Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Basaria Panjaitan. Foto: Antara/Hafidz Mubarak
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Basaria Panjaitan. Foto: Antara/Hafidz Mubarak

PT Inersa Jadi ` Brankas ` Suap Bowo Sidik

Nasional OTT KPK
Juven Martua Sitompul • 29 Maret 2019 16:14
Jakarta: KPK menyita 84 kardus berisi uang Rp8 miliar pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu dari PT Inersa. Perusahaan itu milik Anggota Komisi VI DPR RI dari fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.
 
Informasi awal, uang itu akan digunakan Bowo untuk serangan fajar di Pemilu 2019. Bowo merupakan calon legislatif (caleg) petahana Golkar dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah II sekaligus Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Tengah I kepengurusan DPP Golkar.
 
"‎Yang di amplop ini ditemukan di satu tempat, di satu ruangan yaitu di PT Inersia," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis, 29 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Basaria belum mau berkomentar lebih jauh apakah uang suap itu bakal digunakan Bowo untuk kepentingan Partai Golkar. Dia baru bisa memastikan jika uang suap akan digunakan untuk kepentingan pribadi, yakni modal pencalonannya sebagai wakil rakyat.
 
"Untuk sementara dari hasil pemeriksaan tim kita, beliau mengatakan ini memang dalam rangka kepentingan logistik pencalonan dia sendiri sebagai anggota DPR," pungkasnya.
 
Sebagian dari total suap Rp8 miliar yang diterima Bowo merupakan fee pengangkutan distribusi pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK). Sisanya, Bowo diduga menerima kucuran suap dari sejumlah perusahaan untuk proyek-proyek lain.
 
"Hasil pemeriksaan sementara ini (uangnya) tidak semuanya dari PT HTK, nanti dari mana saja masih dalam pengembangan," pungkasnya.
 
Baca: Duit Suap Bowo Diduga untuk 'Serangan Fajar'
 
Bowo bersama Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti dan pejabat PT Inersia, Indung ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerja sama pengangkutan pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT HTK. Bowo dan Idung sebagai penerima sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya angkut. Total fee yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Fee diduga sudah diberikan sebanyak enam kali di sejumlah tempat, seperti di rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD85,130.
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif