Kesaksian Pejabat Lippo Group Tak Sinkron

Fachri Audhia Hafiez 14 November 2018 18:27 WIB
OTT Pejabat Bekasi
Kesaksian Pejabat Lippo Group Tak Sinkron
Juru bicara KPK Febri Diansyah - MI/Rommy Pujianto.
Jakarta: Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengingatkan saksi kasus dugaan suap perizinan Meikarta jujur dalam memberi keterangan. Lembaga Antirasuah menemukan adanya keterangan yang tidak sinkron antara pejabat dan pegawai Lippo Group.

"Kami ingatkan pada saksi agar memberikan keterangan secara benar dan pada pihak lain agar tidak berupaya memengaruhi keterangan saksi-saksi tersebut," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Rabu, 14 November 2018.

Febri tak memerinci orang-orang yang dianggap memberikan keterangan tidak benar. Tapi, dia menegaskan ada ancaman pidana yang diterima bila para saksi tidak memberikan keterangan secara benar.


Aturan itu tertuang pada Pasal 22 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. "Selain itu juga ada ketentuan larangan melakukan perbuatan obstruction of justice (menghalangi penyidikan) di Pasal 21 UU Tindak Pidana Korupsi tersebut," ujar Febri.

Hari ini KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap lima saksi terkait kasus dugaan suap pengurusan perizinan pembangunan proyek Meikarta di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Salah satu yang diperiksa ialah Sekretaris Pribadi eks Presiden Direktur Lippo Cikarang (LPCK) Toto Bhartolomeus, Melda.

Selain Melda, KPK juga memanggil empat orang lain. Mereka yakni Kasi Pemanfaatan Ruang Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat Yani Firman; Kabid Fisik pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Slamet; Kabid Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi Dodi Agus; dan pihak swasta Achmad Bachrul Ulum.  

(Baca juga: KPK Kantongi Bukti Skandal Lippo Group di Meikarta)

Meikarta merupakan salah satu proyek prestisius milik Lippo Group. Penggarap proyek ini ialah PT Mahkota Sentosa Utama yang merupakan anak usaha dari PT Lippo Cikarang Tbk. PT Lippo Cikarang Tbk berada di bawah naungan Lippo Group.

Sumber uang suap Meikarta ditelisik KPK yang diduga berasal dari Lippo Group. Tercatat, mereka dari Lippo Group yang sudah dimintai keterangan terkait hal ini antara lain Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, CEO Lippo Group James Riady, dan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Toto Bartholomeus.

Kemudian Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Ketut Budi Wijaya, Corporate Affairs Siloam Hospital Group Josep Christoper Mailool, Direktur Keuangan PT LippoCikarang Tbk Soni dan Direktur Keuangan PT Lippo Karawaci Tbk Richard Setiadi.

Teranyar, giliran Direktur Keuangan PT Mahkota Sentosa Utama (PT MSU) Hartono diperiksa penyidik. Dari semua pemeriksaan itu, terungkap juga adanya pertemuan-pertemuan antara petinggi Lippo Group dengan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin.

Mereka di antaranya, James Riady dan Eddy Sindoro yang mengaku dua kali bertemu Neneng. Pertemuan pertama dilakukan untuk memberi selamat atas persalinan Neneng. Sedangkan pada pertemuan kedua, Eddy dan Neneng membahas soal pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam di Meikarta.

Dalam kasus ini, Billy Sindoro diduga memberikan uang Rp7 miliar kepada Neneng dan anak buahnya. Uang itu diduga bagian dari fee yang dijanjikan sebesar Rp13 miliar terkait proses pengurusan izin proyek Meikarta.

(Baca juga: Suap Meikarta Demi Kepentingan Lippo Group)
 



(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id