Jakarta: Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada Sabtu pagi, 26 September 2026, sehingga membuatnya masih berada pada Level III atau Waspada.
Berdasarkan data laman MAGMA Indonesia yang dilansir pada Sabtu, 26 September 2026, hingga pukul 08.21 WIB, dalam waktu sekitar tiga jam, gunung api tersebut dilaporkan mengalami empat kali letusan, dengan kolom abu mencapai ratusan meter di atas puncak.
Aktivitas kemudian kembali tercatat beberapa kali hingga pukul 08.21 WIB. Berikut rincian empat letusan Gunung Semeru berdasarkan laporan MAGMA Indonesia.
Baca Juga :
Abu Vulkanik Semeru dan Lewotolo Masih Terdeteksi, Warga Diminta Tetap Waspada
Letusan Pertama hingga Kedua Terjadi dalam Selang 10 Menit
Letusan pertama Gunung Semeru terjadi pada pukul 05.17 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 900 meter di atas puncak atau sekitar 4.576 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia, kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara dan erupsi masih berlangsung saat pengamatan dilakukan.
Sekitar 10 menit kemudian, letusan kedua terjadi pada 05.27 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 3.976 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara.
Dua Letusan Berikutnya Terekam Seismograf
Aktivitas ketiga kemudian terjadi pada pukul 06.23 WIB. Kolom abu teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut, berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 153 detik.
Letusan keempat kemudian terjadi pada 08.21 WIB, dengan tinggi kolom abu sekitar 700 meter di atas puncak dan arah sebaran ke timur laut. Erupsi ini juga terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm, sementara durasinya tercatat 115 detik.
Masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut masih rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jakarta:
Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada Sabtu pagi, 26 September 2026, sehingga membuatnya masih berada pada Level III atau Waspada.
Berdasarkan data laman
MAGMA Indonesia yang dilansir pada Sabtu, 26 September 2026, hingga pukul 08.21 WIB, dalam waktu sekitar tiga jam, gunung api tersebut dilaporkan mengalami empat kali letusan, dengan kolom abu mencapai ratusan meter di atas puncak.
Aktivitas kemudian kembali tercatat beberapa kali hingga pukul 08.21 WIB. Berikut rincian empat letusan Gunung Semeru berdasarkan laporan MAGMA Indonesia.
Letusan Pertama hingga Kedua Terjadi dalam Selang 10 Menit
Letusan pertama Gunung Semeru terjadi pada pukul 05.17 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 900 meter di atas puncak atau sekitar 4.576 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia, kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara dan erupsi masih berlangsung saat pengamatan dilakukan.
Sekitar 10 menit kemudian, letusan kedua terjadi pada 05.27 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 3.976 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara.
Dua Letusan Berikutnya Terekam Seismograf
Aktivitas ketiga kemudian terjadi pada pukul 06.23 WIB. Kolom abu teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut, berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 153 detik.
Letusan keempat kemudian terjadi pada 08.21 WIB, dengan tinggi kolom abu sekitar 700 meter di atas puncak dan arah sebaran ke timur laut. Erupsi ini juga terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm, sementara durasinya tercatat 115 detik.
Masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut masih rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
(Wisa Irena Br Sitepu)
(ANN)