Jakarta: Jakarta tidak lagi cukup dikembangkan sebagai kota yang melebar secara horizontal. Pemerintah ingin mengubah ibu kota menjadi kota yang lebih vertikal dengan mengoptimalkan pembangunan gedung dan kawasan hunian dekat pusat aktivitas masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan konsep tersebut penting untuk mendukung transformasi Jakarta menjadi kota global yang memiliki daya saing internasional. Hal itu disampaikannya dalam Fire Chat Kearney at 100, Jakarta at 500: Shaping the Next Global City Together pada Rabu, 28 Oktober 2026.
“Jakarta itu sebetulnya tidak bisa lagi menjadi flat city. Jakarta itu harus menjadi kota yang naik ke atas semua. Dan kota yang naik ke atas, vertikal ini tentunya memudahkan masyarakat untuk bisa tinggal dekat dengan tempat kerjanya,” ujar Airlangga, dilansir dari laman Kemenko Bidang Perekonomian RI pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Baca Juga :
Dihadiri 25 Ribu Turis Asing, Konser Ye Putar Ekonomi Jakarta Rp600 Miliar
Jakarta Menuju Kota Global, Transportasi dan Pusat Keuangan Diperkuat
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur transportasi perkotaan, termasuk MRT dan LRT yang telah didukung sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Pengembangan konektivitas dan integrasi antarmoda juga diharapkan mempermudah mobilitas masyarakat serta menghubungkan berbagai pusat kegiatan ekonomi di Jakarta dan sekitarnya.
Selain transportasi, Jakarta juga diarahkan menjadi pusat keuangan internasional melalui inisiatif international financial center. Langkah ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi, memperkuat sektor jasa keuangan, dan meningkatkan posisi Indonesia dalam jaringan keuangan global.
Pengembangan tersebut turut membutuhkan lingkungan perkotaan yang layak huni. Pemerintah menyoroti penanganan sampah, pengendalian banjir, dan penyediaan infrastruktur dasar.
Konektivitas Jakarta dengan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) juga perlu diperkuat agar mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi kawasan lebih merata.
Baca Juga :
Pramono Ingin Jakarta Jadi Rumah Kreatif, Perusahaan Film hingga Kreator Muda Disorot
Ekonomi Digital hingga Pariwisata Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Di luar infrastruktur, pemerintah melihat pariwisata dan ekonomi digital sebagai sektor yang berpotensi memperkuat perekonomian Jakarta. Penyelenggaraan kegiatan internasional, peningkatan daya tarik destinasi, dan pengembangan akomodasi diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan usaha terkait.
Sementara itu, pertumbuhan pusat data di sekitar Jakarta menunjukkan peluang besar dalam pengembangan ekonomi digital. Namun, potensi tersebut perlu didukung infrastruktur teknologi, sumber daya manusia yang kompeten, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi.
Pemerintah juga berupaya memperluas akses pasar internasional bagi produk Indonesia melalui penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan, termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kerja sama ini diharapkan membuka peluang lebih besar bagi industri nasional untuk masuk ke rantai nilai global.
Di sisi lain, pemerintah tetap mendorong daya beli masyarakat melalui berbagai program bantuan dan potongan harga. Airlangga menyebut diskon diberikan untuk sejumlah moda transportasi, seperti pesawat, kereta api, dan kapal laut, serta program Jakarta Great Sale dengan potongan harga hingga 70 persen.
“Kita juga memberikan diskon untuk pesawat terbang, kita diskon untuk kereta api, kita diskon juga untuk kapal laut, kemudian juga diskon-diskon yang kita mendukung di Jakarta Great Sale, dimana diskonnya bisa sampai 70 persen,” ujarnya. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jakarta: Jakarta tidak lagi cukup dikembangkan sebagai kota yang melebar secara horizontal. Pemerintah ingin mengubah ibu kota menjadi kota yang lebih vertikal dengan mengoptimalkan pembangunan gedung dan kawasan hunian dekat pusat aktivitas masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan konsep tersebut penting untuk mendukung transformasi Jakarta menjadi kota global yang memiliki daya saing internasional. Hal itu disampaikannya dalam Fire Chat Kearney at 100, Jakarta at 500: Shaping the Next Global City Together pada Rabu, 28 Oktober 2026.
“Jakarta itu sebetulnya tidak bisa lagi menjadi
flat city. Jakarta itu harus menjadi kota yang naik ke atas semua. Dan kota yang naik ke atas, vertikal ini tentunya memudahkan masyarakat untuk bisa tinggal dekat dengan tempat kerjanya,” ujar Airlangga, dilansir dari laman
Kemenko Bidang Perekonomian RI pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Jakarta Menuju Kota Global, Transportasi dan Pusat Keuangan Diperkuat
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur transportasi perkotaan, termasuk MRT dan LRT yang telah didukung sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Pengembangan konektivitas dan integrasi antarmoda juga diharapkan mempermudah mobilitas masyarakat serta menghubungkan berbagai pusat kegiatan ekonomi di Jakarta dan sekitarnya.
Selain transportasi, Jakarta juga diarahkan menjadi pusat keuangan internasional melalui inisiatif international financial center. Langkah ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi, memperkuat sektor jasa keuangan, dan meningkatkan posisi Indonesia dalam jaringan keuangan global.
Pengembangan tersebut turut membutuhkan lingkungan perkotaan yang layak huni. Pemerintah menyoroti penanganan sampah, pengendalian banjir, dan penyediaan infrastruktur dasar.
Konektivitas Jakarta dengan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) juga perlu diperkuat agar mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi kawasan lebih merata.
Ekonomi Digital hingga Pariwisata Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Di luar infrastruktur, pemerintah melihat pariwisata dan ekonomi digital sebagai sektor yang berpotensi memperkuat perekonomian Jakarta. Penyelenggaraan kegiatan internasional, peningkatan daya tarik destinasi, dan pengembangan akomodasi diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan usaha terkait.
Sementara itu, pertumbuhan pusat data di sekitar Jakarta menunjukkan peluang besar dalam pengembangan ekonomi digital. Namun, potensi tersebut perlu didukung infrastruktur teknologi, sumber daya manusia yang kompeten, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi.
Pemerintah juga berupaya memperluas akses pasar internasional bagi produk Indonesia melalui penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan, termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kerja sama ini diharapkan membuka peluang lebih besar bagi industri nasional untuk masuk ke rantai nilai global.
Di sisi lain, pemerintah tetap mendorong daya beli masyarakat melalui berbagai program bantuan dan potongan harga. Airlangga menyebut diskon diberikan untuk sejumlah moda transportasi, seperti pesawat, kereta api, dan kapal laut, serta program Jakarta Great Sale dengan potongan harga hingga 70 persen.
“Kita juga memberikan diskon untuk pesawat terbang, kita diskon untuk kereta api, kita diskon juga untuk kapal laut, kemudian juga diskon-diskon yang kita mendukung di Jakarta Great Sale, dimana diskonnya bisa sampai 70 persen,” ujarnya.
(Wisa Irena Br Sitepu)
(ANN)