Pengungsi sedang salat di dalam  mushola darurat. (Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)
Pengungsi sedang salat di dalam mushola darurat. (Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)

Teduhnya Tenda Doa: Cerita dari Mushola Posko Pengungsian NTT

Muhammad Syahrul Ramadhan • 28 Agustus 2026 14:01
Ringkasnya gini..
  • Mushola darurat yang dibuat menggunakan tenda Kementerian Sosial dan dilengkapi dengan alas dan sajadah itu diberi nama Al Mu'min.
  • Keberadaan tempat ibadah memberikan ruang untuk berhenti sejenak dari segala kekhawatiran.
  • Ketika kehidupan di luar masih dipenuhi proses pemulihan pascagempa, dari Mushola Al Mumin doa-doa terus mengalir.
Alok: Di tengah riuh aktivitas pengungsian, ada satu tempat yang terasa berbeda. Di antara deretan tenda dan kesibukan para pengungsi memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebuah mushola sederhana berdiri menjadi ruang untuk menenangkan hati.
 
Mushola darurat yang dibuat menggunakan tenda Kementerian Sosial dan dilengkapi dengan alas dan sajadah itu diberi nama Al Mu'min. Meski tidak semegah tempat ibadah pada umumnya, namun bagi para pengungsi, keberadaannya memiliki arti yang jauh lebih besar.
 
Di tempat inilah mereka bisa kembali menjalankan ibadah, menundukkan kepala, dan memanjatkan doa setelah melewati hari-hari penuh kecemasan akibat gempa.

Bagi Yulia, salah seorang pengungsi di GOR Samador, kehadiran Mushola Al Mukmin menjadi salah satu hal yang membuatnya merasa lebih tenang selama berada di pengungsian.
 
“Dengan adanya mushola ini, kami bisa sholat dan memanjatkan doa. Jadi walaupun berada di pengungsian, kami tetap bisa menjalankan ibadah dengan nyaman,” ujar Yulia.
 
Mushola tersebut menjadi ruang bersama bagi para pengungsi. Ketika waktu salat tiba, aktivitas di sekitar tenda sejenak berubah. Mereka yang sebelumnya sibuk berbincang, beristirahat, atau mengurus kebutuhan keluarga, beranjak menuju mushola.
 
Tidak hanya sebagai tempat melaksanakan salat, Mushola ini juga menjadi ruang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Doa-doa dipanjatkan dengan harapan agar keadaan segera membaik, keluarga selalu diberikan keselamatan, dan mereka dapat kembali ke rumah dengan kondisi yang lebih baik.
 
Bagi sebagian pengungsi, berada di tenda pengungsian bukanlah sesuatu yang mudah. Mereka harus meninggalkan rumah sementara karena kondisi bangunan yang terdampak gempa. Rasa khawatir, lelah, dan ketidakpastian menjadi bagian dari keseharian.
 
Di tengah kondisi tersebut, keberadaan tempat ibadah memberikan ruang untuk berhenti sejenak dari segala kekhawatiran. Ini seperti yang diraskan Yulia dan para pengungsi lainnya, mushola bukan sekadar fasilitas di tengah posko. Ia menjadi tempat untuk menjaga rutinitas ibadah sekaligus menumbuhkan harapan.
 
Ketika kehidupan di luar masih dipenuhi proses pemulihan pascagempa, dari mushola berwarna putih ini doa-doa terus mengalir. Doa agar mereka tetap kuat, agar keluarga tetap dalam lindungan Tuhan, dan agar suatu hari nanti mereka dapat meninggalkan tenda pengungsian dan kembali menjalani kehidupan seperti sediakala.
 
Di tengah keterbatasan, Mushola Al Mumin mengajarkan satu hal sederhana: ketika banyak hal harus ditinggalkan sementara, keyakinan dan harapan tetap dapat menjadi tempat untuk berpulang.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>