseorang terpapar, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Syarif mengatakan dampak buruk kualitas udara mulai terlihat dari peningkatan kasus gangguan pernapasan.
Ia menyebut berdasarkan laporan sementara dari Dinas Kesehatan Kubu Raya, sekitar 300 orang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 7 September 2026.
“Di bulan September ini, di tanggal 7 September saja, itu sudah 300 orang mengalami ISPA. 300-an,” kata Syarif.
Namun, data tersebut masih menunggu laporan lengkap dari Dinas Kesehatan Kubu Raya.
Titik Api Turun, Mengapa Asap Masih Bertahan?
Penurunan titik api tidak otomatis membuat asap langsung hilang. Syarif mengatakan sebagian kebakaran terjadi di lokasi yang jauh dan sulit dijangkau petugas.
Keterbatasan sumber air, peralatan, personel, serta akses menuju lokasi menjadi kendala utama dalam pemadaman.
“Obstacle-nya itu ada tiga sebenarnya. Air, yang paling utama. Yang kedua adalah angin. Yang ketiga adalah aksesibilitas,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat kemampuan petugas memadamkan api juga terbatas. Syarif memperkirakan dari area yang terbakar, petugas baru mampu memadamkan sekitar 10 hingga 20 persen secara tuntas.
Menurut dia, kebakaran yang masih kecil dan berada di lokasi yang mudah dijangkau dapat lebih cepat dipadamkan. Sebaliknya, api yang sudah meluas, berada jauh dari jalan, atau terjadi di kawasan minim sumber air membutuhkan penanganan yang jauh lebih sulit.
Salah satu contohnya berada di wilayah Kalibandung. Syarif menyebut lokasi tersebut jauh, minim sumber air, serta tidak memiliki peralatan dan personel yang memadai untuk melakukan pemadaman secara maksimal.
Jarak Pandang Hambat Water Bombing
Upaya pemadaman dari udara juga menghadapi kendala. Dalam dua pekan terakhir, jarak pandang menjadi salah satu faktor yang menghambat operasi water bombing.
Syarif mengatakan sejumlah lokasi yang sudah dijadwalkan mendapatkan water bombing terpaksa tidak dapat ditangani dari udara karena jarak pandang terlalu rendah.
“Kita gagal terbang karena jarak pandang di bawah satu kilo,” katanya.
Menurut Syarif, operasi penerbangan membutuhkan jarak pandang tertentu agar dapat dilakukan dengan aman. Kondisi tersebut menjadi semakin penting dalam water bombing karena pesawat harus mengambil air dari permukaan sebelum menuju lokasi kebakaran.
Dalam tiga hari terakhir, kata dia, terdapat empat lokasi di Kubu Raya yang telah dijadwalkan mendapatkan water bombing. Namun, operasi tersebut belum selalu dapat dilakukan karena kondisi jarak pandang.
OMC Bukan Menciptakan Hujan
Di tengah kondisi tersebut, operasi modifikasi cuaca (OMC) masih dilakukan untuk membantu penanganan karhutla.
Syarif mengatakan OMC di Kubu Raya pada 8 September 2026 ditargetkan melakukan empat sorti menggunakan dua pesawat. Setiap sorti membawa sekitar dua ton natrium klorida (NaCl), sehingga total bahan yang ditaburkan ditargetkan mencapai sekitar delapan ton.
Bahan tersebut ditaburkan ke wilayah yang memiliki bibit awan konvektif dan berpotensi menghasilkan hujan.
Namun, Syarif menegaskan OMC bukan teknologi untuk menciptakan hujan dari kondisi langit yang tidak memiliki potensi hujan.
“Operasi modifikasi cuaca itu bukan menciptakan hujan. Bukan. Tapi menstimulasi turunnya hujan kalau ada bibit hujannya,” ujarnya.
Ia mengatakan keberhasilan OMC sangat bergantung pada keberadaan awan konvektif dan kondisi angin.
Karena itu, hujan hasil OMC tidak selalu turun tepat di atas lokasi kebakaran. Awan yang menjadi sasaran juga belum dapat diarahkan secara bebas ke lokasi tertentu.
“Belum ada teknologinya,” kata Syarif ketika ditanya apakah awan dapat diarahkan ke lokasi tertentu.
Karhutla Kubu Raya Belum Sepenuhnya Selesai
Syarif mengatakan penanganan karhutla di Kubu Raya telah berlangsung selama 63 hari sejak Juli 2026. Selama periode tersebut, tim gabungan bekerja secara bergantian sepanjang hari dengan berbagai keterbatasan.
Meski jumlah titik api kini turun drastis, kondisi udara menunjukkan dampak karhutla masih dirasakan masyarakat.
Asap masih bertahan, konsentrasi PM2,5 masih tinggi, aktivitas penerbangan terkendala jarak pandang, dan petugas masih menghadapi keterbatasan dalam menjangkau sejumlah lokasi kebakaran.
“Kita sudah cukup berusaha secara optimal dengan kemampuan sumber daya yang ada dari keuangan, kelembagaan, peralatan, dan kemampuan mobilisasi yang ada,” kata Syarif.
Dengan kondisi tersebut, penurunan titik api belum berarti persoalan karhutla di Kubu Raya telah berakhir. Selama asap dan konsentrasi PM2,5 masih tinggi, masyarakat tetap perlu mewaspadai dampak kualitas udara dan mengurangi paparan asap.