Wakil Ketua KPK Saut Situmorang - MI/Rommy Pujianto.
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang - MI/Rommy Pujianto.

KPK Bidik Pupuk Indonesia di Kasus Bowo Sidik

Nasional OTT KPK
Juven Martua Sitompul • 23 April 2019 08:51
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami dugaan adanya keterlibatan pihak korporasi dalam kasus dugaan suap kerja sama distribusi pupuk. Salah satu yang tengah ditilik keterlibatannya adalah PT Pupuk Indonesia (Persero).
 
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengaku pihaknya telah mengendus dugaan peran Pupuk Indonesia sejak kasus ini diekspose. Pimpinan telah meminta timnya menelisik peran korporasi dalam memuluskan kontrak kerja sama pengangkutan pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik dan PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) tersebut.
 
"Penyidik akan mendalaminya, karena waktu ekspose kasus tersebut selesai OTT memang ada pertanyaaan ke pada para penyelidik tentang hal itu," kata Saut saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa, 23 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dugaan adanya peran korporasi dalam kasus ini mencuat usai penyidik memeriksa sejumlah pejabat PT Pupuk Indonesia dan anak perusahaannya PT Pupuk Logistik. Penyidik bahkan melanjutkan pengusutan dengan menggeledah kantor PT Pupuk Indonesia di Gedung Pusri, Jakarta.
 
Sayangnya, Saut masih menjawab diplomatis saat disinggung peran PT Pupuk Indonesia dari hasil pemeriksaan dan penggeledahan tersebut. Publik diminta bersabar menunggu hasil pendalaman penyidik.
 
(Baca juga:KPK Masih Pelajari Kepentingan Nusron di Kasus Bowo Sidik)
 
"Kita tunggu saja seperti apa kaitannya, nanti biar didalami penyidik," pungkas dia.
 
Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso bersama Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti; dan pejabat PT Inersia, Indung ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap kerjasama pengangkutan pupuk. Bowo dan Idung sebagai penerima sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya angkut. Total fee yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Diduga telah terjadi enam kali menerima fee di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD85,130.
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif