Tenda darurat di Susteran ALMA Maumere NTT.
Tenda darurat di Susteran ALMA Maumere NTT.

Ketika Gempa Memutus Doa Pagi: Cerita Suster Paulina Merangkul Ketakutan Anak-Anak ALMA

Muhammad Syahrul Ramadhan • 29 Agustus 2026 10:18
Ringkasnya gini..
  • Gempa bumi berkekuatan M 7,7 menghantam NTT, mengubah suasana doa menjadi kepanikan singkat.
  • Di tengah kepungan rasa cemas dan tanah yang terus bergetar, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain bertahan bersama
  • Kepedulian dari berbagai pihak, termasuk bantuan institusi seperti PT Bank Tabungan Negara (BTN) menjadi penopang utama.
Maumere: Suasana pagi di Kapel Susteran ALMA (Asosiasi Lembaga Misionaris Awam) Maumere awalnya berlangsung khusyuk. Para suster, pegawai, dan anak-anak berkebutuhan khusus sedang berkumpul, menundukkan kepala dalam doa bersama. Namun, keheningan itu mendadak sirnah ketika tanah yang mereka pijak berguncang hebat.
 
Gempa bumi berkekuatan M 7,7 menghantam NTT, mengubah suasana doa menjadi kepanikan singkat. Refleks spontan langsung terjadi di dalam ruangan. Tanpa memikirkan hal lain, para suster dan pegawai bergerak cepat menuntun serta menyelamatkan anak-anak keluar dari bangunan.
"Jadi waktu terjadi gempa, itu situasinya pagi hari, kami semua itu berada di kapel sedang berdoa. Kemudian terjadi gempa, memang kami dengan spontannya langsung semua lari keluar ke samping," ungkap Pimpinan Biara Susteran ALMA Maumere, Sr. Paulina Bule Alma kepada Medcom.id.
 
Langkah kaki terburu-buru membawa mereka ke area terbuka di samping kapel. Di luar, guncangan terasa kian kencang. Rasa takut yang membuncah tak mampu dibendung, terutama bagi anak-anak disabilitas yang kebingungan menghadapi situasi ekstrem tersebut.

Di tengah kepungan rasa cemas dan tanah yang terus bergetar, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain bertahan bersama. Para suster, pegawai, dan anak-anak seketika merapat dan saling memeluk erat satu sama lain.
 
"Memang kena gempanya kencang sekali, jadi anak-anak itu ketakutan. Kami juga semua, para Suster dengan pegawai yang waktu itu ada di situ, ya sudah saling berpelukan karena ketakutan," tutur Suster Paulina.
 
Suster Paulina mengungkapkan menjelang sore situasi mulai kondusif. Setelah merasa aman anak-anak kembali ke ruangan masing-masing untuk istirahat. Namun siapa sangka, pada hari Minggu tanggal 16, gempa susulan kembali menghantam di pagi hari. Kondisi ini kembali memantik kepanikan, apalagi beberapa bangunan tampak retak.
 
Menyadari risiko bangunan yang bisa runtuh sewaktu-waktu, Suster Paulina dan para pengasuh mengambil keputusan cepat untuk evakuasi.
 
Penyelamatan diri dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan keamanan anak-anak berkebutuhan khusus yang mereka asuh. Untuk mempermudah akses lari, anak-anak tidak lagi tidur di kamar. Anak putri dipindahkan ke ruang tamu, sementara anak putra bertempat di ruangan yang lebih luas.
 
Setelah frekuensi gempa susulan semakin meningkat, para pengasuh kemudian memutuskan untuk semua anak keluar dari bangunan. Di hari kedua, mereka mendirikan tenda-tenda pramuka seadanya beralaskan tikar dan karpet. Meski sederhana cara ini dirasa paling aman meskipun harus terkena terpaan dinginnya malam.

Suster Paulina menjelaskan beberapa hari kemudian mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah berupa tenda keluarga.
 
Tenda ini menjadi tempat berlindung utama selama seminggu, baik siang maupun malam. Aktivitas di dalam rumah hanya tersisa untuk memasak, itu pun dilakukan dengan sigap.
 
Bagi anak-anak dengan kondisi disabilitas yang beragam, memahami situasi bencana tentu bukan hal mudah. Namun, pendekatan komunikatif dan penuh kasih dari Suster Paulina berhasil meredam kepanikan.
 
Suster Paulina memberikan pengertian secara perlahan bahwa dinding rumah bisa runtuh jika terjadi guncangan. Menariknya, bagi anak-anak, mengungsi di area terbuka justru menjadi pengalaman yang menyenangkan.
 
"Untuk mereka itu senang-senang saja tidur di luar, tidak ada beban. Malah mereka merasa senang karena di alam bebas, merasanya kayak camping," tutur Suster Paulina.
 
Di bawah naungan lima tenda yang terbagi untuk anak putra dan putri, ritme harian tetap terjaga. Usai makan dan beraktivitas, anak-anak dengan tertib beristirahat di area terbuka tersebut.

Uluran Tangan di Tengah Bencana Dukungan untuk Susteran ALMA terus mengalir. Selain tenda dan tiga lembar terpal alas dari pemerintah daerah, lembaga ini juga menerima paket bantuan anak-anak yang tinggal panti sejumlah 55 paket.
Ketika Gempa Memutus Doa Pagi: Cerita Suster Paulina Merangkul Ketakutan Anak-Anak ALMA

(Anak-anak di Susteran ALMA girang saat mendapatkan bantuan).
 
Kepedulian dari berbagai pihak, termasuk bantuan institusi seperti PT Bank Tabungan Negara (BTN) menjadi penopang utama keberlangsungan perawatan anak-anak di masa pemulihan pascabencana.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>