Pontianak: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai menunjukkan perkembangan positif. Sebaran titik api semakin berkurang setelah sejumlah lokasi berhasil dipadamkan.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan kondisi tersebut membuat penanganan di beberapa wilayah mulai bergeser dari operasi pemadaman menuju tahap pendinginan.
"Progres penanganan karhutla di Kalbar ini kalau kita lihat progresnya semakin lebih baik. Artinya yang pertama, sebaran titik api itu semakin sedikit karena sudah banyak tempat yang dipadamkan," kata Daniel kepada Medcom.id, Senin (7/9/2026).
Menurut Daniel, sejumlah kabupaten yang sebelumnya mengalami karhutla cukup masif kini tidak lagi berfokus pada operasi pemadaman. Wilayah tersebut mulai memasuki tahap untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul.
Empat Daerah Masuk Tahap Pendinginan
Daniel menyebut Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, dan Mempawah sebagai sejumlah wilayah yang sebelumnya menghadapi karhutla masif. Kini, penanganan di daerah-daerah tersebut telah memasuki tahap pendinginan.
"Kalau kemarin itu ada operasi pemadaman, ada operasi pemblokiran. Nah sekarang, kita sudah masuk yang namanya operasi pendinginan," ujarnya.
Tahap pendinginan menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Sebab, api yang terlihat sudah padam belum tentu sepenuhnya aman. Bara yang masih tersisa dapat kembali memicu kebakaran apabila tidak ditangani dengan baik.
Daniel menjelaskan operasi pendinginan dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi api maupun bara yang tertinggal di lokasi kebakaran.
"Artinya operasi pendinginan itu tujuannya untuk memastikan bahwa api itu benar-benar padam, tidak ada lagi yang tertinggal demi mencegah terjadinya kebakaran itu kembali," jelasnya.
Selain memastikan api tidak kembali menyala, operasi tersebut juga ditujukan untuk menjaga keamanan lingkungan dan ekosistem di wilayah terdampak karhutla.
Satgas Darat Lakukan Penyiraman Ulang
Dalam pelaksanaannya, operasi pendinginan dilakukan dengan penyiraman ulang pada titik-titik yang masih ditemukan api atau bara.
Satgas darat menjadi salah satu kekuatan utama dalam proses tersebut. Petugas kembali membasahi lokasi yang dinilai masih memiliki potensi munculnya api.
Sementara itu, satgas udara juga dapat membantu melalui operasi waterbombing. Namun, pelaksanaannya bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang di lapangan.
Daniel mengatakan waterbombing belum dapat dilakukan secara optimal dalam beberapa hari terakhir akibat buruknya visibility atau jarak pandang.
"Hanya memang persoalannya, kalau waterbombing ini tidak bisa dilakukan sejak beberapa hari lalu karena buruknya visibility atau jarak pandang," katanya.
Kondisi tersebut membuat upaya pendinginan saat ini lebih banyak dioptimalkan melalui satgas darat.
Sumber Air Masih Jadi Tantangan
Meski penanganan karhutla mulai memasuki tahap pendinginan, petugas di lapangan masih menghadapi kendala. Salah satunya adalah keterbatasan sumber air.
"Namun, kendala di lapangan bagi satgas darat adalah sumber air yang terbatas," ujar Daniel.
Keterbatasan tersebut menjadi persoalan tersendiri karena proses pendinginan membutuhkan penyiraman berulang untuk memastikan bara yang berada di dalam lahan benar-benar mati.
Karena itu, hujan alami masih menjadi salah satu faktor yang paling diharapkan untuk membantu proses pemadaman dan pendinginan karhutla di Kalimantan Barat.
"Memang, yang lebih efektif dalam operasi pemadaman itu adalah kalau turun hujan. Nah, kita juga berharap ada turun hujan," kata Daniel.
Selain berharap hujan alami, pemerintah juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang memiliki pertumbuhan awan konvektif. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menambah curah hujan dan mempercepat proses pembasahan wilayah terdampak.
Meski demikian, pelaksanaan OMC bersifat tentatif karena sangat bergantung pada keberadaan awan konvektif. Hujan yang dihasilkan pun tidak selalu turun secara merata di seluruh wilayah.
Dengan berkurangnya titik api dan masuknya sejumlah daerah ke tahap pendinginan, penanganan karhutla di Kalimantan Barat kini diarahkan untuk memastikan api benar-benar padam serta mencegah munculnya kembali titik kebakaran.
Pontianak: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai menunjukkan perkembangan positif. Sebaran titik api semakin berkurang setelah sejumlah lokasi berhasil dipadamkan.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan kondisi tersebut membuat penanganan di beberapa wilayah mulai bergeser dari operasi pemadaman menuju tahap pendinginan.
"Progres penanganan karhutla di Kalbar ini kalau kita lihat progresnya semakin lebih baik. Artinya yang pertama, sebaran titik api itu semakin sedikit karena sudah banyak tempat yang dipadamkan," kata Daniel kepada Medcom.id, Senin (7/9/2026).
Menurut Daniel, sejumlah kabupaten yang sebelumnya mengalami karhutla cukup masif kini tidak lagi berfokus pada operasi pemadaman. Wilayah tersebut mulai memasuki tahap untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul.
Empat Daerah Masuk Tahap Pendinginan
Daniel menyebut Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, dan Mempawah sebagai sejumlah wilayah yang sebelumnya menghadapi karhutla masif. Kini, penanganan di daerah-daerah tersebut telah memasuki tahap pendinginan.
"Kalau kemarin itu ada operasi pemadaman, ada operasi pemblokiran. Nah sekarang, kita sudah masuk yang namanya operasi pendinginan," ujarnya.
Tahap pendinginan menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Sebab, api yang terlihat sudah padam belum tentu sepenuhnya aman. Bara yang masih tersisa dapat kembali memicu kebakaran apabila tidak ditangani dengan baik.
Daniel menjelaskan operasi pendinginan dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi api maupun bara yang tertinggal di lokasi kebakaran.
"Artinya operasi pendinginan itu tujuannya untuk memastikan bahwa api itu benar-benar padam, tidak ada lagi yang tertinggal demi mencegah terjadinya kebakaran itu kembali," jelasnya.
Selain memastikan api tidak kembali menyala, operasi tersebut juga ditujukan untuk menjaga keamanan lingkungan dan ekosistem di wilayah terdampak karhutla.
Satgas Darat Lakukan Penyiraman Ulang
Dalam pelaksanaannya, operasi pendinginan dilakukan dengan penyiraman ulang pada titik-titik yang masih ditemukan api atau bara.
Satgas darat menjadi salah satu kekuatan utama dalam proses tersebut. Petugas kembali membasahi lokasi yang dinilai masih memiliki potensi munculnya api.
Sementara itu, satgas udara juga dapat membantu melalui operasi waterbombing. Namun, pelaksanaannya bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang di lapangan.
Daniel mengatakan waterbombing belum dapat dilakukan secara optimal dalam beberapa hari terakhir akibat buruknya visibility atau jarak pandang.
"Hanya memang persoalannya, kalau waterbombing ini tidak bisa dilakukan sejak beberapa hari lalu karena buruknya visibility atau jarak pandang," katanya.
Kondisi tersebut membuat upaya pendinginan saat ini lebih banyak dioptimalkan melalui satgas darat.
Sumber Air Masih Jadi Tantangan
Meski penanganan karhutla mulai memasuki tahap pendinginan, petugas di lapangan masih menghadapi kendala. Salah satunya adalah keterbatasan sumber air.
"Namun, kendala di lapangan bagi satgas darat adalah sumber air yang terbatas," ujar Daniel.
Keterbatasan tersebut menjadi persoalan tersendiri karena proses pendinginan membutuhkan penyiraman berulang untuk memastikan bara yang berada di dalam lahan benar-benar mati.
Karena itu, hujan alami masih menjadi salah satu faktor yang paling diharapkan untuk membantu proses pemadaman dan pendinginan karhutla di Kalimantan Barat.
"Memang, yang lebih efektif dalam operasi pemadaman itu adalah kalau turun hujan. Nah, kita juga berharap ada turun hujan," kata Daniel.
Selain berharap hujan alami, pemerintah juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang memiliki pertumbuhan awan konvektif. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menambah curah hujan dan mempercepat proses pembasahan wilayah terdampak.
Meski demikian, pelaksanaan OMC bersifat tentatif karena sangat bergantung pada keberadaan awan konvektif. Hujan yang dihasilkan pun tidak selalu turun secara merata di seluruh wilayah.
Dengan berkurangnya titik api dan masuknya sejumlah daerah ke tahap pendinginan, penanganan karhutla di Kalimantan Barat kini diarahkan untuk memastikan api benar-benar padam serta mencegah munculnya kembali titik kebakaran.
(KAH)