Gedung KPK. Foto: Medcom.id/Fachrie Audhia Hafiez.
Gedung KPK. Foto: Medcom.id/Fachrie Audhia Hafiez.

2 Kadis di Ambon Diperiksa Terkait Korupsi Richard Louhenapessy

Nasional KPK Kasus Suap kasus korupsi Pemberantasan Korupsi Richard Louhenapessy
Fachri Audhia Hafiez • 14 Mei 2022 17:19
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa dua kepala dinas (kadis) dalam perkara dugaan korupsi yang menjerat Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy (RL). Keduanya adalah Kadis Pendidikan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon Fahmi Sallatalohy dan Kadis PUPR Kota Ambon periode 2018-2021, Enrico Rudolf Matitaputty.
 
"Diperiksa sebagai saksi di Kantor Mako Brimob Polda Maluku," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Sabtu, 14 Mei 2022.
 
KPK juga memeriksa sejumlah saksi lainnya yakni, Kasie Usaha Industri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkot Ambon, Firza Attamimi; anggota Pokja III Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa (UKPBJ) Kota Ambon periode 2017-2020, Hendra Victor Pesiwarissa; serta anggota Anggota Pokja II UKPBJ 2020 Ivonny Alexandra W Latuputty dan Johanis Bernhard Pattiradjawane.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selanjutnya, License Manager PT Midi Utama Indonesia Tbk Cabang Ambon, Nandang Wibowo dan Direktur PT Kristal Kurnia Jaya, Julian Kurniawan. Keterangan para saksi dibutuhkan untuk membongkar kasus rasuah yang menjerat Richard.
 
Richard ditetapkan tersangka kasus dugaan suap terkait persetujuan izin prinsip pembangunan cabang retail di Ambon pada 2020. Dia juga ditetapkan sebagai tersangka gratifikasi.
 
Dua pihak juga ditetapkan sebagai tersangka yakni, Staf Tata Usaha Pimpinan pada Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, Andrew Erin Hehanussa (AEH) dan karyawan Alfamidi Kota Ambon, Amri (AR). Amri masih dinyatakan buron.
 
Baca: Ditahan KPK, Wali Kota Ambon Punya Harta Rp12,4 Miliar
 
Richard diduga mematok Rp25 juta kepada Amri untuk menyetujui dan menerbitkan dokumen izin ritel. Dokumen itu berupa Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
 
Selain itu, Amri juga mengguyur Richard sebesar Rp500 juta. Fulus itu untuk penerbitan persetujuan prinsip pembangunan untuk 20 gerai usaha retail. Uang diberikan bertahap melalui Andrew.
 
KPK juga mengendus Richard menerima aliran sejumlah dana dari berbagai pihak sebagai gratifikasi. Namun, hal itu masih didalami lebih lanjut oleh tim penyidik KPK.
 
Amri disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
Sedangkan, Richard dan Andrew disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 dan pasal 12 B Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif