Karhutla. Foto: Istimewa.
Karhutla. Foto: Istimewa.

Dari Hotspot sampai Water Bombing, Begini Cara Pemerintah Atasi Karhutla

Arif Wicaksono • 24 Agustus 2026 14:28
Ringkasnya gini..
  • Pemerintah membangun sistem berlapis, mulai dari mendeteksi titik panas, mengirim personil ke lokasi, menjaga lahan gambut tetap basah, hingga mengerahkan helikopter ketika api sulit dijangkau dari darat.
  • Pemantauan titik panas atau hotspot menjadi salah satu instrumen utama untuk mengetahui wilayah yang memiliki indikasi kebakaran.

Jakarta: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini tidak lagi hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar. 

Pemerintah membangun sistem berlapis, mulai dari mendeteksi titik panas, mengirim personil ke lokasi, menjaga lahan gambut tetap basah, hingga mengerahkan helikopter ketika api sulit dijangkau dari darat.

Baca juga:  Karhutla Mengancam Habitat Satwa di Kalimantan

Strategi tersebut menjadi penting karena karhutla memiliki karakter yang berbeda dengan kebakaran biasa.
 
Api di lahan gambut, misalnya, dapat merambat di bawah permukaan dan kembali muncul meski kobaran di atas tanah telah berhasil dipadamkan.

Oleh karena itu, langkah pertama pemerintah dilakukan jauh sebelum api terlihat membesar.

Hotspot Jadi Alarm Pertama

Pemantauan titik panas atau hotspot menjadi salah satu instrumen utama untuk mengetahui wilayah yang memiliki indikasi kebakaran. Informasi dari satelit seperti Terra, Aqua, NOAA, hingga Sentinel digunakan untuk mengidentifikasi anomali panas di permukaan.

Informasi tersebut kemudian dihimpun melalui sistem pemantauan karhutla milik Kementerian Kehutanan, termasuk platform Sipongi. Data koordinat menjadi acuan bagi petugas untuk menentukan wilayah yang perlu segera diperiksa.

Deteksi dari satelit tidak otomatis berarti seluruh hotspot merupakan kebakaran besar. Karena itu, informasi tersebut perlu dilanjutkan dengan pengecekan di lapangan.

Petugas melakukan ground checking untuk memastikan kondisi sebenarnya sekaligus menentukan langkah penanganan. Dengan mekanisme tersebut, sumber api diharapkan dapat ditangani ketika skalanya masih kecil.

Peran Manggala Agni 

Ketika api terkonfirmasi, respons kemudian bergeser ke lapangan. Manggala Agni bersama personel TNI, Polri, pemerintah daerah dan Masyarakat Peduli Api (MPA) dikerahkan untuk melakukan pemadaman.

Operasi darat tidak hanya mengejar kobaran yang terlihat. Petugas juga perlu memastikan bara tidak tersisa dan kembali menyala.

Sejumlah metode digunakan, mulai dari pemadaman langsung dengan pompa air, pembuatan sekat bakar untuk membatasi pergerakan api, hingga proses mopping up atau pembasahan kembali area yang telah terbakar.

Tahap terakhir menjadi sangat penting di wilayah gambut. Api dapat bertahan di lapisan bawah tanah dan bergerak secara perlahan tanpa menghasilkan kobaran besar di permukaan.

Artinya, keberhasilan pemadaman tidak cukup hanya dengan membuat api terlihat mati. Petugas harus memastikan sumber panas benar-benar terkendali.

Water Bombing 

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika lokasi kebakaran berada jauh di dalam kawasan hutan, berada di lahan gambut, atau tidak memiliki akses yang memungkinkan mobilisasi peralatan pemadam.

Dalam situasi tersebut, operasi udara menjadi salah satu pilihan utama. Helikopter pemadam dikerahkan untuk melakukan water bombing. Pesawat atau helikopter membawa air dalam jumlah besar menggunakan water bucket, kemudian menjatuhkannya secara langsung ke area yang terbakar. Metode ini memungkinkan air diarahkan ke lokasi yang sulit dijangkau personel dan kendaraan dari darat.

Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan dukungan tambahan untuk operasi tersebut. Saat meninjau penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, Presiden menyatakan pemerintah akan menambah empat helikopter water bombing untuk memperkuat operasi pemadaman.

Presiden mengatakan pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan daerah, mulai dari tambahan helikopter hingga peralatan pengeboran dan pompa air."Setiap hari kita tambahkan helikopter-helikopter, alat-alat, mesin bor untuk air, semua perlengkapan kita penuhi," ujar Prabowo.

Menurut dia, pemerintah berharap kebakaran dapat segera dikendalikan dengan dukungan berbagai peralatan tersebut.

Modifikasi Cuaca 

Pemadaman bukan satu-satunya pekerjaan. Pemerintah juga harus mencegah kebakaran kembali muncul, terutama di kawasan gambut.

Salah satu instrumen yang digunakan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi awan yang memungkinkan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran.

Hujan yang turun dapat membantu membasahi kembali kawasan yang mengalami kekeringan. Bagi lahan gambut, kondisi tersebut penting karena tingkat kebasahan lahan berpengaruh terhadap risiko munculnya kebakaran bawah permukaan.

Upaya menjaga air di kawasan gambut juga dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan penyediaan peralatan pemompaan. Langkah tersebut memungkinkan sumber air lebih mudah dimanfaatkan ketika terjadi kebakaran.

Perkuat Penegakan Hukum dan Pencegahan

Pemerintah juga menempatkan aspek penegakan hukum sebagai bagian dari strategi penanggulangan karhutla.

Pembakaran lahan secara sengaja dan ilegal dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari kerusakan lingkungan hingga gangguan kesehatan masyarakat akibat asap. Karena itu, pihak yang terbukti melakukan pelanggaran dapat menghadapi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, pencegahan juga diarahkan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan kebakaran.
 
Masyarakat Peduli Api menjadi salah satu unsur penting karena warga lokal berada paling dekat dengan wilayah yang berpotensi terbakar. Edukasi, peningkatan kapasitas, serta pelibatan masyarakat diharapkan dapat mempercepat laporan ketika muncul indikasi kebakaran.

Pendekatan tersebut membuat penanganan karhutla tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif.

Dari Satelit hingga Helikopter

Pada akhirnya, perang melawan karhutla membutuhkan kombinasi berbagai instrumen.  Satelit berfungsi sebagai mata untuk menemukan indikasi titik panas. Petugas lapangan menjadi ujung tombak untuk melakukan verifikasi dan pemadaman. Pompa, sumur bor, serta sekat bakar membantu operasi di darat.

Ketika medan tidak memungkinkan dijangkau, helikopter water bombing mengambil peran. Sementara itu, OMC digunakan untuk membantu meningkatkan curah hujan di wilayah yang membutuhkan pembasahan.

Dengan sistem yang menggabungkan teknologi pemantauan, respons cepat, operasi darat dan udara, pengelolaan lahan gambut, serta penegakan hukum, pemerintah berupaya memperkecil risiko karhutla sekaligus membatasi dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>