Maumere: Di tengah deru angin malam posko pengungsian Sikka dan hiruk-pikuk langkah kaki relawan, ada satu suara yang menolak ikut goyah. Suara anak-anak mengeja ayat suci yang berpadu dengan debu malam, menjadi satu-satunya ritme yang membawa pulang rasa tenang ke kepala mereka yang sempat dihantam panik.
Surah An-Naba menjadi pembuka kegiatan mengaji malam ini di Posko GOR Samador, Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dipandu oleh ustaz mereka dengan lantang melafalkan surah yang mengawali Juz ke-30 itu.
Meski tidak sampai ayat ke-40 anak-anak sangat antusias meski tanpa membaca dari mushaf, mereka mencoba mengingat hafalannya dan mengikuti panduan dari ustaz.
Setelah membaca surah An-Naba, ustaz dan ustazah membagi kelompok sesuai tingkatan. Ada yang Iqro 1 ada yang juga sudah membaca Mushaf Al-Qur'an
Meski situasi riuh dan berbarengan dengan kegiatan makan malam mereka tetap fokus mengikuti instruksi yang diberikan.
Pada sesi yang dipandu ustaz dan ustazah dari Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama anak-anak belajar mengenal huruf hijaiyah dan Makharijul huruf–tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyah saat dilafalkan.
Hamdan Fadilah, salah satu anak yang ikut dalam pembelajaran ini merasa senang bisa tetap mengaji meski di pengungsian. Nyala lampu yang terang berkat kelistrikan yang sudah pulih dan bantuan air bersih sangat membantu kegiatan salat dan mengaji di malam hari.
“Senang bisa mengaji lagi bersama-sama. Membaca Alquran kan sudah takdirnya. Jadi mau bagaimana pun harus mengaji,” ungkapnya.
(Anak-anak menyimak penjelasan tentang surat An-Naba. Foto: Medcom
id/Syahrul Ramadhan)
Kegiatan mengaji ba'da Maghrib ini merupakan kolaborasi Kementerian Sosial melalui Layanan Dukungan Psikososial yang berkolaborasi dengan relawan. Mulai Sabtu malam, Penyuluh Agama Kementerian Agama juga ikut membantu untuk pembelajaran.
Yamah salah satu Penyuluh Agama Islam Kemenag menjelaskan dalam kegiatan mengaji nantinya bisa menjadi bekal bagi anak-anak.
“Selama mengaji di sini harapannya ada yang dibawa ketika nanti kembali ke rumah. Bisa hafal satu surah yang agak panjang, An-Naba misalnya,” jelas Yamah.
Meski di tengah keterbatasan dengan beralaskan terpal Yamah mengaku senang dengan semangat anak-anak membaca Al-Qur'an. Ia pun berharap nantinya ada bantuan meja untuk anak-anak mengaji.
Maumere: Di tengah deru angin malam posko pengungsian Sikka dan hiruk-pikuk langkah kaki relawan, ada satu suara yang menolak ikut goyah. Suara anak-anak mengeja ayat suci yang berpadu dengan debu malam, menjadi satu-satunya ritme yang membawa pulang rasa tenang ke kepala mereka yang sempat dihantam panik.
Surah An-Naba menjadi pembuka kegiatan mengaji malam ini di Posko GOR Samador, Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dipandu oleh ustaz mereka dengan lantang melafalkan surah yang mengawali Juz ke-30 itu.
Meski tidak sampai ayat ke-40 anak-anak sangat antusias meski tanpa membaca dari mushaf, mereka mencoba mengingat hafalannya dan mengikuti panduan dari ustaz.
Setelah membaca surah An-Naba, ustaz dan ustazah membagi kelompok sesuai tingkatan. Ada yang Iqro 1 ada yang juga sudah membaca Mushaf Al-Qur'an
Meski situasi riuh dan berbarengan dengan kegiatan makan malam mereka tetap fokus mengikuti instruksi yang diberikan.
Pada sesi yang dipandu ustaz dan ustazah dari Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama anak-anak belajar mengenal huruf hijaiyah dan Makharijul huruf–tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyah saat dilafalkan.
Hamdan Fadilah, salah satu anak yang ikut dalam pembelajaran ini merasa senang bisa tetap mengaji meski di pengungsian. Nyala lampu yang terang berkat kelistrikan yang sudah pulih dan bantuan air bersih sangat membantu kegiatan salat dan mengaji di malam hari.
“Senang bisa mengaji lagi bersama-sama. Membaca Alquran kan sudah takdirnya. Jadi mau bagaimana pun harus mengaji,” ungkapnya.

(Anak-anak menyimak penjelasan tentang surat An-Naba. Foto: Medcom
id/Syahrul Ramadhan)
Kegiatan mengaji ba'da Maghrib ini merupakan kolaborasi Kementerian Sosial melalui Layanan Dukungan Psikososial yang berkolaborasi dengan relawan. Mulai Sabtu malam, Penyuluh Agama Kementerian Agama juga ikut membantu untuk pembelajaran.
Yamah salah satu Penyuluh Agama Islam Kemenag menjelaskan dalam kegiatan mengaji nantinya bisa menjadi bekal bagi anak-anak.
“Selama mengaji di sini harapannya ada yang dibawa ketika nanti kembali ke rumah. Bisa hafal satu surah yang agak panjang, An-Naba misalnya,” jelas Yamah.
Meski di tengah keterbatasan dengan beralaskan terpal Yamah mengaku senang dengan semangat anak-anak membaca Al-Qur'an. Ia pun berharap nantinya ada bantuan meja untuk anak-anak mengaji.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(RUL)