Ilustrasi hujan. (Foto: sandid from Pixabay)
Ilustrasi hujan. (Foto: sandid from Pixabay)

Benarkah Hujan OMC Asin dan Tak Boleh Diminum? Ini Faktanya

Kautsar Halim • 07 September 2026 18:09
Ringkasnya gini..
  • Hujan hasil OMC tidak otomatis menjadi asin meski proses penyemaian menggunakan bahan seperti NaCl untuk membantu pembentukan butir hujan.
  • BMKG Kalbar menyatakan klaim air hujan hasil OMC terkontaminasi bahan penyemaian dan tidak layak digunakan adalah hoaks.
  • Dalam kondisi karhutla, air hujan tetap perlu diendapkan dan disaring karena atmosfer dapat mengandung debu, asap, jelaga, dan partikulat hasil pembakaran.
Pontianak: Beredar anggapan bahwa air hujan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terasa asin dan tidak boleh diminum karena mengandung bahan yang digunakan untuk penyemaian awan. Namun, anggapan tersebut tidak tepat.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan perbedaan utama hujan hasil OMC dengan hujan alami bukan terletak pada rasa airnya, melainkan pada proses dan lokasi turunnya hujan.

"Perbedaannya itu bukan soal rasa. Tapi, di mana hujan itu turun. Jadi hujan modifikasi cuaca itu biasanya turun di satu wilayah saja atau tidak merata, seperti hujan lokal saja," kata Daniel kepada Medcom.id, Senin (7/9/2026).

Daniel selaku Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat

Penjelasan tersebut sejalan dengan klarifikasi BMKG Kalimantan Barat. Dalam siaran pers pada 4 September 2026, BMKG menyatakan informasi bahwa air hujan hasil OMC terkontaminasi bahan penyemaian dan tidak layak digunakan masyarakat merupakan hoaks.
 

NaCl Digunakan untuk Penyemaian Awan


Daniel menjelaskan OMC memang menggunakan bahan tertentu untuk membantu memicu terbentuknya hujan. Salah satu bahan yang digunakan adalah garam dengan tingkat kemurnian tinggi.

"Modifikasi cuaca itu kan hanya menabur garam dengan tingkat kemurnian yang tinggi untuk memicu terjadinya hujan. Jadi tidak benar kalau misalnya modifikasi cuaca rasanya asin," ujarnya.

BMKG menjelaskan bahan semai yang umum digunakan dalam OMC antara lain natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl), dan kapur tohor sesuai kebutuhan metode penyemaian. NaCl berfungsi sebagai bahan semai untuk membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan. 

BMKG juga menyebut NaCl yang digunakan memiliki karakteristik serupa dengan garam dapur, tetapi berbeda pada tingkat kemurnian dan ukuran partikelnya. Berdasarkan pemantauan dan evaluasi, penggunaan bahan semai tersebut tidak terbukti menurunkan kualitas air secara signifikan. 
 

Bukan OMC yang Membuat Air Hujan Berbahaya


Lantas, mengapa masyarakat tetap disarankan tidak langsung meminum air hujan?

Daniel menjelaskan persoalannya bukan karena air hujan tersebut berasal dari OMC. Terlebih, pada kondisi karhutla seperti yang terjadi di Kalimantan Barat, atmosfer dapat mengandung debu, asap, jelaga, dan berbagai partikel hasil pembakaran.

"Ini kan hujan yang pertama kali membasahi bumi, membasahi atap rumah. Atap rumah ini kan pasti ada debu atau kotor begitu," jelas Daniel.

Karena itu, dia menyarankan air hujan tidak langsung dikonsumsi, terutama ketika baru turun dan pertama kali membasahi permukaan yang kemungkinan mengandung berbagai partikel.

Daniel menilai air perlu melalui proses penyaringan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai air konsumsi.

"Jadi walaupun tidak musim kemarau, kalau memang hujan yang pertama kali itu tidak boleh diminum. Karena itu kan ada partikel-partikel debu yang harus betul-betul tersaring, direndam dulu, ter-filter dengan baik, baru bisa dikonsumsi," katanya.

Penjelasan tersebut juga sejalan dengan imbauan BMKG Kalimantan Barat. BMKG menyebut kewaspadaan terhadap pemanfaatan air hujan dalam kondisi karhutla lebih berkaitan dengan kemungkinan adanya partikel hasil pembakaran di atmosfer, bukan karena pelaksanaan OMC. Masyarakat disarankan mengendapkan dan menyaring air hujan terlebih dahulu sebelum digunakan, terutama untuk kebutuhan rumah tangga. 
 

Hujan OMC Bisa Bersifat Lokal


Selain soal keamanan air, Daniel menjelaskan salah satu karakteristik hujan hasil OMC adalah wilayah turunnya yang tidak selalu merata.

Hal ini berkaitan dengan mekanisme OMC yang bergantung pada keberadaan awan konvektif. Penyemaian dilakukan pada awan yang dinilai memenuhi kondisi untuk mendukung proses pembentukan hujan.

Akibatnya, hujan bisa turun di satu lokasi, sementara wilayah lain yang masih berada dalam satu kabupaten belum tentu mendapatkan hujan dengan intensitas yang sama.

"Jadi ini bukan persoalan misalnya, oh ini modifikasi cuaca. Modifikasi cuaca itu kan hanya menabur garam dengan tingkat kemurnian yang tinggi untuk memicu terjadinya hujan," ujar Daniel.

Dengan demikian, anggapan bahwa hujan hasil OMC otomatis menjadi asin dan berbahaya untuk dikonsumsi tidak tepat. Yang perlu diperhatikan justru kualitas air hujan dan kondisi lingkungan tempat air tersebut ditampung, terlebih saat udara masih dipengaruhi asap dan partikulat akibat karhutla.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KAH)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>