Tenda bantuan Kemendikdasmen siap dipakai untuk kegiatan pembelajaran SMP Negeri 1 Maumere mulai 31 Agustus (Foto:Medcom.id/Syahrul Ramadhan)
Tenda bantuan Kemendikdasmen siap dipakai untuk kegiatan pembelajaran SMP Negeri 1 Maumere mulai 31 Agustus (Foto:Medcom.id/Syahrul Ramadhan)

Di Bawah Tenda, Sekolah Tetap Menyala: SMPN 1 Maumere Bertahan Pasca Gempa

Muhammad Syahrul Ramadhan • 30 Agustus 2026 11:05
Ringkasnya gini..
  • Pasca gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, sejumlah bagian bangunan SMPN 1 Maumere. mengalami kerusakan.
  • Ada dua tenda bantuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
  • Pembelajaran tetap dilaksanakan pada pagi hari dan berlangsung satu kali dalam sehari.
Unemg: Suasana belajar di SMPN 1 Maumere tak lagi sama. Ruang-ruang kelas yang sebelumnya menjadi tempat ratusan siswa menimba ilmu kini harus ditinggalkan sementara. Retakan besar pada bangunan sekolah membuat aktivitas pembelajaran tidak lagi memungkinkan dilakukan di gedung utama.
 
Pasca gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, sejumlah bagian bangunan SMPN 1 Maumere mengalami kerusakan. Kondisi paling mengkhawatirkan ditemukan retakan pada sejumlah ruang kelas, terutama dua ruangan yang mengalami kerusakan cukup parah.
 
Retakan tidak hanya terlihat pada dinding. Pada bagian bangunan, besi-besi penopang juga sudah tampak. Sementara di lantai dua, hampir setiap ruang kelas mengalami keretakan.

"Dua ruang kelas itu parah. Retakan temboknya sudah condong masuk ke dalam ruangan kelas," ujar Kepala SMPN 1 Maumere, Maria Heliana kepada Medcom.id.
 
Hasil pemantauan tim teknis kemudian memastikan bahwa bangunan sekolah tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dalam kondisi tanggap darurat. Seluruh aktivitas pembelajaran pun harus dipindahkan ke lokasi yang dinilai lebih aman.
 
SMPN 1 Maumere sendiri memiliki 20 rombongan belajar dengan total 618 siswa. Besarnya jumlah siswa membuat proses pemindahan kegiatan belajar mengajar bukan perkara sederhana.
 
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga Kabupaten Sikka bergerak mencari lokasi sementara. SMPN 1 Maumere kemudian mendapatkan tempat belajar sementara di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
 
Ada dua tenda bantuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang sudah tiba. Dibantu anggota Polri tenda tersebut rampung dibangun di SKB.
 
Di Bawah Tenda, Sekolah Tetap Menyala: SMPN 1 Maumere Bertahan Pasca Gempa
(Anggota Polri membantu membangun tenda bantuan Kemendikdasmen untuk kelas darurat SMPN 1 Maumere.  Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)
 
"Satu tenda sudah jadi. Satunya sementara Bapak Polisi dan Bapak Brimob membantu membangun," katanya.
 
Dua tenda tersebut menjadi bagian penting dari upaya sekolah agar kegiatan belajar tidak terhenti. Di tengah keterbatasan ruang, pihak sekolah harus mengatur kembali komposisi siswa dan pemanfaatan setiap fasilitas yang tersedia.
 
Dengan kondisi darurat, jumlah siswa di dalam ruangan tidak selalu dapat mengikuti kapasitas ideal satu kelas yang berjumlah 32 siswa. Sekolah harus menyesuaikan pembagian ruang dengan kondisi yang ada.
 
Meski demikian, satu hal yang dipastikan kepala sekolah adalah pembelajaran harus tetap berjalan.
 
Maria menambahkan pihak SKB juga mengizinkan penggunaan ruang kelas. Ada delapa ruangan, terdiri dari tujuh ruang kelas berukuran standar dan satu ruang berukuran lebih kecil.
 
"Kami akan mengoptimalkan semua kegiatan pembelajaran sesuai dengan aturannya. Hanya mungkin jumlah siswa di dalam ruangan itu kami atur sesuai dengan kondisi ruangan yang ada," ujarnya.

Kegiatan Pembelajaran akan dimulai pada 31Agustus 2026. Pembelajaran tetap dilaksanakan pada pagi hari dan berlangsung satu kali dalam sehari. Kebijakan ini dipilih karena sebagian besar siswa tinggal di wilayah timur, sementara lokasi sekolah sementara berada lebih ke arah barat.
 
Jarak yang cukup jauh menjadi pertimbangan tersendiri bagi sekolah. Apalagi kondisi masih dalam masa tanggap darurat sehingga keselamatan siswa menjadi perhatian utama.
 
"Kami semua pembelajarannya tetap pagi. Satu kali jalan, mengingat kondisi anak-anak kami ini zona di wilayah timur," katanya.
 
Di tengah segala keterbatasan itu, sekolah tidak ingin kehilangan waktu belajar. Terlebih bagi siswa kelas IX yang sebentar lagi menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
 
Bagi sekolah, kegiatan belajar di tenda bukan sekadar solusi sementara. Di sana ada upaya untuk memastikan 618 siswa tetap memiliki ruang untuk belajar, bertemu guru, dan mempersiapkan masa depan mereka meski ruang kelas mereka belum dapat digunakan.
 
Namun, tenda tetaplah tenda. Ia bukan pengganti permanen sebuah sekolah. Mari berharap Pemerintah Daerah dapat melihat kondisi sekolah dan mempercepat pembangunan kembali gedung yang rusak sehingga para siswa tidak terlalu lama belajar dalam kondisi darurat.
 
"Harapan saya, Pemda mungkin bisa melihat kondisi kami seperti ini. Sehingga Pemda bisa berupaya lebih cepat membangunkan sekolah. Sehingga jangan lama-lama kami berada di luar," harapnya.
 
Di antara retakan dinding dan tenda yang sedang dibangun, proses pendidikan SMPN 1 Maumere terus berjalan. Gempa boleh membuat ruang kelas mereka tak lagi aman, tetapi tidak boleh membuat langkah 618 siswa untuk terus belajar ikut berhenti.

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>