Jakarta: Bagi Triono, seorang petani di Desa Sindang Sari, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, memilih tanaman bukan sekadar soal musim. Faktor terpenting adalah kepastian harga dan pasar. Setelah bertahun-tahun menanam singkong, ia kini beralih menanam jagung di lahan seluas dua hektare miliknya dan berencana memperluas usahanya dengan dukungan pembiayaan.
Kisah Triono adalah cerminan dari perubahan besar yang sedang terjadi di Lampung. Provinsi ini tengah membangun ketahanan pangan yang kuat tidak hanya lewat satu komoditas, melainkan melalui penguatan produksi, hilirisasi, dan kepastian pasar yang saling terhubung.
Lebih dari Sekadar Lumbung Padi
Selama ini Lampung dikenal sebagai salah satu lumbung beras nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, produksi padi Lampung pada 2025 mencapai 3,25 juta ton gabah kering giling (GKG), melesat 16,53 persen dari tahun sebelumnya. Dengan produksi beras konsumsi mencapai 1,87 juta ton, Lampung sukses mengamankan pasokan pangan pokoknya.
Namun, potensi Lampung tak berhenti di situ. Jagung juga menunjukkan lonjakan signifikan. Produksi jagung pipilan kering (kadar air 14 persen) pada 2025 mencapai 1,26 juta ton, naik 13,70 persen. Untuk menjaga kualitas, Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan DPRD Lampung aktif mendistribusikan mesin pengering jagung. Langkah ini terbukti krusial untuk menekan kadar air, sehingga jagung petani bisa terserap maksimal oleh industri pakan ternak dengan harga yang lebih kompetitif.
Hilirisasi Singkong: Dari Ladang ke Ekspor
Singkong tetap menjadi tulang punggung ekonomi pertanian Lampung, meski BPS mencatat sedikit penurunan produksi menjadi 7,52 juta ton pada 2025. Lampung Tengah dan Lampung Timur masih kokoh sebagai sentra utama penghasil ubi kayu ini.
Untuk menjaga gairah petani singkong, pemerintah mendorong langkah hilirisasi. Bukti nyatanya terlihat pada Mei 2026, ketika Pemprov Lampung melepas ekspor perdana 3.300 ton tepung tapioka senilai Rp26 miliar ke Tiongkok. Di tingkat industri kecil, produksi modified cassava flour (mocaf) di Pringsewu juga terus didorong melalui bantuan mesin penepung.
“Kalau ingin memakmurkan petani, industrinya juga harus didorong. Kita ingin berjalan bersama, bukan saling melemahkan,” tegas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Menjawab Tantangan Tata Niaga dan Digitalisasi
Meski hilirisasi berjalan, pekerjaan rumah masih ada. Saat bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 2026, petani Lampung Timur menyuarakan keluhan terkait potongan timbangan (rafaksi), akurasi pengukuran kadar pati, dan minimnya alat pertanian. Hal ini direspons oleh pemerintah daerah dengan menerapkan kebijakan harga acuan pembelian singkong, serta program pendampingan dari Kementerian Perindustrian untuk memperkuat posisi tawar petani kecil.
Ke depan, Lampung juga bersiap membangun Cassava Center dan mengembangkan industri bioetanol berbasis singkong.
Seluruh ekosistem ini akan semakin kuat dengan dukungan digitalisasi hulu ke hilir. Seperti yang ditegaskan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid pada Oktober 2026, teknologi digital tidak boleh hanya terpusat di kota, melainkan harus masuk ke desa-desa pertanian demi mendukung target swasembada pangan. Penggunaan sensor lahan dan teknologi berbasis data akan menjadi standar baru efisiensi pertanian di Lampung.
Memasuki akhir 2026, visi Lampung sudah sangat jelas. Dengan mengawinkan komoditas pangan pokok, bahan baku industri, tata niaga yang adil, dan inovasi teknologi, Lampung tidak hanya bertani, tetapi sedang membangun ekosistem ketahanan pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Jakarta: Bagi Triono, seorang petani di Desa Sindang Sari, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, memilih tanaman bukan sekadar soal musim. Faktor terpenting adalah kepastian harga dan pasar. Setelah bertahun-tahun menanam singkong, ia kini beralih menanam jagung di lahan seluas dua hektare miliknya dan berencana memperluas usahanya dengan dukungan pembiayaan.
Kisah Triono adalah cerminan dari perubahan besar yang sedang terjadi di Lampung. Provinsi ini tengah membangun ketahanan pangan yang kuat tidak hanya lewat satu
komoditas, melainkan melalui penguatan produksi, hilirisasi, dan kepastian pasar yang saling terhubung.
Lebih dari Sekadar Lumbung Padi
Selama ini Lampung dikenal sebagai salah satu lumbung beras nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, produksi padi Lampung pada 2025 mencapai 3,25 juta ton gabah kering giling (GKG), melesat 16,53 persen dari tahun sebelumnya. Dengan produksi beras konsumsi mencapai 1,87 juta ton, Lampung sukses mengamankan pasokan pangan pokoknya.
Namun, potensi Lampung tak berhenti di situ. Jagung juga menunjukkan lonjakan signifikan. Produksi jagung pipilan kering (kadar air 14 persen) pada 2025 mencapai 1,26 juta ton, naik 13,70 persen. Untuk menjaga kualitas, Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan DPRD Lampung aktif mendistribusikan mesin pengering jagung. Langkah ini terbukti krusial untuk menekan kadar air, sehingga jagung petani bisa terserap maksimal oleh industri pakan ternak dengan harga yang lebih kompetitif.
Hilirisasi Singkong: Dari Ladang ke Ekspor
Singkong tetap menjadi tulang punggung ekonomi pertanian Lampung, meski BPS mencatat sedikit penurunan produksi menjadi 7,52 juta ton pada 2025. Lampung Tengah dan Lampung Timur masih kokoh sebagai sentra utama penghasil ubi kayu ini.
Untuk menjaga gairah petani singkong, pemerintah mendorong langkah hilirisasi. Bukti nyatanya terlihat pada Mei 2026, ketika Pemprov Lampung melepas ekspor perdana 3.300 ton tepung tapioka senilai Rp26 miliar ke Tiongkok. Di tingkat industri kecil, produksi modified cassava flour (mocaf) di Pringsewu juga terus didorong melalui bantuan mesin penepung.
“Kalau ingin memakmurkan petani, industrinya juga harus didorong. Kita ingin berjalan bersama, bukan saling melemahkan,” tegas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Menjawab Tantangan Tata Niaga dan Digitalisasi
Meski hilirisasi berjalan, pekerjaan rumah masih ada. Saat bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 2026, petani Lampung Timur menyuarakan keluhan terkait potongan timbangan (rafaksi), akurasi pengukuran kadar pati, dan minimnya alat pertanian. Hal ini direspons oleh pemerintah daerah dengan menerapkan kebijakan harga acuan pembelian singkong, serta program pendampingan dari Kementerian Perindustrian untuk memperkuat posisi tawar petani kecil.
Ke depan, Lampung juga bersiap membangun Cassava Center dan mengembangkan industri bioetanol berbasis singkong.
Seluruh ekosistem ini akan semakin kuat dengan dukungan digitalisasi hulu ke hilir. Seperti yang ditegaskan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid pada Oktober 2026, teknologi digital tidak boleh hanya terpusat di kota, melainkan harus masuk ke desa-desa pertanian demi mendukung target swasembada pangan. Penggunaan sensor lahan dan teknologi berbasis data akan menjadi standar baru efisiensi pertanian di Lampung.
Memasuki akhir 2026, visi Lampung sudah sangat jelas. Dengan mengawinkan komoditas pangan pokok, bahan baku industri, tata niaga yang adil, dan inovasi teknologi, Lampung tidak hanya bertani, tetapi sedang membangun ekosistem ketahanan pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
(RUL)