Penanganan karhutla di Kalimantan. Foto: Medcom/kautsar Halim.
Penanganan karhutla di Kalimantan. Foto: Medcom/kautsar Halim.

Didominasi Lahan Gambut, Ini 4 Wilayah Penanganan Karhutla Tersulit di Kalbar

Arif Wicaksono • 08 September 2026 20:34
Ringkasnya gini..
  • Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar), terjadi di lahan gambut. Hal tersebut membuat penanganan semakin sulit.
  • Daniel menyebut luas lahan gambut di Kalbar sekitar 2 juta hektare. Di tengah insiden karhutla, ada empat wilayah Kalbar yang tersulit penangannnya.
Pontianak: Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar), terjadi di lahan gambut. Hal tersebut membuat penanganan semakin sulit.

"Penanganan karhutla yang agak sulit itu yang terjadi di lahan gambut," ujar Koordinator Harian Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Daniel, kepada Metrotvnews.com, Selasa, 8 September 2026.
 
Baca Juga:   Cara BUMN Cegah Karhutla, Perhutani Patroli Hutan Semarang hingga Perbatasan


Daniel menyebut luas lahan gambut di Kalbar sekitar 2 juta hektare. Di tengah insiden karhutla, ada empat wilayah Kalbar yang tersulit penangannnya.

"Wilayah itu yaitu Kubu Raya, Kayau Utara, Mempawah, dan Ketapang," ungkap Daniel.

Daniel mengungkapkan, kesulitan penanganan karhutla di lahan gambut terletak pada pemadaman api. Meski di permukaan tampak padam, tapi di bawahnya api masih menyala.

Selain itu, karhutla di lahan gambut menghasilkan asap yang cukup pekat. Hal tersebut menyebabkan asap menyelimuti kota Pontianak, padahal kasus karhutlanya minim.

"Kota Pontianak secara administrasi itu kan tidak terbakar, tapi ada asap. Nah asap ini kan dibawa dari kabupaten lain yang terbakar dan asapnya terbawa oleh angin," ujar Daniel.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan.

Gambut Harus Benar-Benar Basah

Petugas juga perlu memastikan bagian dalam gambut benar-benar basah agar api tidak kembali muncul. Hal itu disampaikan Ahli Madya Kebencanaan BPBD Kalbar, Erfandi, saat memimpin pemadaman lahan terbakar di Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya.

Menurutnya, setelah dilakukan pembasahan, petugas masih menemukan bagian gambut yang ternyata belum sepenuhnya padam.

Kondisi tersebut menjadi indikasi lapisan gambut di lokasi cukup dalam sehingga api masih dapat bertahan di bagian bawah permukaan.

"Tadi kan kita melakukan pembasahan ini, dia sudah membanjirkan. Ternyata masih hidup. Itu pertanda bahwa gambutnya dalam," ujarnya.

Maka dari itu proses pembasahan harus dilakukan lebih lanjut. Air dimasukkan ke dalam area gambut hingga meresap ke lapisan yang lebih dalam.

"Mau tidak mau harus kita benamkan seperti ini. Kita masukkan airnya sampai itu meresap ke dalam gambut, sehingga nanti otomatis basah," katanya.

Pembasahan tersebut diharapkan dapat menekan potensi munculnya kembali titik api. Sebab, gambut yang berada dalam kondisi basah akan lebih sulit terbakar dibandingkan gambut yang kering."Kalau gambut basah, kami berharap api tidak muncul lagi seperti itu," ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan penanganan karhutla di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Api tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi dapat bertahan di lapisan gambut dan kembali muncul ketika kondisi lingkungan mendukung.

Karena itu, selain pemadaman, upaya menjaga kelembaban gambut menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>