Jakarta: Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bina Sarana Informatika, Dr. Sarlina Sari, mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, dalam mendorong hilirisasi industri dan peningkatan investasi nasional.
Menurut Sarlina, hilirisasi menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri nasional, dan memperluas kesempatan kerja. Namun, kebijakan tersebut perlu diikuti penguatan sumber daya manusia, transfer teknologi, serta keterlibatan industri dalam negeri.
“Saya mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, dan tantangannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat industri nasional, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat,” ujar Sarlina dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 11 Oktober 2026.
Baca Juga :
Tingkatkan Pasokan Energi Dalam Negeri, Gas Natuna Bakal Mengalir ke Batam
Proyek Hilirisasi Nikel Bernilai Rp180 Triliun
Apresiasi tersebut disampaikan setelah peluncuran 11 proyek ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 8 Oktober 2026. Presiden Prabowo meresmikan empat proyek industri yang memasuki tahap komersialisasi sekaligus memulai pembangunan tujuh proyek industri baru.
Total nilai investasi dari proyek-proyek tersebut mencapai sekitar Rp180 triliun. Pengembangannya mencakup industri material baterai kendaraan listrik, aluminium, alat berat berbasis listrik, serta industri pendukung energi surya.
Sarlina menilai pengembangan tersebut menunjukkan pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah dalam membangun ekosistem industri yang terintegrasi. Menurutnya, hilirisasi perlu mendorong pengolahan sumber daya alam hingga menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Yang penting bukan hanya besarnya nilai investasi, melainkan juga seberapa jauh investasi tersebut mampu membangun ekosistem industri yang kuat, meningkatkan kapasitas teknologi nasional, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Hilirisasi harus menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok industri global,” katanya.
Rosan Dinilai Berperan Mendorong Realisasi Investasi
Sarlina juga mengapresiasi peran Rosan Roeslani dalam mendorong realisasi investasi dan memperkuat agenda hilirisasi. Menurutnya, upaya menarik investasi perlu didukung iklim usaha yang kondusif, kepastian regulasi, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia.
Sebelas proyek hilirisasi di IWIP diproyeksikan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja. Sarlina berharap investasi tersebut tidak hanya menghasilkan fasilitas industri baru, tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kerja lokal dan memperkuat pemasok domestik.
“Peran Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menjadi penting dalam memastikan bahwa komitmen investasi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Kita berharap investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas industri, tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kerja lokal, memperkuat pemasok domestik, dan mendorong tumbuhnya industri pendukung nasional,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan hilirisasi perlu diukur melalui peningkatan nilai tambah produk, pertumbuhan ekspor produk olahan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta partisipasi perusahaan nasional dalam rantai pasok industri.
Investasi Nasional Capai Rp1.010,6 Triliun
Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang dikutip dalam bahan pemberitaan, realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja.
Investasi di sektor hilirisasi tercatat mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional. Capaian tersebut dinilai perlu diikuti upaya pemerataan manfaat investasi, khususnya melalui penguatan hubungan antara industri besar, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perguruan tinggi, serta pemerintah daerah.
Sarlina menilai perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, inovasi, pendidikan vokasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat juga diperlukan agar manfaat investasi dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya aspek lingkungan, efisiensi energi, keselamatan kerja, dan keberlanjutan dalam pengembangan kawasan industri. Menurutnya, hilirisasi perlu menghasilkan manfaat jangka panjang, mulai dari kemajuan teknologi hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Jakarta: Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bina Sarana Informatika, Dr. Sarlina Sari, mengapresiasi langkah
Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, dalam mendorong
hilirisasi industri dan peningkatan investasi nasional.
Menurut Sarlina, hilirisasi menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri nasional, dan memperluas kesempatan kerja. Namun, kebijakan tersebut perlu diikuti penguatan sumber daya manusia, transfer teknologi, serta keterlibatan industri dalam negeri.
“Saya mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, dan tantangannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat industri nasional, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat,” ujar Sarlina dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 11 Oktober 2026.
Proyek Hilirisasi Nikel Bernilai Rp180 Triliun
Apresiasi tersebut disampaikan setelah peluncuran 11 proyek ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 8 Oktober 2026. Presiden Prabowo meresmikan empat proyek industri yang memasuki tahap komersialisasi sekaligus memulai pembangunan tujuh proyek industri baru.
Total nilai investasi dari proyek-proyek tersebut mencapai sekitar Rp180 triliun. Pengembangannya mencakup industri material baterai kendaraan listrik, aluminium, alat berat berbasis listrik, serta industri pendukung energi surya.
Sarlina menilai pengembangan tersebut menunjukkan pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah dalam membangun ekosistem industri yang terintegrasi. Menurutnya, hilirisasi perlu mendorong pengolahan sumber daya alam hingga menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Yang penting bukan hanya besarnya nilai investasi, melainkan juga seberapa jauh investasi tersebut mampu membangun ekosistem industri yang kuat, meningkatkan kapasitas teknologi nasional, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Hilirisasi harus menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok industri global,” katanya.
Rosan Dinilai Berperan Mendorong Realisasi Investasi
Sarlina juga mengapresiasi peran Rosan Roeslani dalam mendorong realisasi investasi dan memperkuat agenda hilirisasi. Menurutnya, upaya menarik investasi perlu didukung iklim usaha yang kondusif, kepastian regulasi, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia.
Sebelas proyek hilirisasi di IWIP diproyeksikan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja. Sarlina berharap investasi tersebut tidak hanya menghasilkan fasilitas industri baru, tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kerja lokal dan memperkuat pemasok domestik.
“Peran Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menjadi penting dalam memastikan bahwa komitmen investasi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Kita berharap investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas industri, tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kerja lokal, memperkuat pemasok domestik, dan mendorong tumbuhnya industri pendukung nasional,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan hilirisasi perlu diukur melalui peningkatan nilai tambah produk, pertumbuhan ekspor produk olahan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta partisipasi perusahaan nasional dalam rantai pasok industri.
Investasi Nasional Capai Rp1.010,6 Triliun
Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang dikutip dalam bahan pemberitaan, realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja.
Investasi di sektor hilirisasi tercatat mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional. Capaian tersebut dinilai perlu diikuti upaya pemerataan manfaat investasi, khususnya melalui penguatan hubungan antara industri besar, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perguruan tinggi, serta pemerintah daerah.
Sarlina menilai perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, inovasi, pendidikan vokasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat juga diperlukan agar manfaat investasi dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya aspek lingkungan, efisiensi energi, keselamatan kerja, dan keberlanjutan dalam pengembangan kawasan industri. Menurutnya, hilirisasi perlu menghasilkan manfaat jangka panjang, mulai dari kemajuan teknologi hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
(ASM)